Membaca Ulang Hadis dalam Analisis Sosiologis

Ni’matur Rohmah

Mahasiswi Ilmu Hadis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

 

Sebagai Umat Islam kita sudah mengetahui bahwa hadis merupakan sumber hukum kedua setelah al-Qur’an. Di dalamnya terdapat banyak hukum atau sunnah yang apabila kita menaatinya akan mendapatkan berkah dari-Nya. Mulai dari perkataan beliau, perbuatan dan ketetapan Rasulullah sudah termaktub dalam hadis. Fungsi hadis pun salah satunya adalah menjelaskan hal yang masih global dalam ayat suci al-Qur’an, dari sini kita dapat melihat betapa pentingnya kedudukan hadis bagi umat Islam.

Sesuatu yang sudah jelas diterangkan dalam hadis sudah layaknya kita jadikan panduan dalam menjalankan segala aktivitas di dunia ini karena hal  itu sudah sesuai dengan syariat Islam. Namun perlu kita garis bawahi juga bahwa tidak semua hadis  dapat diterima begitu saja atau bahkan langsung dipraktekkan tanpa melihat makna yang sebenarnya, karena ada sebagian hadis yang ada karena kultur budaya pada masa itu yang terbatas oleh ruang dan waktu.

Dengan fenomena seperti itu, kita tidak dapat melihat suatu hadis dengan cara tekstual saja, memahaminya kita dapat menggunakan metode kontekstual agar dapat selaras dengan zaman sekarang. Sebelumnya, saya akan sedikit menjelaskan tentang apa itu pemahaman tekstual dan apa itu pemahaman kontekstual dalam hadis. Pemahaman tekstual merupakan pemahaman yang didasarkan terhadap metode ulama klasik yang bertolak ukur pada kaidah-kaidah dalam Ulumul Qur’an, Ulumul Hadis dan Ushul Fiqih. Maksud dari metode ini adalah dalam membongkar makna yang terkandung dalam hadis menggunakan teks semata, tanpa memperhatikan situasi dan kondisi sekitar.

Sebaliknya, pemahaman secara kontekstual adalah metode pemahaman yang tidak hanya bertumpu pada teks saja, melainkan juga memperhatikan keadaan pada saat hadis tersebut turun, bagaimana latar belakangnya dan bagaimana mengintegrasikannya di zaman sekarang. Dengan melihat pada zaman modern saat ini perlu adanya korelasi atau hubungan antara satu ilmu dengan ilmu lainnya dengan dimensi yang berbeda.

Ilmu Hadis yang notabenenya berdimensi ketuhanan dan bersifat pasif dapat disandingkan dengan ilmu-ilmu lainnya. Dan kali ini karena saya akan membahas tentang hadis berkaitan dengan manusia, maka kita dapat menghubungkannya dengan ilmu sosial yang berdimensi kemanusiaan. Penggabungan dua ilmu yang berbeda dimensi pada hakikatnya untuk mendapatkan suatu makna hadis yang selaras dengan zaman modern seperti saat ini tanpa mengurangi atau mengecilkan perannya masing-masing.

Dalam penelitian atau penafsiran hadis selain menggunakan metode kritik (naqd) atau jarh dan ta’dil, kita juga harus menelaah makna tersebut dengan seksama. Membongkar bagaimana latar belakang hadis tersebut dan bagaimana kita harus mengintegrasikan pada zaman modern. Melihat kesejarahan nabi zaman dulu dengan saat ini berbeda jauh, maka harus di integrasikan terhadap ilmu yang muncul di zaman modern.

Hal ini dimaksudkan agar perkembangan terhadap ilmu tidak stagnan serta dapat berjalan selaras dengan perkembangan zaman. Salah satu tulisan yang membicarakan tentang ini adalah tulisan dari Nizar Ali yang terfokus pada bagaimana cara memahami hadis musykil melalui pendekatan-pendekatan historis dan sosiologis.

Penggabungan dua ilmu yang berbeda dimensi memungkinkan akan terjadinya perubahan, perumusan kembali bahkan terjadinya nasikh dan mansukh terhadap suatu hadis. Dan kali ini kita akan membahas tentang bagaimana  suatu hadis yang harus dipahami secara kontekstual, salah satunya adalah hadis berkaitan dengan memakai sandal pada saat di masjid. Seperti yang kita ketahui bahwa sandal merupakan alas kaki untuk melindungi kaki kita dari kotoran atau najis, bahkan Nabi Muhammad sendiri sampai memakai sandal pada saat sholat di masjid. Kita bisa melihatnya pada kitab al Jami’ Shohih, No. Hadis 386 :

قال : سألت أنس بن مالك أكان النّبيّصىى اللّه عليه وسلّم يصلّي في نعليه قال نعمز

“Saya (Abu Maslamah) bertanya pada Anas bin Malik : apakah nabi sholat dengan memakai sandalnya? Anas menjawan ‘iya’”

 

Dengan diiringi ilmu sosial yang berdimensi kemanusiaan, kita dapat menggali makna hadis tersebut secara kontekstual. Berawal dengan seperti apa asbabul wurud dari hadis tersebut dan bagaimana cara merealisasikannya di era sekarang. Situasi dan kondisi masjid pada zaman nabi yang masih berupa bangunan terbuka dan beralaskan tanah atau batu yang masih diragukan akan kesucian tempatnya. Kontruksi seperti inilah yang menjadi penyebab hadis tersebut menganjurkan memakai sandal pada saat sholat berlangsung agar tidak terkena najis dan sholat tetap sah.

Kondisi yang seperti ini sudah pasti tidak dapat di selaraskan dengan zaman sekarang khususnya di Indonesia, dimana bangunan masjid sudah lebih maju dan modern dengan beralaskan lantai atau keramik yang sudah dipastikan tempatnya suci dan terhindar dari najis. Pemaknaan seperti ini bertujuan agar hadis dapat diterima secara relevan dalam segala ruang dan waktu.

 1,054 total views,  2 views today

Posted in Kajian.