Setiap Individu adalah Pendidik

Nur Hafidz

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

20204031015@student.uin-suka.ac.id

 

 

Dalam dunia pendidikan kita kenal tugas pendidik ada dua predikat, yaitu guru dan pendidik. Guru merupakan individu yang bertugas mengajar. Meskipun guru dimaknai sebagai pendidik yang dimana guru sebagai  panutan yang baik atau uswahtun hasanah kata ulama dan pewaris nabi. Sedangkan pendidik sebagai  individu yang memiliki kepribadian dalam melakukan tugasnya pendidikan. Dengan demikian, kedua makna pendidik dan guru menjadi Pembina kepribadian, memimpin, dan memelihara. Di sinilah, pendidikan mempunyai internalisasi etika dan ruh yang baik yaitu pengajar dan pembelajaran yang menghadirkan guru dan pendidik dalam kegiatan belajar.

Disisi lain, ada pengalaman saya saat didik oleh guru. Ketika usia 15 tahun saya mendapat tugas menghafal hadis pendek. Semua tema-teman saya mulai menghafal 3-5 hadis hafal diluar kepala. Bahkan lancar saat di tes bersama gurunya. Saya sendiri masih terpaku dalam satu hadis. Berulang kali saya baca, belum hafal juga. Akhirnya guru memanggil satu persatu untuk mengetes. Kini tinggal giliran saya. Sampai depan guru. saya lupa semua, mata merah, gergi dan lain-lain.

Ketika itu guru saya memberi nasihat, coba membaca pelan-pelan, maknai satu-persatu kata-katanya. Lalu ditutup. Saat itu saya melakukan atas perintah guru. Sampai saat sekarang pengalaman ini masih melekat. Barangkali ada doa-doa guru yang melahirkan kekuatan semangat untuk menghafal, barangkali guru sebagai pendidik memiliki hal yang sama jadi saat melihat saya teringat dari pengalaman sebelumnya.

Sesungguhnya ketika guru mengajarkan sesuatu yakinlah bahwa anak-anak kita sedang memperhatikan dan mentransfer ilmu kepadanya. Oleh sebab itu, dalam konteks hadis populer  yaitu,

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَثَلِ الْبَهِيمَةِ تُنْتَجُ الْبَهِيمَةَ

‘‘Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Kemudian kedua orang tuanya yang akan menjadikan anak itu menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi sebagaimana binatang ternak yang melahirkan binatang ternak dengan sempurna.’’ (HR. Bukhari).

Hadis ini mendefinisikan sebagai pendidik mengharapkan anak-anaknya sebagai generasi of change, anak-anak bangsa dengan kebermanfaatannya, kasih sayang orang tua, dan doanya anak-anak menjadi investasi orang tua. Dari sinilah, peran pendidik yang memiliki kelekatan orang tua untuk mewujudkan anak memiliki agama yang baik, akan tetapi penguatan dalam upaya menstimulasi psikis dan kepribadian anak-anak juga terpenuhi. Dengan kesabaran dan kasih sayang guru terhadap anak-anak belajar mewujudkan pengalaman penting dalam generasi selanjutnya. Inilah seharusnya tugas pendidik.

Mendidik merupakan kewajiban orang tua kepada anak-anak yang tidak bisa lepas dari lingkungan keluarga. Sebab, lingkungan keluarga merupakan rumah pertama dalam pendidikan anak sejak dini.  Dengan hal ini, anak-anak belajar sampai tumbuh kembang membutuhkan proses waktu yang lama. Sehingga proses lama ini menjadi kesempatan guru dan pendidik untuk mengoptimalkan.

Sesungguhnya suatu kebaikan atau keburukan orang akan berdampak baik atau buruk bagi dirinya sendiri atau pun orang lain. Dengan hal ini, konsep pendidik selalu memberikan kebermanfaatan dan kebaikan supaya pengalaman-pengalaman yang diserap anak-anak akan dikenang sampai anak dewasa. Dengan demikian, anak-anak akan termotivasi dari pengalaman-pengalaman istimewa melalui aktivitas pendidik. Kebutuhan anak-anak akan terpenuhi jika kesempatan dan kebebasan anak selalu berekspesi, bergerak, serta bermain menyenangkan secara optimal.

Di sinilah, konsep hadis diatas bagaimana orang tuanya mendidik itu seperti yahudi atau nasrani atau majusi. Artinya orang tua dan guru memberikan baik atau buruk akan berdampak setelah anak menginjak usia 7 tahun ke atas. Sebab, anak usia dari 0 sampai 6 tahun merupakan usia golden age yang membutuhkan tumbuh kembang yang optimal. Ada kata pepatah menarik yang diucapkan oleh guru kepada anak-anak, pendidik yang hebat adalah pendidik yang mendidik anak-anaknya menjadi lebih hebat dari pada pendidiknya, sedangkan anak-anak yang hebat adalah anak-anak yang tidak merasa dirinya lebih hebat dari pada gurunya. Artinya kebebasan anak-anak akan menjadi hebat ketika pendidik memberi peluang penuh kepada anak-anaknya.

Dengan demikian, pengalaman dari seorang guru merupakan hal-hal yang menakjubkan bagi anak sehingga kesempatan dari pengalaman membawa diri kita sampai kejadian yang sama. Pengalaman menghafal hadis sampai berkali-kali belum hafal sampai mendapat nasihat dari guru. pengalam guru yang sabar dan ikhlas dalam mengajarkan hadis dalam membuka wawasan baru. Diri sinilah, proses edukatif dengan berbagai dinamika spiritual yang berfokus dalam suatu proses pendidikan yang berorientasi pada kebahagiaan dunia dan akhirat dalam memposisikan kejadian individu sebagai pendidik.

 2,596 total views,  4 views today

Posted in Opini.