Mengenkulturasi Semangat Belajar Imam Bukhari Kepada Anak Usia Dini dengan Keteladanan

Cesilia Prawening

 

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

20204031014@student.uin-suka.ac.id

 

Perintah untuk belajar untuk seluruh umat manusia di muka bumi sudah termaktub dalam kitab Al Quran dan Al Hadits. Tidak peduli itu laki-laki ataupun perempuan, orang kaya ataupun orang miskin, anak kecil ataupun orang tua. Semua dianjurkan oleh Allah dan Rasul untuk bersedia belajar. Belajar juga tidak melulu pada sebuah lembaga sekolah, karena belajar dapat diperoleh dimanapun, kapanpun, dan kepada siapapun. Niscaya, setiap Allah memepertemukan satu orang dengan yang lainnya bukan karena suatu kebetulan akan tetapi karena pertemuan antar kedua orang tersebut akan membawa pelajaran satu sama lain dan ditakdirkan untuk saling belajar satu sama lain.

 

Cinta belajar seumur hidup perlu ditanamakan secara kuat kepada masing-masing individu. Bahkan sejak individu tersebut sedang berada di dalam kandungan hingga akhir hayatnya. Sebagaimana sosok periwayat hadits yang satu ini dengan kesungguhannya dalam belajar dan menuntut ilmu hingga ia menjadi sosok ahli hadis termasyhur dilakukan oleh Imam besar bernama Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al Mughiroh bin Bardizbah Al Ju’fi atau yang termasyhurnya ada lah beliau Imam Bukhari. Terlahir dengan kecerdasan yang luar biasa merupakan sosok teladan bagi umat manusia yang patut untuk ditiru. Sosok yang senang belajar, tekun dan teliti, senang berguru kepada siapapun, berburu ilmu kemanapun ia bisa pijaki, penghafal yang hebat, dan tentunya sosok ahli ibadah.

 

Mengakar kuatkan semangat belajar tentu tidak bisa secara tiba-tiba. Ibarat pohon yang memiliki akar pohon yang kuat saja membutuhkan proses dan waktu yang sangat panjang, begitu pula proes pengakaran semangat belajar pada manusia. Apabila dirunut dari evektivitas mengakar kuatkan semangat belajar pada manusia dapat dimulai sejak anak anak usia dini. Pendidikan keluarga sebagai lembaga pendidikan informal memiliki peranan yang cukup besar dalam hal ini. Menanamkan dan mendampingi anak untuk menciptakan benih-benih semangat belajar jatuh pada peranan orang tua sebagai pemangku pertama dan utama dalam pendidikan anak usia dini. Berbagai hal dapat dilakukan oleh orang tua dalam memberikan pendidikan untuk menciptakan generasi yang semangat dan cinta belajar dengan meneladani sikap dan sifat sosok Imam Bukhari melalui suatu pembudayaan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Kenalkan buku sejak dini. Buku sebagai salah satu lambang ilmu. Buku adalah jendela dunia. Orang tua sudah dapat membacakan buku kepada anak sejak mereka usia dini bahkan sejak dalam kandungan. Saat anak terbiasa bercengkrama dengan buku dan saat anak terbiasa dengan isi cerita dalam buku anak-anak perlahan mencintai buku dan isinya. Ajak anak untuk berdiskusi, terbiasa tanya jawab sebagai penananaman anak untuk mau berpikir kritis. Dari sini lah ilmu mulai dicintai oleh anak hingga dewasa. Mengapa harus di usia dini? Karena masa usia dini disebut sebagai masa keemasan, dimana segala hal yang didapat oleh anak akan menjadi pijakan dan akan menjadi pondasi kuat dirinya dalam pertumbuhan dan perkembangannya kedepan.

 

Tanamkan sikap gigih pada anak. Disaat anak mendapatkan permasalahan dalam melakukan aktivitas kesehariannya, berikan waktu dan ruang kepada anak untuk dapat menyelesaikan permasalahannya sendiri selagi tidak membahayakan untuk anak. Untuk menjadikan mereka mau bekerja jkeras dan gigih untuk menyelesaiakn suatu permasalahan, beri apresiasi kepada anak terhadap segala usaha penyelesaian masalah pada dirinya. Saat anak termotivasi untuk mendapatkan reward dari orang tua maka mereka akan bersemangat menyelesaiakan segala hal yang menimpa dirinya. Saat sudah terbntuk kegigihan dalam diri anak, maka anak akan tertanam kuat kegigihannya dalam menuntut ilmu.

 

Kuatkan sisi religious anak. Penanaman sikap dan sifat religious dalam diri anak akan mempermudah orang tua dalam memberikan nasihat, menjadikan anak tawadu terhadap ilmu dan guru, dan masih banyak hal positif lainnya yang anak dapat. Bentuk pembiasaan yang dapat diterapkan kepada anak usia dini mulai dari membiasakan anak memperdengarkan ayat-ayat suci al quran, mengikutkan anak untuk mengikuti majelis ta’lim, mengikutsertakan anak untuk terbiasa mengaji di mushola, menceritakan kisah-kisah rasul, sahaba, dan ulama yang memeiliki semangat dalam mencari ilmu, memberikan apresiasi setiap anak melakukan perbuatan terpuji dalam melaksanakan kegiatan keislaman.

 

Dari kesemua langkah, tentu ada hal yang lebih penting yakni kesungguhan, doa, dan semangat belajar dari orang tua yang dapat mengantarkan semangat dan kesungguhan belajar pada diri sang anak. Seperti sosok imam Bukhari, peran ibu, kakak, ayah, dan keluarganya lah yang menjadi salah satu faktor keberhasilan dan kebesaran Imam Bukhari. pepatah mengatakan buah tidak jatuh dari pohonnya. Menjadikan pohon yang mengokohkan dirinya sendiri demi menghasilkan buah yang terbaik.

 3,416 total views,  2 views today

Posted in Kajian.