Mengenalkan dan Mengajarkan Hadis-Hadis Shahih Pada Anak Usia Dini

Musyafa Ali

UIN Sunan Kalijaga

20204031013@student.uin-suka.ac.id

 

Nabi Muhammad saw adalah sebaik-baiknya suri tauladan dalam segala aspek,mulai dari tuturkata, perbuatan dan apapun yang dikerjakan menjadi contoh bagi seluruh umatnya. Meskipun perbedaan masa anatara Nabi Muhammad dan umatnya sekarang berbeda sangat teramat jauh, namun tidak ada alasan bagi kita selaku umatnya untuk mengikuti jejak, langkah dan segala perilakunya. Hal ini karena segala perkataan dan perbuatan rasulullah saw telah tercantum dalam berbagai hadis. Sehingga tidak ada lagi alasan untuk tidak menjadikan rasulullah saw sebagai suri tauladan dalam menjalani kehidupan.

 

Rasulullah sebagai suri tauladan harus dikenalkan sejak dini, dengan tujuan agar tertanam rasa cinta di hati anak-anak sejak kecil. Anak usia dini sebagai penerus masa depan harus mulai dikenalkan dengan siapa itu Rasulullah, bagaimana sikapnya, cara bertuturkatanya, sifatnya dan kehidupannya. Sehingga Rasullulah menjadi tokoh yang diidolakan oleh anak, dengan harapan agar anak dapat meneladani akhlak Rasulullah hingga dewasa kelak. Hal ini menjadi penting karena masa kanak-kanak merupakan masa salah satu fase terpenting dalam kehidupan manusia, sehingga saat sejak dini anak sudah menegenal dan meneladani Rasulullah saat dewasa anak menjadi anak yang memiliki akhlak yang terpuji.

Salah satu cara yang dapat di tempuh dalam rangka mengenalkan Rasulullah, baik sikap, perkataan, perilkau dan sifatnya yakni melalui hadis-hadis yang telah diriwayatkan oleh parta perawi. Seperti yang kita ketahuai bahwa hadis merupakan segala sesuatu yang dicatat oleh para sahabat, baik itu berupa perkataan, sifat maupun perbuatan Rasulullah. Dengan mengenalkan hadis pada anak sejak dini, secara tidak langsung juga telah mengenalkan Rasulullah, meskipun sebenarnya masih banyak cara lain untuk mengenalkan dan meneladani Rasulullah.

 

Namun ada hal yang perlu diperhatikan pula baik oleh orangtua ataupun guru dalam mengenalkan dan mengejarkan hadis pada anak. Salah satu aspek penting yang harus diperhatikan yakni kesahihan dari hadis ury sendiri, jangan sampai kita mengenalkan dan mengajarkan hadis yang tidak tahu asal muasal atau kesahihannya. Seperti yang kita ketahui bahwa hadis sahih adalah hadis yang disandarkan pada Nabi saw, yang sanadnya bersambung, dan diriwayatkan oleh perawi yang adil, dan tidak ada kehanggalan. Hadis sahih sering disebut juga hadis yang benar, sah dan tidak ada keraguan didalamnya.

 

Untuk dapat mengetahui hadis tersebut sahih atau tidak, sebelum guru atau orang tua mengenalkan dan mengajarkannya pada anak, orang tua atau guru dapat memperhatikan beberapa hal, diantaranya: sanadnya bersambung sampai ke Nabi saw, periwayat hadis tersebut memiliki sifat adil, hafalanya kuat, dan sifat-sifat perawi lainnya, hadis yang diriwayatkan tidak memiliki kejanggalan atau kecacatan sedikitpun. Selain itu beberapa perawi yang meriwayatkan hadis sahih diantaranya, Bukhori, Muslim, Abu Dawud, At-Turmudzi, Ibnu Majah dan masih banyak lagi.

Adapun hadis-hadis sahih yang daapat dikenalkan dan diajarkan oleh guru pada anak yakni: hadis yang diriwayatkan oleh Muslim tentnag larangan makan atau minum sambil berdiri, hadis ini mengajarkan sekaligus larangan bagi anak untuk makan atau minum sambil berdiri.  Kemudian hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal tentang larangan marah dan imbalannya syurga. Hadis ini mengajarkan anak agar tidak marah-marah, karena marah merupakan perbuatan yang tercela. Selain itu imbalan bagi orang yang dapat menahan marahnya adalah syurga. Hal ini dapat menjadi pembelajaran bagi anak untuk tidak marah.

 

Selain hadis diatas hadis tentang kebersihan juga sering diajarkan, hadis ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrani yang artinya kebersihan adalah sebagian dari iman. Hadis ini mengajarkan anak agtar senantiasa menjaga kebersihan, baik tubuh, maupun lingkunhgannya. Selain itu ada juga hadis tentang tersenyum, hadis ini si riwayatkan oleh Tirmidzi yang artinya senyumanmu di hadapan saudaramu adalah shodaqoh. Hadis ini mengajarkan anak untuk tersenyum saat berjumpa atau bertemu dengan teman, saudara ataupun orang yang dikenal. Dan masih banyak lagi hadis-hadis yang biasa dikenalkan oleh guru atau norang tua pada anak usia dini melalui media lagu atau bernyanyi.

 

Begitu mulianya Rasulullah sehingga kita sebagai umatnya sudah seharusnya mengikuti segala jejak beliau. Setiap perkataan, perbuatan dan sifat beliau yang sudah tertera dalam berbagai hadis sudah sepantasnya kita ikuti. Setiap perkataan dan perbuatan beliau yang tertulis dalam hadis tidak dapat diajarkan secara spontan, akan tetapi perlu ditanamkan, diperkenalkan, dan diajarkan pada anak sejak dini, agar tumbuh pada diri anak dan menjadi sebuah kebiasaan atau karakter pada diri seseorang. Pengenalan dan pengajaran hadis pada anak harus memperhatikan aspek pentibg dari hadis itu sendiri. Yakni ke sahihan dari hadis itu sendiri.

 8,435 total views,  10 views today

Posted in Opini.