Memudarnya Esensi Kesakralan al-Qur’an Digital dalam Aplikasi Muslim Pro

Bagas Maulana Ihza Al Akbar

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

19105030068@student.uin-suka.ac.id

 

Digitalisasi merupakan proses untuk mengubah pola hidup yang awalnya mengandalkan kertas atau lembaran tertentu (hardcopy) menjadi bentuk yang lebih praktis berupa digital atau file (softcopy). Usaha ini sebagai upaya untuk mempermudah manusia menjalankan berbagai kegiatan dalam kehidupan, tak terkecuali untuk mengakses beragam informasi. Salah satu hasil digitalisasi yang mulai banyak dijumpai yaitu berupa majalah, surat kabar, buku, skripsi, jurnal, tesis, disertasi, dan lain sebagainya, dengan berbasis digital atau file, yang bisa diakses baik secara online maupun offline.

 

Produk-produk digitalisasi juga mulai merambah dalam bidang keagamaan, termasuk Islam. Islam sebagai agama universal dengan jargonnya sholihun li kulli zaman memang selayaknya dapat menerima berbagai proses revolusi kehidupan dengan karakteristiknya masing-masing. Sehingga, pada era digital sekarang ini Islam mulai berbenah dengan menggagas beragam upaya digitalisasi berupa aplikasi ataupun software yang berlandaskan ajaran dan nilai keislaman. Berbagai aplikasi tersebut biasanya berkaitan dengan kajian Al-Qur’an, Hadits, atau pokok ajaran Islam lain yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga menghadirkan sebuah maha karya software Islami yang memudahkan umat Islam, khususnya generasi millenial dalam menambah keimanan dan wawasan keislaman.

 

Al-Quran sebagai karya sastra maha agung berupa kalamullah memang telah menjadi mercusuar umat Islam dalam mengkaji berbagai hal yang berkaitan dengan syariat Islam. Dalam perjalanannya, penulisan Al-Qur’an telah mengalami pasang surut pada berbagai fase peradaban Islam. Mulai dari proses awal penyusunan ayat-ayatnya, pemberian harakat, hingga dibukukan menjadi sebuah mushaf induk pada masa khalifah Utsman bin Affan, yang sekaligus menjadi rujukan penulisan dan penerbitan mushaf-mushaf Al-Qur’an setelahnya di berbagai penjuru dunia sampai saat ini. Dengan adanya digitalisasi, Al-Qur’an yang awal mulanya berupa tulisan pada sebuah mushaf, kini telah berubah menjadi tulisan dalam kerangka aplikasi digital. Upaya digitalisasi Al-Qur’an berupa software atau aplikasi tersebut dapat dengan mudah diakses melalui gawai ataupun smartphone yang dimiliki oleh hampir semua orang.

 

Salah satu aplikasi yang terkait dengan digitalisasi Al-Qur’an adalah Muslim Pro. Aplikasi dengan basic keislaman ini pertama kali diluncurkan pada Agustus 2010 oleh perusahaan asal Singapura yaitu Bitsmedia Pte Ltd. Pada awalnya, aplikasi ini hanya dapat diunduh pada platform Apple App Store atau gawai yang berbasis iOS. Sasaran utamanya adalah negara kita, Indonesia yang notebene berpenduduk mayoritas Islam terbesar di dunia. Namun, hal tersebut ternyata hanya menjadi angan belaka karena penggunaan gawai berbasis iOS di Indonesia masih terbilang minim. Sehingga, aplikasi ini justru lebih banyak digunakan oleh penduduk negara-negara Uni Eropa dan Amerika Serikat dengan minoritas beragama Islam. Hal ini terjadi lantaran memang banyak warganya yang menggunakan gawai berbasis iOS. Disamping itu, sulitnya memenuhi kebutuhan akan kajian keagamaan termasuk minimnya masjid dan mubaligh, menjadikan aplikasi Muslim Pro sebagai solusi cerdas untuk mempertebal keimanan di era digital bagi mereka.

 

Aplikasi Muslim Pro ini telah diminati dan menjadi pilihan banyak orang, khususnya umat Islam lantaran ukuran file yang hanya 12,72 MB, terbilang cukup kecil jika dibandingkan dengan software atau aplikasi digital Islami lain. Ditambah dengan beragam fitur yang tersedia semakin melengkapi daya tarik aplikasi ini. Adapun fitur-fitur tertentu dalam aplikasi Muslim Pro meliputi Waktu Shalat, Adzan, Petunjuk Arah Kiblat, Tasbih, Masjid terdekat, Rumah Makan Halal terdekat, Kalender Hijriyyah, Asmaul Husna, Bacaan Syahadat, Kalkulator Zakat, Do’a-do’a, dan Ayat Populer, serta fitur utamanya berupa Al-Qur’an Digital. Maka dari itu, persoalan yang akan kita bahas yaitu mengenai esensi kesakralan Al-Quran digital yang menjadi salah satu fitur dalam aplikasi tersebut.

 

Seperti yang telah kita bahas diatas, Al-Qur’an memang memiliki daya tarik tersendiri berupa tata bahasanya yang sangat indah. Inilah yang juga menjadikan Al-Qur’an mempunyai derajat yang lebih tinggi daripada kitab-kitab selainnya. Sehingga, menjadi hal yang wajar bahwa Al-Qur’an seringkali disakralkan oleh sebagian besar umat Islam. Hal ini terbukti dengan berbagai perlakuan istimewa yang diberikan oleh umat Islam terhadap Al-Qur’an guna menghormati eksistensi kesucian dan kesakralan kitab suci tersebut.

Beberapa diantaranya yaitu ketika membaca Al-Qur’an hendaknya dalam kondisi badan, pakaian, dan tempat yang suci. Dalam memegang Al-Qur’an sebaiknya menggunakan tangan kanan atau kedua tangan yang diangkat sejajar dengan dada. Sangat tidak dianjurkan untuk meletakkan Al-Qur’an di bawah atau sejajar dengan kaki. Hendaknya membaca dengan menghadap kiblat. Menyimpan Al-Qur’an ditempat yang selayaknya. Tidak membawa Al-Qur’an ke tempat-tempat yang kurang terjamin kesuciannya, dan lain sebagainya. Semua itu merupakan bentuk-bentuk pengakuan akan kesakralan Al-Qur’an.

 

Dewasa ini, Al-Quran sebagai kitab yang sakral tersebut telah bertransformasi menjadi sebuah mushaf tak berbentuk dalam bingkai aplikasi digital. Salah satunya adalah Muslim Pro yang menjadi andalan bagi umat Islam saat ini yang mendambakan kepraktisan dalam berbagai hal. Selain berubah secara fisik, secara tidak langsung Al-Quran digital dalam Muslim Pro juga telah merubah sikap dan pola pikir umat Islam sebagai penggunanya. Mereka berpandangan bahwa berwudhu yang menjadi salah satu ritual untuk mensucikan diri sebelum membaca Al-Qur’an dianggap tidak diperlukan karena Al-Qur’an yang dibaca tidak lagi berbentuk tulisan dalam mushaf, melainkan hanya berupa aplikasi Al-Qur’an digital.

 

Tak hanya itu, larangan membawa Al-Qur’an ke tempat-tempat yang kurang terjamin kesuciannya pun turut terabaikan. Kebanyakan pengguna pernah bahkan sering membawa gawai mereka yang berisi Al-Qur’an digital pada aplikasi Muslim Pro ke dalam toilet. Fleksibilitas gawai yang mudah dibawa dan diletakkan dimana saja juga menjadi persoalan yang patut dikaji, mengingat keberadaan Al-Qur’an digital dalam gawai tersebut. Ditambah dengan beragam konten berupa video, gambar, ataupun percakapan yang tidak senonoh dalam sebuah gawai sepertinya turut mengikis kesakralan kitab suci umat Islam tersebut. Ada pula para perempuan yang sengaja membaca Al-Qur’an menggunakan aplikasi Al-Qur’an digital tersebut walaupun sedang dalam keadaan haid.

 

Di sisi lain, aplikasi Al-Qur’an digital dalam Muslim Pro sering malayangkan berbagai macam iklan dengan konten yang beraneka ragam. Kebanyakan dari iklan tersebut bertentangan dengan esensi Al-Qur’an sebagai kitab suci. Bahkan, ada yang menghadirkan konten yang tidak layak dilihat ketika membaca Al-Qur’an. Selain itu, adanya iklan tersebut juga menunjukkan bahwa aplikasi ini tidak sepenuhnya berafiliasi untuk kepentingan keagamaan semata, melainkan juga terselip motif lain berupa materialisme duniawi. Jika berbagai fenomena ini terus terjadi, maka beberapa hal yang menyangkut ritus, etika, maupun larangan dalam membaca Al-Qur’an yang telah dijalankan berabad-abad lamanya, secara bertahap akan mulai ditinggalkan. Sehingga, esensi kesakralan Al-Qur’an perlahan akan sirna dari jiwa serta nurani umat Islam dan yang tersisa hanyalah Al-Qur’an tak bernyawa sebagai ulah digitalisasi.

 2,336 total views,  2 views today

Posted in Kajian.