Resiliensi Keluarga dalam Menghasapi Pandemi Covid-19 Perspektif Hadis

Musyafa Ali (Mahasiswa S2 PIAUD UIN Sunan Kalijaga)

Semenjak kemunculannya hingga saat ini Covid-19 menjadi momok mengerikan bagi umat manusia diseluruh dunia. Virus ini pertama kali dikabarkan muncul di Wuhan Cina, tidak diketahui secara pasti apa penyebab dari munculnya virus ini. Namun hingga saat ini vaksin bagi virus ini belum juga dapat ditemukan, sedangkan jumlah korban akibat virus ini semakin hari semakin bertambah.

Hingga saat ini Indonesia masih menduduki peringkat 10 besar di Asia, dengan jumlah kasus Covid tertinggi. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah dalam rangka meminimalisir penularan virus ini, namun hingga saat ini belum juga dapat menekan angka penularan virus ini. Adapun kebijakan-kebijakan yang keluarkan guna menekankan angka penulran virus ini yakni WFH (Work From Home), belajar dari rumah, menerapkan pola hidup sehat, mengurangi kontak sosial, memakai masker saat bepergian dan lain sebagainya.

Dampak yang diakibatkan oleh virus ini sangat luar biasa, virus ini telah merubah semua unsur tatanan kehidupan manusia. Seluruh bidang dalam kehidupan seketika berubah drastis, mulai dari bidang kesehatan, ekonomi, pendidikan, sosial budaya dan lain sebagainya. Selain itu, secara tidak langsung Covid-19 ini juga merupah pola hidup manusia, mulai dari menjaga jarak dengan orang lain, mengurangi kontak sosial, bahkan melaksanakan segala kegiatan dari rumah.
Bahkan dampak dari Covid-19 ini merambah hingga ke lingkup keluarga. Keluarga sebagai organisasi sosial lingkup terkecil dalam masyarakat harus menyesuaikan pola kehidupan baru. Dimana orang tua harus berperan ganda, selain harus bekerja dari rumah, orang tua juga harus menjadi guru bagi anak-anaknya. Hal ini dikarenakan anak harus belajar dari rumah. Secara tidak langsung orangtua kini memikul dua tanggung jawab dalam waktu yang sama yakni memenuhi kebutuhan ekonomi dan pendidikan dalam keluarga. Fenomena ini akan memunculkan sikap resiliensi bagi orang tua dalam keluarga.

Resiliensi dapat diartikan sebagai sebuah kemampuan beradaptasi atau bertahanan sesorang ketika dihadapkan dengan situasi atau keadaan sulit. Pandangan islam tentang resiliensi yakni kemampuan individu untuk beradaptasi positif dalam menghadapi kemalangan. Dalam hal ini resiliensi dikaitkan dengan situasi dimana pandemi Covid-19 sebagai permasalahan yang harus dihadapi oleh keluarga. Selain Covid-19 sebagai permasalah-permasalhan lain juga akan muncul, seperti halnya ekonomi dan pendidikan.

Permasalahan dalam bidang ekonomi yang harus dihadapi oleh keluarga di masa pandemi ini cukup bervariasi, mulai dari yang di rumahkan atau diberhentikan sampai waktu yang belum ditentukan, bekerja dari rumah, pengurangan jam kerja yang berdampak pada pengurangan pendapatan dan lain sebaginya.
Permasalahan dalam bidang pendidikan dalam keluarga yakni, orangtua harus terlibat dalam belajar anak disaat jam kerja, selain harus bekerja orang tua juga menjadi guru bagi anak, dan lain sebagainya.

Dari permasalahan-permasalah yang timbul akibat Covid-19, resiliensi keluarga ditinjau dari perspektif hadits dalam menghadapi Covid-19 yakni; “berpikir bahwa setiap permasalahan yang menimpa adalah bukti kasih sayang Allah” hal ini ditinjau dari hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Bukhari “Tidaklah seorang muslim tertimpa kecelakaan, kemiskinan, kegubdahan, kesedihan, kesakitan maupun kedukacitaanbahkan tertusuk duri sekalipun, niscaya Allah akan menghapus dosa-dosanya dengan apa yang menimpanya itu.”

“Ikhlas dan sabar” hal ini ditinjau dari hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah “hai anak adam, saat kamu sabar dan ikhlas saat tertimpa musibah, maka Aku tidak akan meridhai bagimu sebuah pahala kecuali surga.” Perilkau resiliensi yang dapat dilakukan orang tua dalam menmghadapi pandemi ini yakni dengan ikhlas dan bersabar.

“Ujian ini menjadikan kita manusia yang lebih baik lagi” hal ini ditinjau dari hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi “barangsiapa yang dikendaki oleh Allah menjadi orang baik maka ditimpa musibah (ujian) kepadanya. Melalaui hadits ini perilaku resiliasi yang dapat dilakukan yakni berbesar hati dan menerima kenyataan bahwa ujain yang diberikan akan ada hikmah dibaliknya.

“Sikap optimis” hal ini ditinjau dari hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari “Tidaklah Allah SWT menurunkan suatu penyakit, kecuali Dia juga menurunkan penawarnya”. Dari hadits ini perilaku resilisasi yang dapat dilakukan yakni bersikap dan berpikirn optimis bahwa Allah menurunkan sebuah penyakit, masalah atau sebuah wabah pasti Allah akan menurunkan penawarnya.

“Tawakal” hal ini ditinjau dari hadits yang diriwayatkan oleh Muslim “tidak ada penularan, tidak ada ramalan jelek, dan tidak ada penyususpan kembali (reinkarnasi) ruh orang mati pada burung hantu”. Hadits ini menjelaskan bahwa tidak ada penularan penyakit atau wabah, tidak ada ramalan jelek yang Allah turunkan kecuali agar manusia memiliki sikap tawakal atas segala keputusan Allah.

“Bersyukur” hal ini ditinjau dari hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari “dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, yaitu kesehatan dan waktu”. Dari hadits ini perilaku resiliasi yang dapat diterapkan yakni selalu bersyukur, atas kesehatan yang diberikan dan waktu bersama keluarga yang lebih banyak.

Dari hadits-hadits diatas dapat disimpulkan, perilaku resilisasi keluarga khususnya orang tua dalam menghadapi wabah Covid-19 adalah: Pertama ikhlas dan sabar. Kedua berpikir bahwa Allah sedang menguji agar kita menjadi orang yang lebih baik. Ketiga sikap optimis. Keempat tawakal. Kelima bersyukur. Demikian sikap resiliasi yang dapat dilakukan oleh keluarga di masa pandemi Covid-19.

Covid-19 telah merubah segala tatanan kehidupan, bahkan tatanan kehidupan dalam keluarga. Sejak awal kemunculannya, virus ini telah merubah pola dan perilaku dalam menjalani kehidupan dalam keluarga. Dimana perubahan ini memunculkan perilaku-perilaku resiliasi atau kemampuan individu untuk beradaptasi positif dalam menghadapi sebuah musibah atau kemalangan.

 723 total views,  2 views today

Posted in Kajian.