Toleransi di Tengah Pandemi Covid-19

 

Saat ini dunia tengah diguncang oleh kehawatiran karena adanya suatu virus yakni Corona atau Covid-19, virus yang kecil namun mampu membunuh ratusaan ribu orang, munculnya virus ini menjadi duka bagi seluruh dunia, karena telah menyebar hampir ke seluruh dunia Indonesia salah satunya.

Masalah lain yang timbul karena covid-19 adalah banyaknya pekerja yang di PHK, serta para pekerja yang di rumahkan dan pekerja serabutan yang kehilangan mata pencaharian seperti ojek online, pedagang dll terlebih setelah di berlakukannya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di beberapa daerah.
Sehingga masa pandemi ini menjadi masa yang sangat tepat untuk merajut kebersamaan, toleransi, tolong menolong antar umat beda agama dan kepercayaan, tanpa mempertanyakan apa suku dan kebudayaan mereka tetapi atas nama kemanusiaan dalam memerangi virus covid-19 ini.

Masyarakat harus bisa meningkatkan toleransi di tengah pandemi, seperti tidak memberikan stigma kepada pasien yang positif covid-19, terhadap keluarga maupun kerabatnya melainkan memberikan suport dan menghindarkan pasien Covid-19 dari hukuman sosial seperti pengasingan dan pengucilan oleh masyarakat

Berkaitan dengan toleransi yakni ungkapan yang digunakan untuk menjelaskan sikap menghormati, menghargai, kerjasama dan tolong menolong antar masyarakat yang berbeda baik secara budaya, agama, ras, suku, politik dan lain sebagainya, sehingga toleransi merupakan ajaran yang murni harus di ajarkan oleh semua agama termasuk agama Islam

Dalam Islam sendiri toleransi telah merupakan term yang jelas dan rasional serta mudah dipahami. Hal tersebut sebagaimana dalam sebuah hadis berikut :

” irhamuu ahlal ardhi yarhamukum man fil samā”

“sayangilah orang yang ada di bumi maka akan sayang pula mereka yang di
langit kepadamu)

Hadis di atas di anjurkan untuk menyayangi apa yang ada di bumi tanpa memberikan syarat tertentu tetapi di sebutkkan secara umum “yang ada di bumi” tanpa mempertanyakan apa agama, suku dan ras, toleransi termasuk salah satu bentuk menyayangi sebab di dalamnya terkandung nilai nillai yang membawa kebaikan.

Sementara dalam persoalan keyakinan Islam sudah menegaskan bahwa “untuk mu lah agama mu dan untuk ku lah agamaku” Sehingga tidak ada paksaan dalam memilih keyakinan masing masing tanpa memaksakan kehendaknya namun berbeda bukan berarti menghilangan rasa toleransi terhhadap sesama manusia sehingga toleransi seperti ini menyebabkan terlindunginya hak hak orang lain dan diterimanya perbedaan dalam suatu masyarakat, juga terlibat konsep keadilan, perdamaian, dan kerja sama yang saling menguntungkan serta menegasikan semua keburukan.

Dengan demikian, kata toleransi dalam Islam bukanlah hal “asing”, melainkan sudah dipraktekkan dalam kehidupan sejak agama Islam itu lahir, hubungan antar agama dapat dilakukan hanya sebatas pada persoalan sosial (muamalah) semata. Sehingga segala bentuk hubungan atau komunikasi yang melampaui permasalahan muamalah adalah tidak dianjurkan.

Pendekatan Sosiologi Antropologi

Yang di maksud pendekatan sosiologis yaitu sebuah pendekatan yang lebih mengarah kepada melihat objek dengan melihat orang orang yang bersangkutan dengan objek tersebut, misalnya melihat agama Islam maka denggan cara melihat orang orang sekitar, karena yang diutamakan dalam pendekatan ini adalah masalah sosial yang tengah berkembamg di masyarakat sehingga tidak hanya tahu tentang kesimpulannya saja tetapi juga tahu bagaimana memberi solusi terhadap masalah tersebut.

Sementara yang di maksud pendekatan antropologi yaitu memahami agama dengan wujud ibadah praktiknya yang berkembang di masyarakat sehingga kita bisa memahami bahwa ritual ibadan dan budaya di setiap daerah itu berbeda sehingga di harapkan dengan mengetahui perbedaan itu mampu menumbuhkan rasa solidaritas yang tinggi.

Dengan menggunakan dua pendekatan tersebut diharapkan mampu mengatasi masalah yang ada di masyarakat serta mampu mengeratkan rasa toleransi meski berbeda suku, ras, dan agama.

Diharapkan dua pendekatan tersebut menjadi kolaborasi yang baik untuk menciptakan tatanan masyarakat yang bisa menerima perbedaan tanpa mempermasalahkan perbedaan, terlebih di tengah pandemi seperti sekarang kedua pendekatan ini diharapkan mampu membantu mengeratkan rasa toleransi terhadap sesama manusia.

Diharapkan dengan memahami masalah yang tengah berkembang kita mampu memberikan solusi baik melalui pendekatan sosiologis, antropologis bahkan keduanya seperti contoh di tengah pandemi ini banyak masyarakat yang kesulitan dalam hal ekonomi maka diharapkan masyarakat yang lain mampu meringankaan beban tersebut dengan membantu kebutuhan mereka.

Hal lain yang dapat dilakukan adalah terus memberikan edukasi tentang toleransi kepada masyarakat agar hal yang tidak diinginkan tidak terjadi lagi karena bukan tanpa sebab masyarakat menolak jenazah pasien covid-19 melainkan kurangnya edukasi, mereka panik, irasional, dan waspada di luar wajar sehingga mereka melakukan hal tersebut.

Dengan pendekatan sosiologi antropologi diharapkan dapat menjawab persoalan di masyarakat tentang hal yang saat ini tengah hangat di perbincangkkan melalui pendekatan baik secara melihat objek atau ikut serta dalam praktik nya. (AN/MAS)

Aidah Nuranindita
ilmu hadis 2019

 19,826 total views,  16 views today

Posted in Opini.