Perlunya Mengenal Lebih Dekat dengan Masyarakat Sekitar Bagi Generasi “Gedget”

Sudah berapa lama kalian di ruamah dan tinggal di daerah masing-masing selama masa pandemi berlangsung? Apa saja kegiatan yang di lakukan selama di rumah selain kuliah daring? Bagaimana interaksi kalian dalam bersosialisi dengan masyarakat di daerah kalian?

Ketika masa pandemi ini berlangsung, dengan segala pertimbangan semua anak-anak sekolah dari mulai jenjang Taman Kanak-Kanak sampai jenjang perkuliahan menjalankan aktivitas sekolahnya dirumah masing-masing secara daring. Tentunya hal ini sangat asing bagi mereka yang terbiasa menjalankan aktivitas belajar mengajar secara offline. Bahkan dari semua kalangan,tidak hanya anak sekolah, para pekerja yang terpaksa menjalankan aktivitas kerja secara online pun banyak yang mengeluh kesulitan dalam keadaan yang seperti sekarang. Tapi tentunya dari setiap kejadian yang terjadi pastinya ada banyak hal yang dapat diambil manfaatnya.

Selama masa pandemi sekarang ini selain menjalankan kegiatan sekolah atau pekerjaan secara daring, tentunya banyak kegiatan lain yang di lakukan selama di rumah. Kegiatan yang paling sering adalah bersosialisasi dengan anggota keluarga di rumah dan bersosialisasi dengan masyrakat sekitar. Seiring kemajuan teknologi yang semakin berkembang,kita tahu budaya interkasi sosial secara langsung semakin berkurang, bahkan tata krama ketika bersosialisasi secara langsung kurang di perhatikan oleh anak generasi sekarang karena lebih sering hanya bersosialisasi lewat media online.

Dalam melakukan kegiatan bersosialisasi perlunya respon seseorang kepada orang yang di ajak berinteraksi dan begitu juga sebaliknya. Perlunya respon gerak anggota tubuh,cara berkounikasi yang baik,dan tata krama yang baik pula. Tetapi yang sangat diprihatinkan terhadap anak generasi serba teknologi ini mereka jauh dari sosialisasi secara langsung terhadap masyarakat sekitar. Bahkan mereka terkadang sama sekali tidak mengenali tetangganya sendiri yang rumahnya hanya berjarak beberapa meter karena setiap hari berkutat dengan gedget yang tiap waktu melekat di tangannya.

Raga yang sudah candu dengan game onlne,berbagai sosial media yang menurutnya menjadikan dirinya mengetahui segala hal yang berkembang di dunia yang sudah modern ini, dan berbagai aplikasi lainnya yang terus di kembangkan oleh para ahli teknologi. Pada kenyataan yang telah ada pada masyarakat sekarang banyak yang lupa akan pentingnya saling bersosialisasi secara langsung. Mereka lebih mengenal orang-orang yang mereka temui di media sosial yang notabennya berasal dari daerah yang jauh dari pada mengenal dan berinteraksi dengan sesama anggota keluarga ataupun masyarakat sekitar yang justru keberadaannya sangat dekat dengannya.

Dalam persoalan ini, teknologi tidak sepenuhnya berdampak negatif untuk seseorang. Di era kemajuan teknologi ini justru banyak hal positif yang dapat di akses dari sosial media ataupun teknologi yang lainnya. Teknologi juga sebagai sarana kehidupan manusia yang lebih maju dan berkembang. Tetapi juga perlu adanya kesadaran untuk membudayakan kegiatan bersosialiasi langsung dengan masyarakat sekitar baik yang kita temui di daerah sendiri maupun daerah lain.Karena dalam bersosialisasi akan banyak manfaat yang kita dapat dan dalam kodratnya manusia yang hidup di dunia perlu adanya interaksi dengan manusia lain dan perlu bersifat saling gotong royong.

Oleh sebab itu, selama diberi kesempatan di rumah dalam waktu yang cukup lama, alangkah baiknya untuk menjaga interaksi sosial antara anggota keluarga dan masyarakat sekitar. Dan di tengah keaadaan yang sedang sulit pasti perlunya saling bahu membahu antar sesama.

Maka dari itu, eksistensi agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW bukan sebatas mengajarkan keyakinan (aqidah) dan ibadah. Tetapi mengajarkan pula betapa pentingnya bermu’amalah dengan sesama makhluk-NYA. Dengan kata lain sering dibahasakan dengan bersosialisasi.Semandiri apapun hidup seseorang pasti memerlukan bantuan orang lain.

Berikut ini tiga hal bersosialisasi yang diajarkan oleh Rasulullah saw. sebagai berikut :

Pertama dengam melakukan senyum dengan murah

Diriwayatkan oleh Sahabat Abi Dzar:

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : ” تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ
أَخِيْكَ لَكَ صَدَقَةٌ “. رواه الترمذي

Rasulullah saw. bersabda: Senyummu terhadap saudaramu merupakan sebuah nilai sedekah untukmu.” (HR. al-Tirmidzi).
Tersenyum kepada seseorang ketika bertemu adalah bagian dari bersosialisasi.senyum adalah cara bentuk komunikasi. Melempar senyuman kepada seseorang akan menjadikan orang kita temui merasa di hargai dan merasa dirinya termasuk bagian dari makhluk sosial.

Kedua, dengan cara memberi maaf dengan mudah

Sering kita berprasangka bahwa meminta maaf kepada orang lain adalah hal yang sangat berat, padahal memberi maaf jauh lebih berat. Suatu hari ketika ada seorang Arab Badui (dari pedalaman desa) yang melakukan kesalahan dengan buang air kecil di Masjid, lalu kanjeng Nabi memberikannya maaf begitu saja, sementara para sahabat yang lain geram untuk memberikan peringatan Arab badui tersebut. Sebagaimana dikisahkan oleh seorang Sahabat sekaligus Khadim Rasulillah Anas bin Malik,

جَاءَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي طَائِفَةِ الْمَسْجِدِ فَزَجَرَهُ النَّاسُ فَنَهَاهُمُ النَّبِيُّ فَلَمَّا قَضَى بَوْلَهُ أَمَرَ النَّبِيُّ بِذُنُوْبٍ مِنْ مَاءٍ فَأُهْرِيْقُ عَلَيْه. (رواه الشيخان)

“Seorang Arab Badui datang, lalu buang air kecil di serambi masjid. Maka para Sahabat mengecamnya, lalu Rasulullah saw. melarang mereka. Ketika seorang Arab Badui tersebut menyelesaikan buang hajatnya (air kecil), Nabi memerintahkan untuk menyiram dan mengalirkan air di tempat buang air kecil tersebut.” (HR. Bukhari dan Muslim). Begitulah Nabi Muhammad saw. dalam memberikan contoh,bahkan tanpa seseorang tersebut meminta maaf, nabi sudah memberikan maaf.

Ketiha dengan cara toleransi dengan ramah

Terkadang kita suka menuntut atau menggembar-gemborkan untuk saling bertoleransi antara sesama umat beragama ataupun berbeda agama. tetapi diri kita belum menerapkan dalam perilaku keseharian kita sendiri. Sikap toleransi adalah sikap yang sepatutnya dimiliki oleh setiap warga Indonesia karena di negara ini hidup berbagaisuku, agama, ras, dan golongan. Perintah toleransi bahkan telah di firmankan oleh Allah swt. dalam akhir Surah Al-Kafirun.Sukap toleransi sendiri bahkan sudah melekat dalam diri Nabi Muhammad saw. sejak dini.Ada kisah unik terkait toleransi yang tak pernah terpikirkan dicontohkan langsung oleh kanjeng nabi dengan membeli makanan dari seorang Yahudi yang bernama Abu Syam dengan cara menggadaikan baju perangnya. Sebagaimana dikisahkan langsung oleh Aisyah Ummi Al-Mu’minin r.a.,

أَنَّ رَسُولَ الله اشْتَرَى مِنْ يَهُودِيٍّ طَعَامًا إِلَى أَجَلٍ وَرَهَنَهُ دِرْعًا لَهُ مِنْ حَدِيدٍ (رواه الشيخان)

Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW membeli makanan dari seorang Yahudi dengan waktu tempo, lalu menggadaikannya dengan baju besi miliknya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Demikian,kita adalah makhluk yang berada pada abad dimana perkembangan teknologi yang sangat pesat.tapi di tengah kemajuan teknologi ini, bersosialisasi adalah hal yang sangat penting untuk menjalankan kehidupan.Tak pernah lupa,kita tidak di ciptakan sendirian di bumi ini,melainkan berjuta bahkan triliunan makhluk yang di ciptakan untuk semesta ini. (NA/MAS)

Nidia Al Barida
Ilmu Hadis angkatan 2019

669 total views, 3 views today

Posted in Opini.