Keotentikan Ungkapan Imam Ali kw (w. 40H.) الحق بلا نظام يغلبه الباطل بالنظام

Oleh: Dr. Ja’far Assagaf
(Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia Bidang Riset dan Pengembangan Ilmu dan Dosen IAIN Surakarta)

 

Kaum Muslim tidak asing lagi dengan perkataan atau slogan yang berbunyi “kebenaran yang tidak terorganisir (maka) kebatilan yang terorganisir akan mengalahkannya” atau lebih popular kebenaran yang tidak terorganisir dapat dikalahkan oleh kebatilan yang terorganisir. Ungkapan ini konon berasal dari khalifah ke 4 yaitu Ali bin Abi Thalib kw. yang wafat di Kufah. Bahkan di Indonesia saking populer slogan tersebut, banyak dari ustad, penceramah, penulis dan kaum terpelajar seolah meyakini bahwa itu benar-benar berasal dari Imam Ali kw., sehingga tak jarang ungkapan itu diucapkan dan ditulis begitu saja tanpa melacak dan mengetahui sumbernya.
Sebenarnya keinginan penulis sudah lama untuk menggoreskan tulisan kecil ini untuk melakukakan klarifikasi ‘ilmiah’ terkait keakuratan ungkapan tersebut yang disandarkan pada Ali bin Abi Thalib.

Sumber-sumber sejarah Islam, atsar, dan kata-kata mutiara yang penulis telusuri tak satupun yang menyatakan atau paling tidak menyandarkan dengan referensi akurat kalau slogan tersebut berasal dari Abi al-Hasanain (Ali kw). Memang jika kita membuka internet, pasti akan menemukan ungkapan tersebut adalah perkataan Abi Turab (Ali kw). Sayanganya, semua tulisan di medsos tersebut tanpa sumber, paling hanya disebutkan bahwa itu adalah perkataan sang pahlawan Khaibar 7 H (Ali kw).
Hal antagonis datang dari beberapa sumber internet berikut ini:
1. https://thearchive.me/fb/MohamedWael/-1wGZYvPJQXP
2. https://www.islamweb.net/media/print.php?id=225394
3. http://draftakhirat.blogspot.com/2014/04/Penisbatan-Kepada-Ali-Yang-Salah.html?m=1

Sumber pertama dan kedua yang berbahasa Arab dengan jelas menyatakan bahwa ungkapan
الحقّ بلا نظام يغلبه الباطل بالنظام adalah perkataan Musthafa Shabri Afandi (w. 1373 H/1954 M) ) ulama Turki dan bukan perkataan Haidar alias Ali kw. Sementara sumber ketiga menyatakan bahwa tidak terdapat sumber otentik yang menegaskan perkataan tersebut berasal dari suami Fathimah al-Zahra as. Dengan demikian berarti ungkapan yang sama persis dengan itu jelas bukan dari perkataan Ali kw.
Tentu slogan الحقّ بلا نظام يغلبه الباطل بالنظام sebagai perkataan Shabri Afandi patut ‘dideteksi’ asal muasalnya karena dua hal: pertama, terdapat atsar dengan ungkapan yang memiliki makna yang mirip meski berbeda lafaz dengan slogan yang populer tersebut; kedua, sejarah membuktikan ungkapan tersebut sangat erat kaitannya dengan lawan Ali kw dalam hal ini Mu’awiyah bin Abi Sufyan (w. 60 H).

Pertama yaitu terkait dengan atsar, terdapat riwayat dari khutbah Imam Ali setelah mendengar wilayah-wilayahnya diambil oleh Mu’awiyah. Ibn Atsir (w. 630 H) sempat menyatakan ketika itu Ali yang kedudukannya seperti nabi Harun di samping Musa as (HR Bukhari) naik ke mimbar lalu menyampaikan khutbah kepada pengikutnya, meski Ibn Atsir tidak menukilkan kata-kata tersebut secara detail (al-Kamil fi al-Tarikh, Beirut: Dar al-Kutub al’Ilmiyyah, 1987, jilid III, h. 244). Akan tetapi khutbah Khalifah Ali terekam dalam Nahj al-Balaghah seperti berikut:
… أنّ هؤلاء القوم سيدالون منكم باجتماعهم على باطلهم و تفرّقكم عن حقّكم. و بمعصيتكم إمامكم في الحقّ و طاعتهم إمامهم في الباطل (Nahj al-Balqhah, I, h. 65, Beirut: Dar al-Fikr, t.th)
Artinya: “…Sungguh mereka kaum ini (pengikut Mu’awiyah yaitu orang-orang Syam) akan dimenangkan dari kalian (mengganti kalian) lantaran berkumpulnya mereka (bersatu) di atas kebatilan (sementara) kalian (pengikutku orang-orang Kufah) bercerai berai dari kebenaran (yang kalian yakini dan kalian benar). Dan pelanggaran kalian pada pemimpin kalian (padahal) dia (pemimpin kalian) dalam kebenaran dan ketaatan mereka pada pemimpin mereka (padahal) dia (pemimpin mereka) dalam kebatilan.

Frase kalimat سيدالون منكم باجتماعهم على باطلهم و تفرّقكم عن حقّكم… bila dicermati, akan semakna dengan slogan الحقّ بلا نظام يغلبه الباطل بالنظام dari perkataan Musthafa Sabri Afandi.
Kedua terkait sejarah antara Ali kw dengan Mu’awiyah sangat popular yaitu perang Shiffin pada 37 H lalu diteruskan dengan tahkim. Sayangnya kebanyakan orang hanya berhenti disini terkait ceritera kedua tokoh tersebut. Padahal Imam Ali setelah tahkim berencana kembali menyadarkan Mu’awiyah akan kekeliruan ‘ijtihad’nya, maka Ali bersiap siaga menyiapkan pasukan untuk pergi ke Syam, namun langkah pasukannya terhenti karena Khawarij keburu buat kekacauan di tepi sungai Nahrawan, akhirnya pasukan yang sedia kala mau ke Syam harus menyelesaikan urusan dengan Khawarij yang di pimpin Hurqush bin Zuhair sekitar akhir 37- awal 38 H seperti diuraikan dalam kitab-kitab induk sejarah Islam.

Pertengahan tahun 38 sampai 39 Hijriah, hampir tak mendapat perhatian banyak kalangan sejahrawan Muslim modern tentang hubungan Ali kw dengan Mu’awiyah. Ibn Atsir (w. 630 H) melaporkan pada tahun 38-39 H, Mu’awiyah mulai unjuk gigi dengan mengirim utusan-utusannya guna menguasai wilayah-wilayah yang berada di kekuasaan Ali, dari hijaz, Yaman, Bashrah dan sebagainya (al-Kamil fi al-Tarikh, III, h. 244-249). Menurut penulis, Muawiyah sangat pandai memanfaatkan posisi lemahnya pasukan Ali setelah di Shiffin, Tahkim lalu Nahrawan dan tahun 39 inilah Mu’awiyah ‘melucuti’ kekuasaan Ali dari wilayah-wilayahnya sendiri selain Kufah sebagai ibu kota negara.

Di tahun 39 H inilah perkataan atau khutbah Ali kw tersebut nampaknya diungkapkan di depan umum terkait dengan penguasaan Mu’awiyah atas beberapa wilayah Ali dan lemahnya pasukan Kufah untuk kembali melawan pasukan Syam. Ali saat itu naik ke mimbar lalu berkhutbah yang redaksinya tidak secara detail dalam Ibn al-Atsir, namun sangat detail dalam kitab Nahj al-Balaqhah yang telah disebutkan pada bagian pertama.
Berdasarkan fakta dan anlisa tersebut dapat dinyatakan bahwa ungkapan الحقّ بلا نظام يغلبه الباطل بالنظام adalah perkataan Musthafa Shabri Afandi yang terinspirasi dari atsar khutbah Ali kw باجتماعهم على باطلهم و تفرّقكم عن حقّكم سيدالون منكم… atau Shabri meriwayatkan secara makna khutbah sang Imam karena mengetahui sejarahnya. Wa Allahu a’lam

Kartasura, 06 Mei 2020

480 total views, 39 views today

Posted in Opini.