Konsep Joseph Schacht dalam Perspektif Ilmiah, Epistemologi dan Historiografi

Joseph Schacht adalah salah satu orientalis berkebangsaan Jerman yang lahir pada tahun 1902 M. Ia dibesarkan di lingkungan keluarga yang religius dan sangat getol menghargai keilmuan. Dari keluarganya, Schacht memulai titik karir keilmuannya yang berkelanjutan terutama di bidang teologi dan filologi. Kedua disiplin ilmu inilah yang nantinya mengantarkan Schacht mengenal sekaligus mendalami pelbagai kajian-kajian ketimuran, khususnya islam. (Idri: 2017. 179-180)

Karir keilmuannya berkembang pesat saat ia mencicipi bangku perkuliahan di dua universitas terkemuka, Breslau dan Leipzig pada tahun 1920. Selanjutnya, pengalaman keilmuannya tidak berhenti disitu, ia diangkat menjadi profesor di bidang bahasa timur pada tahun 1929 di Breslau. Schacht pun sempat memegang predikat yang sama di Universitas Kingsberg, Jerman. Selain itu, ia menempati jabatan-jabatan vital di banyak perguruan tinggi seperti Universitas Oxford – London, Universitas Columbia – New York, hingga menjadi pengajar di Universitas al Azhar, Kairo-Mesir. (Idri: 2017. 180-181)

Dalam kajian ketimuran, khususnya hadis. Schacht sangat dipengauhi oleh Ignaz Goldzhier. Dari Goldzhier, Schacht mengembangkan hingga berhasil mengkonstruksi sebuah teori kritik sanad hadis yang dinamakannya dengan teori Projecting Back dan Argumenta e Silentio. Schacht menuangkan gagasan dan pemikirannya dalam banyak karya, namun yang paling monumental adalah buku The Origins of Muhammadan Jurisprudence (1950 M.) dan An Introduction to Islamic Law (1960). (Lewis: 1970. 381)

Schacht menawarkan kajian-kajian mengenai hadis yang didalamnya ia melakukan kegiatan kritik terhadap hadis yang bermuatan hukum. Ia berkesimpulan bahwa semua hadis-hadis Nabi SAW. tentang hukum adalah palsu, dan hanya buatan ulama pada abad kedua hingga ketiga hijriah. Asumsinya terhadap hadis-hadis ini adalah berangkat dari peristiwa khalifah-khalifah masa Daulah ‘Umayyah yang mengangkat para hakim islam (qadly), yangmana ada masa al Khulafa’ ar Rasyidun tidak menunjuknya. (Schacht: 1964. 34)

Dalam kajiannya, Schacht seperti menggunakan corak pendekatan sejarah dan sosiologi, hal ini tampak pada kritik-kritik tajam dan skeptisnya terhadap sanad hadis daripada matan. Teori yang diusungnya, Projecting Back, adalah argumen yang digagas Schacht bahwa adanya tradisi ulama-ulama atau periwayat hadis abad kedua hingga ketiga hijriah yang menisbahkan dan menyandarkan suatu hadis kepada subjek yang dianggap mempunyai otoritas dari masa sebelumnya. Ia menggambarkan seperti orang-orang Irak yang menisbahkan pendapat mereka kepada Ibrahim al Nakha’i (w. 95 H), yang selanjutnya kembali ke belakang kepada Abdullah bin Mas’ud (sahabat), hingga pada titik terakhir yakni Rasululah SAW. (Mustafa Yaqub: 2004. 22) Rekonstruksi yang dikemukakan oleh Schacht ini berdalih adanya misi penguatan dan legitimasi dari tookoh-tokoh yang dianggap penting dan mempunyai kedudukan tinggi pada tiap masa-masa tertentu.

Teori Projecting Back ini adalah benang merah terhadap jerih payah Schacht menerjemahkan kajian keilmuan hadis, khusunya yang diawali dengan pendalamannya mengenai kebermulaan hukum islam. Premis yang ditawarkan Schacht akan menggiring pada sebuah kesimpulan bahwa hadis-hadis yang bermuatan hukum muncul pasca wafatnya al Sya’bi (w. 95 H), sedangkan sebelumnya tidak ada. (Scacht: 1959. 149) Asumsi ini berangkat dari pengangkatan para qadly yang terjadi sejak akhir abad pertama hijriah. Para qadly ini dingkat oleh para khalifah Bani Umayyah yang mulanya spesifik terhadap kadar ketentuan dan prasyarat tertentu. Namun seiring makin masifnya orang yang taat beragama, sehingga mereka membuat kelompok dan aliran fiqh klasik. Menurut Schacht, inilah titik kebermulaan hadis-hadis bermuatan yuridis. (Mustafa Yaqub: 2004. 23)

Sejalan dengan itu, teori Argumenta e Silentio pun dibangun atas teori Projecting Back diatas. Asumsi ini mengatakan bahwa fatwa-fatwa hukum telah dibuat orang-orang abad kedua hingga ketiga hijriah, yang secara otomatis pula fatwa tersebut diformulasikan sebagai hadis oleh para fuqoha’ dan tabi’in. Seandainya ada hadis yang muncul sejak masa Rasulullah SAW. dan sahabat, maka hadis-hadis tersebut akan menjadi sebuah diskursus dan dijadikan sebagai hujjah, namun kenyatannya tidak seperti demikian. Dengan dasar tersebut, maka bisa Schacht katakan bahwa hadis dibuat pasca wafatnya Nabi dan sesudah masa sahabat, yang kemudian dimasifkan dan disebarkan secara luas kepada orang lain dengan konsep Common Link atau Common Narrator (lihat G.H.A. Juynboll). (Kamaruddin Amin: 2009. 174) Inilah yang dikatakan Schacht sebagai teori Argumenta e Silentio.

Peristiwa diatas tentu mengundang pemerhati keilmuan hadis dari kalangan muslim bahkan orientalis sendiri mengkritik tajam pemikiran Schacht. Tentu takaran yang digunakan untuk melakukan kritik disini adalah prinsip-prinsip ilmiah dan sesuai dengan kaidah dalam ranah metodologi keilmuan. Diantara mereka adalah Muhammad Abu Zahrah, Mustafa A’zami dan Zafar al Anshari. Sedangkan dari kalangan orientalis sendiri seperti Noel Coulson, Michael Cook, Harald Motzki, Nabia Abbott, dan Rubin. (Idri: 2017. 192)

Disini, Mustafa A’zami dinilai sebagai figur yang militan dalam mengkritik konsep yang dikemukakan oleh Schacht diatas. Ia menanyakan seandainya hadis mulai ditulis pada abad kedua hingg ketiga hijriah, lantas mengapa terdapat beberapa rowi yang lemah yang dicantumkan dalam isnad mereka? Apakah mereka (penulis/ pembuat hadis) tidak bisa memilih tokoh-tokoh yang lebih terhormat dan mempunyai kredibilitas yang baik untuk mendongkrak kualitas hadisnya? Tentu ini asumsi yang tidak logis menurut A’zami. (Idri: 2017. 192-193)

A’zami juga melanjutkan pertanyaannya pada argumen bahwa banyak kasus hadis yang diriwayatkan oleh banyak rowi dari tempat berbeda-beda. Apakah mungkin apabila memang berbeda tempat dengan keadaan transportasi yang masih terbatas, para ulama hadis berkumpul dan bersepakat untuk berdusta dan melakukan pemalsuan? Ini sangat mustahil bila merujuk pada penelitian A’zami terhadap nomenklatur milik Suhayl bin Abi Shalih (w. 138 H) yangmana didalamnya memuat hadis-hadis yang ia riwayatkan dari ayahnya yang merupakan murid Abu Hurairah. Dan pada thabaqat Suhayl bin Abi Shalih terdapat sekitar 20-30 periwayat yang meriwayatkan hadis yang sama dan mereka berasal dari tempat-tempat yang berjauhan, seperti Maroko, India, Turki dan Yaman. (A’zami: 1977. 237)

Selanjutnya mengenai hadis yang bermuatan hukum islam, ternyata Schacht menggunakan literatur fiqh dalam penelitiannya, yakni al Umm dan al Risalah karya Imam Syafi’i, bukan menggunakan kitab-kitab hadis. (Idri: 2015. 127) Hal ini adalah kesalahan metodologis dengan penggunaan alat takar yang tidak tepat. Mudahnya adalah kita melakukan pengukuran berat namun menggunakan penggaris, tentu akan mengalami wrong way.

Selain itu, Mustafa A’zami menilai Schacht tidak obyektif terhadap penelitianya mengenai hukum islam. Argumen ini dikemukakan A’zami karena ia menemukan pengaburan dari sumber-sumber fiqh judul yang digunakan Schacht dalam bukunya, Introduction to Islamic Law, yang lebih condong terhadap konsep-konse pada teks hukum romawi. Di buku tersebut mengklasifikasi bab seperti Person (manusia), Property (harta), Obligations in General (kewajiban umum) dll. Berbeda dengan corak literatur fiqh klasik yang tajuknya mengenai Thaharah, Salat, Puasa, Muamalah, dsb. (A’zami, terj : 2005. 340)

Selanjutnya, terjadi ketidaksesuaian konsep berpikir Schacht mengenai penulisan hadis dan kodifikasi hadis. Penulisan hadis sudah dimulai sejak masa Nabi SAW. dalam bentuk tulisan-tulisan para sahabat. Diantaranya Sahifah Ali, teks Abdullah bin Abbas, teks Samuroh bin Jundab, teks Abdullah Amr bin Ash, dll. (Ismail: 1988. 105-106)

Dan yang terakhir adalah adanya pemaksaan konsep metodologis yang dibawa Schacht dalam menilai hadis. Pemaksaan Schacht ini dinilai Bernard Lewis kurang bijak dalam kaidah ilmiah, karena terbukti Schacht menggunakan History and Sociological approach, yangmana menuntut data empirik untuk melancarkan penelitiannya. Peristiwa ini tidak bisa sewenang-wenang dipaksakan terhadap tradisi hadis (timur tengah saat itu) yang menggunakan hafalan dan transmisi secara lisan (tahammul wal ada’), terlepas dari sebagian kecil periwayatan menggunakan tulisan (kitabah). (Idri: 2017. 195-196) Seorang peneliti bijaknya tidak bersifat arogan dalam menggunakan pendekatan yang akan dipakainya dalam menghadapi suatu problem. Jika memang tidak bisa, ia harus menggunakan pendekatan lainnya guna mendapatkan data dan hasil yang kredibel dan bisa dipertanggungjawabkan dari sebuah penelitian.

 

Penulis:

Perdana Putra Pangestu, Mahasiswa Semester III Prodi Ilmu Hadis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 

420 total views, 6 views today

Posted in Kajian.