Mendapat Pujian Jangan Berbangga Hati Namun Berdoalah

Dr. H. Muhammad Alfatih Suryadilaga, S.Ag. M.Ag.

Ketua Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA)

Dalam kehidupan kekinian terutama dalam rentang kampanye selalu terdengar adanya pujian dan kritikan. Hal ini terkait erat dengan sosok idola dalam pelaksanaan pilpres dan caleg baik untuk anggota legislatif DPR RI, DPD RI, DPRD I dan DPRD II. Pujian dan kritik selalu hadir dan bahkan cenderung menjadi bagian kampanye. Beragam akibat hal tersebut menjadi adanya ketidakharmonisan di kalangan masyarakat baik dalam lingkup kecil keluarga, sekampung bahkan secara luas. Dengan demikian, diperlukan usaha untuk memaknai atas fenomena hal tersebut.

Pujian dan kritik dalam dunia hadis merupakan sebuah keharusan dan dibutuhkan. Hal ini terkait erat dalam pejagaan atas sumber ajaran Islam, khususnya hadis dari beragam pemalsuan. Setidanya upaya ini dilakukan dalam menilai sesorang yang membawakan hadis atau dikenal dengan periwayat hadis. Dengan demikian, maka kualitas hadis dapat diketahui dengan baik jika mereka yang terlibat bernilai positif.

Pujian  dalam studi hadis adalah bagian terpenting dalam menilai seorang periwayat hadis. Hal ini terlihat dalam beragam literatur yang dihasilkan ulama dalam menjaga kualitas hadis. Setidaknya dalam kegiatan ini dikenal dengan ilmu jarh wa ta’dil yaitu penilaian positif atau sanjungan dan penilaian negatif berupa kritik negatif. Kegiatan ini menjadi bagian terpenting san diperbolehkan dalam ajaran agama. Dengan demikian, pola ini selalu dilakukan dalam menilai suatu hadis dan lazim dilakukan ulama kirtikus hadis dalam sejarah.

Pujian dalam bahasa hadis dikenal dengan al-ta’dil bagian dari apresiasi ulama hadis terhadap pribadi  yang unggul dalam periwayatan hadis. Hal ini setidaknya dilakukan pada periwayat sahabat Nabi saw. Kenyataan ini sesuai kesepakatan atas sahabat yang meriwayatkan hadis telah dipandang pribadi yang shaleh dan baik. Dengan demikian, untuk menjadikan sebuah hadis yang baik pujian juga bagian yang penting karena menyangkut kredibilitas periwayat.

Pujian dalam dunia hadis menggunakan istilah terkait erat dengan kapasitas periwayat. Hal ini seperti tentang term awsqun nas, adbatun nas dan ilaihi muntaha al-nas sanjungan tertinggi tersebut berupa sanjungan yang paling dipercaya, seorang yang paling baik hafalannya dan baginya manusia yang tak terhingga.  Ketiga term ini merujuk kepada kualitas prima atau paling baik dengan menggunakan bahasa hiperbola. Dengan demikian, pujian ini termasuk paling baik sesudah sahabat Nabi saw.

Tingkat pujuan selanjutnya adalah pujian atas kata yang diulang. Hal ini seperti kata siqat sabat, siqat siqat dan sabat hafidh. Ketiga kata tersebut menuntut akan kualitas baik dalam mendapatkan pujian. Dengan demikian, sosok pujian seperti ini menjadi bagian hadis atau informasi dapat diterima atau tidak.

Untuk pujian yang paling rendah adalah pujian yang mengandung kata-kata biasa. Hal ini seperti kata la ba’sa bih, laysa bihi ba’sun dan saduq. Ketiga kata tersebut merupajan bagian terpenting dalam transfer ilmu di maayarakat.

Beragam pujian di atas terkait erat dengan sumber penting dalam agama Islam. Hal ini seperti halnya dalam penjagaan kualitas agama Islam sendiri. Dengan demikian, pujian ini merupakan bagian dari agama.

Hal di atas dikaitkan dengan beredarnya informasi yang tidak jelas yang menjadikan bagian lahirnya kritik dan pujian. Keberadaan atas pujian ini diperlukan secata arif dam bijaksana dalam menyelaminya. Seoeang dipuji harus berdoa: Ya Allah ampuni aku apa yang mereka tidak tahu, jangan siksa aku sebab apa yang mereka ucapkan, dan jadikan aku lebih baik dari apa yang mereka sangkakan. Ucapan doa itu adalah bagian dari apa yang dilakukan Sahabat Abu Bakar ketika diberikan pujian orang lain. Dengan berdoa atas pujian tersebut diharapkan Allah swt.  memberikan akhlak yang baik dan tidak sombong. (MAS)

303 total views, 3 views today

Posted in Kolom Ketua ASILHA.