Bukan Sekadar Mengulang: Seni Menyampaikan Pesan agar Dipahami
حَدَّثَنَا عَبْدَةُ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا ثُمَامَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا سَلَّمَ سَلَّمَ ثَلَاثًا وَإِذَا تَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَعَادَهَا ثَلَاثًا
Telah menceritakan kepada kami Abdah berkata, Telah menceritakan kepada kami Abdushshamad berkata, Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al Mutsanna berkata; Tsumamah bin Abdullah telah menceritakan kepada kami dari Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila memberi salam, diucapkannya tiga kali dan bila berbicara dengan satu kalimat diulangnya tiga kali.
HR. Bukhari No. 92
حَدَّثَنَا عَبْدَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الصَّفَارُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا ثُمَامَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا تَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَعَادَهَا ثَلَاثًا حَتَّى تُفْهَمَ عَنْهُ وَإِذَا أَتَى عَلَى قَوْمٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ سَلَّمَ عَلَيْهِمْ ثَلَاثًا
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdah bin Abdullah Ash Shafar Telah menceritakan kepada kami Abdushshamad berkata, Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al Mutsanna berkata; Tsumamah bin Abdullah telah menceritakan kepada kami dari Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bila berbicara diulangnya tiga kali hingga dapat dipahami dan bila mendatangi kaum, Beliau memberi salam tiga kali.
HR. Bukhari No. 93
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ أَبِي بِشْرٍ عَنْ يُوسُفَ بْنِ مَاهَكَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ تَخَلَّفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ سَافَرْنَاهُ فَأَدْرَكَنَا وَقَدْ أَرْهَقْنَا الصَّلَاةَ صَلَاةَ الْعَصْرِ وَنَحْنُ نَتَوَضَّأُ فَجَعَلْنَا نَمْسَحُ عَلَى أَرْجُلِنَا فَنَادَى بِأَعْلَى صَوْتِهِ وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنْ النَّارِ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا
Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Abu Bisyir dari Yusuf bin Mahak dari Abdullah bin ‘Amru berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah tertinggal dari kami dalam suatu perjalanan yang kami lakukan, hingga Beliau mendapatkan kami sementara waktu shalat sudah hampir habis, maka kami berwudlu’ dengan hanya mengusap kaki kami. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berseru dengan suara yang keras: “celakalah bagi tumit-tumit yang tidak basah akan masuk neraka.” Diserukannya hingga dua atau tiga kali.
HR. Bukhari No. 94
Bagaimana Para Ulama Memaknai Hadis Ini?
Hadis ini menunjukkan tuntunan Rasulullah saw. dalam mengulang salam dan pembicaraan hingga tiga kali apabila diperlukan. Pengulangan tersebut dilakukan sebagai bagian dari metode komunikasi dan pendidikan agar pesan benar-benar terdengar dan dipahami. Salam yang dimaksud mencakup salam ketika bertemu maupun salam dalam konteks isti’zan, yaitu meminta izin untuk memasuki rumah.
Rasulullah saw. mengajarkan agar seseorang meminta izin sebanyak tiga kali. Jika setelah tiga kali tidak memperoleh izin, ia hendaknya kembali. Dengan demikian, pengulangan bukan sekadar bentuk kebiasaan, melainkan cara menjaga komunikasi sekaligus menghormati ruang pribadi orang lain.
Prinsip yang sama berlaku dalam penyampaian ilmu dan nasihat. Al-Muhallab menjelaskan bahwa Rasulullah saw. mengulang salam dan pembicaraan hingga tiga kali agar pesan lebih mudah didengar dan dipahami. Metode ini juga dapat ditemukan dalam Al-Qur’an yang mengulang kisah, berita, dan perintah agar pesan semakin kuat tertanam dalam hati serta dapat dipahami dari berbagai sisi.
Menurut Al-Qastallani, pengulangan salam untuk meminta izin tidak perlu dilakukan apabila salam pertama telah dijawab dan izin telah diberikan. Abu al-Zannad juga menjelaskan bahwa pengulangan pembicaraan diperlukan ketika terdapat kekhawatiran pesan tidak terdengar atau tidak dipahami, atau ketika pengulangan dimaksudkan untuk memperdalam pemahaman dalam proses pembelajaran dan pemberian nasihat.
Ibn al-Tin bahkan menyatakan bahwa tiga kali merupakan batas maksimal yang lazim digunakan untuk memberikan penjelasan dan memastikan tersampaikannya maksud.
Sebagian ulama membatasi pengulangan sampai tiga kali sebagai bentuk mengikuti tuntunan hadis, sedangkan ulama lainnya membolehkan pengulangan lebih dari tiga kali apabila hal tersebut memang diperlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa angka tiga tidak semata-mata harus dipahami sebagai batas mekanis, tetapi juga sebagai pola komunikasi yang mempertimbangkan kondisi penerima pesan. Kemampuan setiap orang dalam menerima dan memahami informasi berbeda-beda.
Seni Komunikasi Rasulullah di Tengah Masyarakat
Dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia, prinsip mengulang pesan hingga dipahami sangat dekat dengan tradisi komunikasi di keluarga, pesantren, sekolah, dan berbagai forum kemasyarakatan. Seorang kiai, guru, atau orang tua sering mengulangi nasihat kepada santri, siswa, atau anak-anak karena kemampuan setiap orang dalam menerima informasi tidak selalu sama.
Baca Juga: Mengapa Nasehat Harus Selalu Diulang
Dalam tradisi pengajian, misalnya, penjelasan tentang suatu ajaran agama dapat disampaikan kembali dengan ungkapan yang berbeda agar lebih mudah dipahami oleh jamaah yang memiliki latar belakang pendidikan dan pengalaman yang beragam.
Prinsip tersebut semakin relevan dalam kehidupan masyarakat Indonesia di era digital. Pesan melalui WhatsApp, pengumuman di grup masyarakat, informasi sekolah, maupun komunikasi di media sosial sering kali perlu disampaikan kembali karena tidak semua orang membaca atau memahami pesan pada kesempatan pertama.
Baca Juga: Etika Komunikasi dan Informasi di grup WhatsApp Perkuliahan Era Digital
Namun, pengulangan tetap harus mempertimbangkan situasi dan kebutuhan. Mengirim pesan berkali-kali tanpa memperhatikan respons penerima justru dapat dianggap mengganggu. Semangat hadis bukan sekadar mengulang sebanyak tiga kali, melainkan membangun komunikasi yang efektif, sabar, dan menghargai orang lain.
Karena itu, hadis ini memberikan pelajaran penting bahwa seorang pendidik, guru, dai, atau komunikator hendaknya tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi juga memastikan bahwa pesan tersebut benar-benar dapat diterima dan dipahami oleh orang yang mendengarkannya.
Memaknai Pengulangan sebagai Etika Komunikasi
Rasulullah saw. mengajarkan komunikasi yang memperhatikan kebutuhan, kemampuan, dan kondisi penerima pesan. Dalam budaya Indonesia, ajaran tersebut dapat diterapkan melalui komunikasi yang sabar, dan adaptif. Pengulangan bukan sekadar mengulang kata-kata, melainkan strategi untuk memastikan pesan benar-benar sampai, dipahami, dan memberi manfaat tanpa mengabaikan hak serta kenyamanan orang lain.
8 total views, 8 views today

