Segelas Susu, Seluas Ilmu: Menelusuri Makna Keutamaan Ilmu dari Hadis Nabi
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عُفَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنِي اللَّيْثُ قَالَ حَدَّثَنِي عُقَيْلٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ حَمْزَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ أُتِيتُ بِقَدَحِ لَبَنٍ فَشَرِبْتُ حَتَّى إِنِّي لَأَرَى الرِّيَّ يَخْرُجُ فِي أَظْفَارِي ثُمَّ أَعْطَيْتُ فَضْلِي عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ قَالُوا فَمَا أَوَّلْتَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْعِلْمَ
Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin ‘Ufair berkata, Telah menceritakan kepadaku Al Laits berkata, Telah menceritakan kepadaku ‘Uqail dari Ibnu Syihab dari Hamzah bin Abdullah bin Umar bahwa Ibnu Umar berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketika aku tidur, aku bermimpi diberi segelas susu lalu aku meminumnya hingga aku melihat pemandangan yang bagus keluar dari kuku-kukuku, kemudian aku berikan sisanya kepada sahabat muliaku Umar bin Al Khaththab”. Orang-orang bertanya: “Apa ta’wilnya wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Ilmu”.
HR. Bukhari No. 80
Bagaimana Para Ulama Memaknai Hadis Ini?
Dalam hadis tersebut, Rasulullah ﷺ menceritakan sebuah mimpi ketika beliau diberi segelas susu, kemudian meminumnya hingga merasa sangat kenyang dan memberikan sisanya kepada Umar bin al-Khattab. Ketika para sahabat menanyakan makna mimpi tersebut, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa susu itu merupakan perlambang ilmu.
Ibn Hajar al-‘Asqalani menjelaskan bahwa hubungan antara susu dan ilmu terletak pada kesamaan keduanya dalam hal kemanfaatan. Susu merupakan sesuatu yang memberikan nutrisi dan memenuhi kebutuhan tubuh, sedangkan ilmu memberikan nutrisi bagi akal dan kehidupan manusia. (Ibn Hajar al-‘Asqalani, 1959).
Penggambaran tersebut merupakan bentuk bahasa kiasan untuk menunjukkan kuatnya rasa kenyang dan terpenuhinya kebutuhan. Dalam konteks ilmu, gambaran tersebut dapat dipahami sebagai simbol kedalaman dan keluasan penerimaan ilmu oleh Rasulullah ﷺ.
Susu dalam mimpi tersebut tidak sekadar melambangkan pengetahuan secara umum, tetapi menggambarkan ilmu yang memberikan manfaat secara menyeluruh, sebagaimana susu memberikan manfaat bagi tubuh manusia (Ibn Hajar al-‘Asqalani, 1959).
Dalam penjelasan Ibn al-Munir, keutamaan ilmu dalam hadis ini semakin jelas karena ilmu digambarkan sebagai sesuatu yang berasal dari kelebihan atau bagian yang diberikan kepada Nabi ﷺ oleh Allah. Artinya, ilmu memiliki kedudukan yang sangat tinggi karena menjadi salah satu karunia yang diwariskan dan disebarkan untuk memberikan manfaat kepada umat (Ibn Hajar al-‘Asqalani, 1959).
Dari Ngaji hingga Kampus: Budaya Ilmu Indonesia
Jika susu memberikan nutrisi bagi tubuh, ilmu memberikan nutrisi bagi akal, hati, dan kehidupan manusia. Dalam budaya masyarakat Indonesia, makna tersebut dapat dilihat dari kuatnya pandangan bahwa pendidikan merupakan jalan untuk meningkatkan kualitas kehidupan sekaligus membangun martabat keluarga dan masyarakat.
Penjelasan Ibn Hajar al-‘Asqalani bahwa susu dan ilmu memiliki kesamaan dalam aspek kemanfaatan memperkuat pemahaman bahwa ilmu seharusnya menghadirkan perubahan yang positif, bukan sekadar menjadi simbol status atau gelar akademik (Ibn Hajar al-‘Asqalani, 1959).
Seorang guru, kiai, ustaz, dosen, atau orang tua tidak hanya berperan sebagai pemilik pengetahuan, tetapi juga sebagai penghubung yang meneruskan ilmu kepada generasi berikutnya.
Tradisi ngaji, sorogan, bandongan, pengajian masyarakat, serta pendidikan formal pada dasarnya memiliki semangat yang sama, yaitu menjaga agar ilmu terus mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya. semakin luas ilmu memberikan manfaat kepada orang lain, semakin nyata pula fungsi sosialnya.
Baca Juga: Tiga Keutamaan dalam Mencari Ilmu
Pada masyarakat Indonesia kontemporer, pesan hadis tersebut semakin relevan karena ilmu berhadapan dengan budaya informasi yang sangat cepat. Banyaknya informasi di media sosial tidak otomatis menghasilkan masyarakat yang berilmu.
Baca Juga: Ketika Hadis Menjadi Konten: Menguji Otoritas Keilmuan di Media Sosial
Ilmu Menjadi Mulia Ketika Menjadi Manfaat
Ilmu tidak semestinya berhenti sebagai pencapaian pribadi atau simbol gelar, tetapi harus dihayati, diamalkan, dan dibagikan sehingga memberikan manfaat yang lebih luas. Dengan demikian, keutamaan ilmu bukan hanya terletak pada seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki seseorang, melainkan pada sejauh mana ilmu tersebut mampu menumbuhkan kualitas diri, mencerahkan masyarakat, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
10 total views, 10 views today

