Ketika Ilmu Pergi, Kebodohan Mengisi Ruang
حَدَّثَنَا عِمْرَانُ بْنُ مَيْسَرَةَ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ عَنْ أَبِي التَّيَّاحِ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا
Telah menceritakan kepada kami ‘Imran bin Maisarah berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul Warits dari Abu At Tayyah dari Anas bin Malik berkata, telah bersabda Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya diantara tanda-tanda kiamat adalah diangkatnya ilmu dan merebaknya kebodohan dan diminumnya khamer serta praktek perzinahan secara terang-terangan”.
HR. Bukhari No. 78
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ شُعْبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ لَأُحَدِّثَنَّكُمْ حَدِيثًا لَا يُحَدِّثُكُمْ أَحَدٌ بَعْدِي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَقِلَّ الْعِلْمُ وَيَظْهَرَ الْجَهْلُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا وَتَكْثُرَ النِّسَاءُ وَيَقِلَّ الرِّجَالُ حَتَّى يَكُونَ لِخَمْسِينَ امْرَأَةً الْقَيِّمُ الْوَاحِدُ
Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu’bah dari Qotadah dari Anas bin Malik berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya diantara tanda-tanda kiamat adalah sedikitnya ilmu dan merebaknya kebodohan, perzinahan secara terang-terangan, jumlah perempuan yang lebih banyak dan sedikitnya laki-laki, sampai-sampai (perbandingannya) lima puluh perempuan sama dengan hanya satu orang laki-laki.”
HR. Bukhari No. 79
Bagaimana Para Ulama Memaknai Hadis Ini?
Penempatan hadis ini menunjukkan bahwa ilmu memiliki kedudukan yang sangat penting dalam menjaga kehidupan manusia, karena hilangnya ilmu bukan terjadi semata-mata karena manusia tidak lagi memiliki informasi, tetapi karena wafatnya para ulama sebagai pembawa dan penjaga ilmu.
Oleh sebab itu, hadis ini menjadi dorongan agar umat Islam terus belajar, menjaga keberlangsungan tradisi keilmuan, dan tidak membiarkan ilmu berhenti pada satu generasi saja. Pentingnya seseorang yang memiliki kemampuan intelektual untuk terus mengembangkan dan menyebarkan ilmunya agar ilmu tidak hilang bersama wafatnya para ahli ilmu (Ibn Hajar al-‘Asqalani, 1959).
Dalam hadis tersebut, Rasulullah ﷺ menyebutkan beberapa tanda datangnya kiamat, yaitu diangkatnya ilmu, tersebarnya kebodohan, maraknya minuman keras, dan merebaknya perbuatan zina. Menurut Ibn Hajar, maksud dari diangkatnya ilmu adalah berkurangnya para ulama yang memahami agama secara mendalam hingga akhirnya ilmu semakin sedikit di tengah masyarakat.
Adapun munculnya kebodohan bukan hanya berarti tidak adanya pendidikan, tetapi juga kondisi ketika masyarakat kehilangan rujukan ilmiah yang benar sehingga seseorang berbicara tentang agama tanpa dasar pengetahuan yang memadai.
Ibn Hajar menjelaskan bahwa sebagian riwayat menggunakan istilah “sedikitnya ilmu” dan sebagian lainnya menggunakan istilah “diangkatnya ilmu”. Kedua makna tersebut saling berkaitan; berkurangnya ilmu merupakan proses awal, sedangkan hilangnya ilmu dari kehidupan manusia merupakan tahap akhirnya (Ibn Hajar al-‘Asqalani, 1959).
Hadis kedua yang diriwayatkan dari Anas bin Malik juga menjelaskan bahwa berkurangnya ilmu akan berjalan bersama munculnya berbagai kerusakan sosial. Ibn Hajar menerangkan bahwa penyebutan berbagai tanda tersebut bukan tanpa alasan, karena semuanya berkaitan dengan rusaknya unsur-unsur penting dalam kehidupan manusia.
Hilangnya ilmu berpengaruh terhadap agama karena manusia kehilangan pedoman yang benar; penyalahgunaan minuman keras merusak akal; perbuatan zina merusak keturunan dan tatanan keluarga; sedangkan berbagai fitnah dan kekacauan sosial dapat mengganggu keamanan jiwa serta harta manusia. (Ibn Hajar al-‘Asqalani, 1959).
Diangkatnya Ilmu dan Tantangan Literasi Masyarakat Digital
Pesan utama hadis ini adalah bahwa hilangnya ilmu tidak terjadi karena buku-buku tidak lagi tersedia atau informasi semakin sedikit, tetapi karena berkurangnya para ahli ilmu yang mampu memahami, menjelaskan, dan membimbing masyarakat.
Fenomena yang digambarkan dalam hadis tersebut dapat dikaitkan dengan tantangan masyarakat Indonesia pada era modern, ketika arus informasi berkembang sangat cepat melalui media digital. Kemudahan memperoleh informasi terkadang tidak selalu berbanding lurus dengan meningkatnya pemahaman yang benar.
Baca Juga: Kajian Hadis: Ketika Ilmu Diangkat dan Kebodohan Merajalela – Tanda-Tanda Akhir Zaman
Munculnya berbagai pendapat keagamaan tanpa dasar keilmuan yang kuat, penyebaran informasi palsu, serta kecenderungan mengambil kesimpulan secara instan menunjukkan bentuk lain dari problem kebodohan yang disebutkan dalam hadis. Kebodohan dalam perspektif ini bukan semata-mata ketiadaan informasi, tetapi ketidakmampuan memahami ilmu secara mendalam dan menempatkannya sesuai konteks.
Oleh karena itu, tradisi keilmuan Indonesia yang menekankan belajar langsung kepada guru, membaca sumber yang terpercaya, serta melakukan verifikasi pengetahuan menjadi sangat penting untuk menjaga masyarakat dari kesalahan pemahaman.
Dalam ruang sosial dan budaya Indonesia, hadis ini juga menjadi pengingat bahwa keberlangsungan ilmu merupakan tanggung jawab bersama. Pesantren, perguruan tinggi, lembaga pendidikan, dan komunitas keilmuan memiliki peran strategis dalam menjaga agar ilmu tidak berhenti pada satu generasi.
Menjaga Cahaya Ilmu di Tengah Gelombang Kebodohan
Dalam konteks kehidupan masyarakat modern, hadis ini memberikan peringatan bahwa kemajuan teknologi dan melimpahnya informasi tidak selalu berarti meningkatnya ilmu.
Tradisi keilmuan Islam menempatkan ulama, guru, dan pendidik sebagai penjaga kesinambungan ilmu melalui proses belajar, mengajar, dan pembinaan masyarakat. Karena itu, pesan utama hadis ini bukan sekadar tentang tanda-tanda akhir zaman, tetapi juga tentang tanggung jawab setiap generasi untuk menjaga ilmu agar tidak hilang.
15 total views, 4 views today

