NGAJI HADIS SAHIH BUKHARI #77

lmu Seperti Hujan: Jangan Hanya Menyimpan, Jadilah Sumber Kehidupan

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ أُسَامَةَ عَنْ بُرَيْدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنْ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتْ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتْ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتْ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لَا تُمْسِكُ مَاءً وَلَا تُنْبِتُ كَلَأً فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ.  قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ قَالَ إِسْحَاقُ وَكَانَ مِنْهَا طَائِفَةٌ قَيَّلَتْ الْمَاءَ قَاعٌ يَعْلُوهُ الْمَاءُ وَالصَّفْصَفُ الْمُسْتَوِي مِنْ الْأَرْضِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al ‘Ala` berkata, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Usamah dari Buraid bin Abdullah dari Abu Burdah dari Abu Musa dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengan membawanya adalah seperti hujan yang lebat yang turun mengenai tanah. Diantara tanah itu ada jenis yang dapat menyerap air sehingga dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Dan di antaranya ada tanah yang keras lalu menahan air (tergenang) sehingga dapat diminum oleh manusia, memberi minum hewan ternak dan untuk menyiram tanaman. Dan yang lain ada permukaan tanah yang berbentuk lembah yang tidak dapat menahan air dan juga tidak dapat menumbuhkan tanaman. perumpamaan itu adalah seperti orang yang faham agama Allah dan dapat memanfa’atkan apa yang aku diutus dengannya, dia mempelajarinya dan mengajarkannya, dan juga perumpamaan orang yang tidak dapat mengangkat derajat dan tidak menerima hidayah Allah dengan apa yang aku diutus dengannya”. Berkata Abu Abdullah; Ishaq berkata: “Dan diantara jenis tanah itu ada yang berbentuk lembah yang dapat menampung air hingga penuh dan diantaranya ada padang sahara yang datar”.

HR. Bukhari No. 77

Bagaimana Para Ulama Memaknai Hadis Ini?

Nabi ﷺ menggunakan perumpamaan hujan karena manusia sangat membutuhkan air untuk mempertahankan kehidupan, sebagaimana hati manusia membutuhkan ilmu agama untuk memperoleh kehidupan spiritual. Sebelum datangnya risalah Nabi Muhammad ﷺ, manusia berada dalam kondisi kekeringan nilai dan petunjuk, kemudian Allah memberikan rahmat melalui wahyu dan ilmu yang beliau bawa.

Dengan demikian, ilmu agama memiliki fungsi seperti air hujan yang menyuburkan bumi: ia menghidupkan hati yang mati dan mengarahkan manusia menuju kehidupan yang benar (Ibn Hajar al-‘Asqalani, 1959).

Dalam perumpamaan tersebut, Nabi ﷺ menggambarkan manusia sebagai jenis-jenis tanah yang berbeda dalam menerima hujan. Pertama, terdapat tanah yang subur yang mampu menyerap air dan menumbuhkan berbagai tanaman. Tanah ini menggambarkan orang yang memahami ilmu agama, mengamalkannya, serta mengajarkannya kepada orang lain.

Kedua, terdapat tanah keras yang mampu menahan air sehingga manusia dan makhluk lain dapat mengambil manfaat darinya. Ini merupakan gambaran orang yang memiliki ilmu, mampu menjaga dan menyampaikan ilmu kepada orang lain, meskipun mungkin tidak memperoleh kedalaman pemahaman atau pengamalan seperti kelompok pertama.

Ibn Hajar menjelaskan bahwa kedua kelompok ini sama-sama mendapatkan kemuliaan karena keberadaan mereka memberikan manfaat bagi orang lain, sebagaimana tanah yang menyimpan air tetap memberikan kehidupan meskipun tidak langsung menumbuhkan tanaman (Ibn Hajar al-‘Asqalani, 1959).

Ilmu diumpamakan dengan hujan karena keduanya memiliki fungsi yang sama, yaitu memberi kehidupan. Hujan menghidupkan tanah yang mati, sedangkan ilmu menghidupkan hati manusia yang kehilangan arah.

Melalui perumpamaan ini, Nabi ﷺ tidak hanya menjelaskan kedudukan ilmu, tetapi juga menunjukkan bahwa kualitas manusia dalam menerima ilmu sangat bergantung pada kesiapan hati dan kesungguhannya dalam memanfaatkan ilmu tersebut (al-‘Aini, 1930).

Refleksi Keberkahan Ilmu dalam Tradisi Islam Indonesia

Hadis tentang perumpamaan ilmu dan petunjuk Nabi Muhammad ﷺ sebagai hujan yang menyuburkan tanah memiliki relevansi yang kuat dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Indonesia. Dalam tradisi masyarakat Muslim Indonesia, ilmu tidak dipandang hanya sebagai pengetahuan pribadi, tetapi sebagai amanah yang harus memberikan manfaat bagi kehidupan bersama.

Baca Juga: Ilmu Agama, Ibarat Air Hujan yang Jatuh ke Bumi

Budaya keilmuan di Indonesia memperlihatkan bahwa ilmu memiliki dimensi sosial yang kuat. Tradisi pesantren, misalnya, tidak hanya mengajarkan kitab dan pengetahuan agama, tetapi juga membangun hubungan antara guru dan murid yang berlandaskan keteladanan, penghormatan, dan pengabdian.

Dalam masyarakat Indonesia modern, hadis ini juga menjadi pengingat bahwa perkembangan ilmu pengetahuan harus selalu diarahkan pada kebermanfaatan publik. Di tengah kemudahan akses informasi melalui teknologi digital, tantangan terbesar bukan lagi sekadar memperoleh ilmu, tetapi bagaimana memilah, memahami, dan menyebarkannya secara bertanggung jawab.

Baca Juga: Tinggi Ilmu Harus Bermanfaat bagi Masyarakat

Orang yang berilmu idealnya tidak hanya menjadi pengumpul informasi, tetapi menjadi sumber pencerahan yang mampu menghadirkan solusi bagi persoalan masyarakat. Sebagaimana tanah yang baik mampu mengubah air hujan menjadi kehidupan, seorang ilmuwan, pendidik, dan intelektual hendaknya mampu mengubah ilmu menjadi kontribusi nyata bagi lingkungan sosialnya.

Dari Hujan Ilmu hingga Ladang Peradaban

Orang berilmu yang ideal adalah mereka yang mampu menggabungkan tiga unsur: belajar dengan sungguh-sungguh, memahami ilmu secara benar, dan menyebarkannya melalui pengajaran. Tradisi keilmuan Islam kemudian membangun prinsip bahwa ilmu memiliki tanggung jawab sosial; seorang ulama, guru, dosen, atau pendidik tidak cukup hanya menjadi penyimpan ilmu, tetapi harus menjadi jalan agar ilmu tersebut menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat.

 13 total views,  13 views today

Posted in Kajian.