Berjalan untuk Belajar: Spirit Rihlah Ilmiah dari Nabi Musa hingga Tradisi Keilmuan Indonesia
حَدَّثَنَا أَبُو الْقَاسِمِ خَالِدُ بْنُ خَلِيٍّ قَاضِي حِمْصَ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حَرْبٍ قَالَ حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ أَخْبَرَنَا الزُّهْرِيُّ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ مَسْعُودٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ تَمَارَى هُوَ وَالْحُرُّ بْنُ قَيْسِ بْنِ حِصْنٍ الْفَزَارِيُّ فِي صَاحِبِ مُوسَى فَمَرَّ بِهِمَا أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ فَدَعَاهُ ابْنُ عَبَّاسٍ فَقَالَ إِنِّي تَمَارَيْتُ أَنَا وَصَاحِبِي هَذَا فِي صَاحِبِ مُوسَى الَّذِي سَأَلَ السَّبِيلَ إِلَى لُقِيِّهِ هَلْ سَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ شَأْنَهُ فَقَالَ أُبَيٌّ نَعَمْ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ شَأْنَهُ يَقُولُ بَيْنَمَا مُوسَى فِي مَلَإٍ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ أَتَعْلَمُ أَحَدًا أَعْلَمَ مِنْكَ قَالَ مُوسَى لَا فَأَوْحَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى مُوسَى بَلَى عَبْدُنَا خَضِرٌ فَسَأَلَ السَّبِيلَ إِلَى لُقِيِّهِ فَجَعَلَ اللَّهُ لَهُ الْحُوتَ آيَةً وَقِيلَ لَهُ إِذَا فَقَدْتَ الْحُوتَ فَارْجِعْ فَإِنَّكَ سَتَلْقَاهُ فَكَانَ مُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَّبِعُ أَثَرَ الْحُوتِ فِي الْبَحْرِ فَقَالَ فَتَى مُوسَى لِمُوسَى { أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنْسَانِيهِ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ } قَالَ مُوسَى {ذَلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِي فَارْتَدَّا عَلَى آثَارِهِمَا قَصَصًا } فَوَجَدَا خَضِرًا فَكَانَ مِنْ شَأْنِهِمَا مَا قَصَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ
Telah menceritakan kepada kami Abu Al Qasim Khalid bin Khali -seorang hakim di Himshi-, dia berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Harb berkata, Telah menceritakan kepada kami Al Auza’i telah mengabarkan kepada kami Az Zuhri dari ‘Ubaidullah bin Abdullah bin ‘Utbah bin Mas’ud dari Ibnu ‘Abbas bahwasanya dia dan Al Hurru bin Qais bin Hishin Al Fazari berdebat tentang sahabat Musa ‘Alaihis salam, Ibnu ‘Abbas berkata; dia adalah Khidlir ‘Alaihis salam. Tiba-tiba lewat Ubay bin Ka’b di depan keduanya, maka Ibnu ‘Abbas memanggilnya dan berkata: “Aku dan temanku ini berdebat tentang sahabat Musa ‘Alaihis salam, yang ditanya tentang jalan yang akhirnya mempertemukannya, apakah kamu pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan masalah ini?” Ubay bin Ka’ab menjawab: Ya, benar, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketika Musa di tengah pembesar Bani Israil, datang seseorang yang bertanya: apakah kamu mengetahui ada orang yang lebih pandai darimu?” Berkata Musa ‘Alaihis salam: “Tidak”. Maka Allah Ta’ala mewahyukan kepada Musa ‘Alaihis salam: “Ada, yaitu hamba Kami bernama Hidlir.” Maka Musa ‘Alaihis Salam meminta jalan untuk bertemu dengannya. Allah menjadikan ikan bagi Musa sebagai tanda dan dikatakan kepadanya; “jika kamu kehilangan ikan tersebut kembalilah, nanti kamu akan berjumpa dengannya”. Maka Musa ‘Alaihis Salam mengikuti jejak ikan di lautan. Berkatalah murid Musa ‘Alaihis salam: “Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi? Sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidaklah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan”. Maka Musa ‘Alaihis Salam berkata:.”Itulah (tempat) yang kita cari”. Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. Maka akhirnya keduanya bertemu dengan Hidlir ‘Alaihis salam.” Begitulah kisah keduanya sebagaimana Allah ceritakan dalam Kitab-Nya.
HR. Bukhari No. 76
Bagaimana Para Ulama Memaknai Hadis Ini?
Perjalanan untuk memperoleh ilmu memiliki kedudukan penting dalam tradisi keilmuan Islam. Kisah Musa sangat sesuai dengan tema ini karena Musa melakukan perjalanan, menghadapi kelelahan, dan menempuh jarak tertentu demi bertemu dengan seseorang yang dianugerahi Allah pengetahuan yang belum dimilikinya.
Karena itu, perjalanan Musa kepada Khidir menjadi dasar penting bahwa seorang pencari ilmu tidak seharusnya merasa cukup dengan ilmu yang telah dimilikinya, tetapi perlu berusaha mencari sumber ilmu yang lebih luas, bahkan apabila harus ditempuh melalui perjalanan yang jauh dan berat (al-‘Aini, 1930).
Hal ini menunjukkan bahwa kedudukan, usia, dan keluasan ilmu seseorang tidak semestinya menghalanginya untuk belajar kepada orang lain yang memiliki pengetahuan tertentu yang belum dikuasainya. Kerendahan hati (tawāḍu‘) dan kesediaan mengakui keterbatasan pengetahuan merupakan bagian penting dari etika menuntut ilmu (Ibn Hajar al-‘Asqalani, 1959).
Makna riḥlah fī ṭalab al-‘ilm tersebut semakin kuat dengan riwayat yang dicantumkan al-Bukhari tentang perjalanan Jabir bin Abdullah. Jabir melakukan perjalanan selama satu bulan untuk menemui Abdullah bin Unais hanya demi memperoleh satu hadis secara langsung.
Ibn Hajar menjelaskan bahwa rihlah ilmiah besar perhatian para sahabat terhadap pemeliharaan Sunnah Nabi. Jabir sebenarnya telah memperoleh informasi mengenai hadis itu, tetapi ia belum merasa cukup sebelum mendengarnya secara langsung dari orang yang meriwayatkannya dari Rasulullah ﷺ.
Sikap ini juga menunjukkan upaya memperoleh sanad yang lebih tinggi dan meminimalkan perantara dalam transmisi ilmu. Tradisi serupa dilakukan oleh para ulama generasi awal; bahkan disebutkan bahwa Sa‘id bin al-Musayyab pernah melakukan perjalanan berhari-hari hanya untuk memperoleh satu hadis.
Oleh sebab itu, perjalanan ilmiah pada masa awal Islam bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi merupakan bagian dari proses verifikasi, pendalaman, dan penjagaan otentisitas pengetahuan (Ibn Hajar al-‘Asqalani, 1959).
Dari Mondok hingga Sowan : Rihlah Ilmiah dalam Budaya Indonesia
Hadis perjalanan Nabi Musa untuk menemui Khidir dapat dibaca dalam ruang sosial dan budaya Indonesia sebagai landasan penting bagi tradisi merantau untuk menuntut ilmu. Dalam masyarakat Muslim Indonesia, terutama di lingkungan pesantren, perjalanan seorang santri dari kampung halaman menuju pesantren, berpindah dari satu pesantren ke pesantren lain, atau mendatangi seorang kiai tertentu merupakan praktik yang telah lama hidup.
Baca Juga: Musa Belajar dari Khidir
Hadis ini juga relevan dengan kuatnya budaya berguru dan menjaga mata rantai transmisi ilmu dalam masyarakat Indonesia. Tradisi pesantren tidak hanya menekankan penguasaan isi kitab, tetapi juga hubungan langsung antara murid dan guru, penghormatan kepada otoritas keilmuan, serta perhatian terhadap asal-usul pengetahuan yang diterima.
Baca Juga: Rihlah Ilmiah: Makna dan Kegiatannya dalam Tradisi Ulama Hadis
Dalam masyarakat Indonesia, nilai tersebut dapat ditemukan dalam tradisi sanad keilmuan, pengajian kitab secara langsung, ijazah kitab, serta kebiasaan belajar kepada beberapa kiai yang memiliki kepakaran berbeda. Karena itu, hadis ini sekaligus mengajarkan bahwa ilmu tidak cukup diperoleh hanya dari banyaknya informasi, tetapi perlu dipastikan sumber, otoritas, konteks, dan keabsahan transmisinya.
Dalam kehidupan Indonesia kontemporer, pesan hadis tersebut semakin penting ketika proses memperoleh ilmu tidak lagi selalu menuntut perjalanan fisik karena masyarakat dapat mengakses ceramah, kitab, jurnal, dan berbagai pengetahuan melalui media digital.
Namun, kemudahan teknologi tidak menghapus nilai utama dari rihlah fī ṭalab al-‘ilm. Justru semangat perjalanan Nabi Musa dapat ditafsirkan lebih luas sebagai kesediaan seseorang keluar dari keterbatasan lingkungan, kebiasaan berpikir, dan sumber informasi yang hanya menguatkan pandangannya sendiri.
Menjadi Pembelajar Sepanjang Hayat
Hadis tentang perjalanan Nabi Musa menemui Khidir menegaskan bahwa menuntut ilmu membutuhkan kesungguhan, kerendahan hati, keberanian keluar dari kenyamanan, serta menghadapi kesulitan demi memperoleh ilmu yang lebih luas dan benar.
Semangat tersebut tercermin dalam tradisi di Indonesia seperti mondok, sowan, berguru kepada kiai, mencari sanad keilmuan, serta merantau untuk belajar. Hadis ini mengajarkan etos keilmuan yang mencakup ketekunan, tawadu’, penghormatan kepada guru, ketelitian terhadap sumber, dan semangat belajar sepanjang hayat.
11 total views, 11 views today

