Mengapa Orang Berilmu Dimuliakan?
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عُفَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ عَنْ يُونُسَ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ قَالَ حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ سَمِعْتُ مُعَاوِيَةَ خَطِيبًا يَقُولُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ وَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَاللَّهُ يُعْطِي وَلَنْ تَزَالَ هَذِهِ الْأُمَّةُ قَائِمَةً عَلَى أَمْرِ اللَّهِ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ
Dari Sa‘id bin ‘Ufair, dari Ibn Wahb, dari Yunus, dari Ibn Syihab, dari Humaid bin ‘Abd al-Rahman berkata, aku mendengar Mu‘awiyah memberi khutbah untuk kami, dia berkata, aku mendengar Nabi saw bersabda: “Barangsiapa yang Allah kehendaki menjadi baik maka Allah pahamkan dia tentang agama. Aku hanyalah yang membagi-bagikan sedang Allah yang memberi. Senantiasa umat ini akan tegak di atas perintah Allah, mereka tidak akan celaka karena adanya orang-orang yang menyelisihi mereka hingga datang keputusan Allah.”
HR. Bukhari No. 69
Bagaimana Para Ulama Memaknai Hadis Ini?
Kata yufaqqihhu bermakna yufahhimuhu yakni memahamkan atau membuat paham. Dalam konteks hadis ini yang dimaksud adalah memahami semua ilmu agama. Sedangkan orang yang diberi pemahaman disebut dengan istilah faqih. Oleh al-Hasan al-Bashri diartikannya sebagai orang yang zuhud terhadap dunia; mengharapkan akhirat; mengetahui tentang agamanya; dan senantiasa beribadah kepada Tuhannya (Al-Birmāwī, 2012, hlm. 372).
Ibn Hajr dalam Fath al-Bari mengatakan bahwa hadis ini mengandung tiga hal: (1) keistimewaan memahami agama; (2) pemberi sejati adalah Allah swt; dan (3) sebagian umat ini berada di atas kebenaran selama-selamanya. Poin kedua berkenaan dengan persoalan sedekah karenanya dijelaskan kembali oleh Ibn Hajr dalam kitab al-fardl al-khumus. Sedangkan poin ketiga berkenaan dengan persoalan tanda-tanda kiamat karenanya dijelaskan kembali oleh Ibn Hajr dalam kitab al-i‘tisham (Al-‘Asqalānī, 2013, hlm. 347).
Di sini akan dijelaskan pendapat Ibn Hajr berkenaan hadis ini tentang poin pertama di atas, yaitu tentang pintu-pintu ilmu. Ibn Hajr menjelaskan bahwasanya orang-orang yang tidak diberi pemahaman tentang agama maka dihilangkan kebaikan darinya (Al-‘Asqalānī, 2013, hlm. 349).
Oleh karena itu, para ulama lebih mulia dari pada orang biasa; orang yang memahami ilmu agama lebih baik dari orang yang memahami ilmu-ilmu lain. Karena mereka senantiasa takut kepada Allah, taat, dan jauh dari melakukan maksiat. Selaras dengan firman Allah yang berbunyi: “di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama” (Ibn Batthal, n.d., hlm. 154).
Ulama dalam Hati dan Budaya Masyarakat
Keberadaan orang-orang berilmu di Indonesia sangat diperhatikan bahkan sangat dimuliakan. Ini terbukti dengan adanya berbagai macam penghargaan yang diberikan kepada mereka terutama di mata sosial seperti panggilan khusus yang diberikan masyarakat berbagai daerah di Indonesia.
Misalnya, panggilan Buya untuk menyebut orang yang berilmu khususnya ilmu agama Islam yang terdapat di Sumatera Barat, Tuan Guru di Jambi dan NTB, Anregurutta di Sulawesi, Kiai di Jawa, dan sebagainya.
Baca Juga: Allah Memperkenalkan Penghargaan Orang Berilmu
Penghargaan ini juga diberikan tidak hanya panggilan saja, tapi dalam berbagara baik itu formal, informal, maupun acara adat, mereka-mereka yang berilmu ini diberikan tempat khusus sebagai bentuk penghargaan kepada mereka.
Inilah apa yang penulis sebut sebagai bukan penghargaan ukhrawi saja tetapi juga penghargaan duniawi berbagai kebiasaan yang dilakukan oleh orang Indonesia terhadap mereka yang berilmu ini bahkan menjadi keunikan tersendiri, dan kebiasaan menghormati mereka yang mempunyai ilmu tersebut telah menjadi kultur yang mengakar.
Paham Agama, Tanda Allah Menghendaki Kebaikan
Hadis ini menegaskan bahwa pemahaman terhadap agama merupakan salah satu tanda kebaikan yang Allah anugerahkan kepada seseorang. Menurut para ulama, keutamaan tersebut tidak semata-mata terletak pada banyaknya pengetahuan, tetapi pada kemampuan ilmu dalam menumbuhkan ketakwaan, ketaatan, dan rasa takut kepada Allah.
Kemuliaan ilmu tersebut tercermin dalam tingginya penghormatan masyarakat kepada ulama dan orang berilmu melalui berbagai gelar kehormatan, posisi sosial, serta tradisi seperti mencium tangan guru dan kiai. Dengan demikian, keutamaan memahami agama sebagaimana disebutkan dalam hadis tidak hanya memiliki dimensi ukhrawi, tetapi juga memperoleh ekspresi sosial dan budaya yang nyata dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
13 total views, 13 views today

