NGAJI HADIS SAHIH BUKHARI #70

Ilmu Bukan Sekadar Hafalan: Pentingnya Memahami Ilmu dan Menjaga Adab

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ قَالَ لِي ابْنُ أَبِي نَجِيحٍ عَنْ مُجَاهِدٍ قَالَ صَحِبْتُ ابْنَ عُمَرَ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلَمْ أَسْمَعْهُ يُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا حَدِيثًا وَاحِدًا قَالَ كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأُتِيَ بِجُمَّارٍ فَقَالَ إِنَّ مِنْ الشَّجَرِ شَجَرَةً مَثَلُهَا كَمَثَلِ الْمُسْلِمِ فَأَرَدْتُ أَنْ أَقُولَ هِيَ النَّخْلَةُ فَإِذَا أَنَا أَصْغَرُ الْقَوْمِ فَسَكَتُّ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هِيَ النَّخْلَةُ

Dari ‘Ali bin Abdullah, dari Sufyan, dari Ibn Abu Najih, dari Mujahid berkata: aku pernah menemani Ibn ‘Umar pergi ke Madinah, namun aku tidak mendengar dia membicarakan tentang Rasulullah saw kecuali satu kejadian. Dia berkata: kami pernah bersama Nabi saw lalu beliau disodorkan buah kurma. Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya di antara pohon ada suatu pohon yang merupakan perumpamaan bagi seorang muslim.” Aku ingin mengatakan bahwa itu adalah pohon kurma namun karena aku yang termuda maka aku diam. Nabi saw bersabda: “Itu adalah pohon kurma.”

HR. Bukhari No. 70

Bagaimana Para Ulama Memaknai Hadis Ini?

Menurut Ibn Baṭṭāl, ilmu tidak akan mencapai kesempurnaannya tanpa disertai pemahaman. Bahkan, pemahaman memiliki kedudukan yang lebih tinggi daripada sekadar hafalan, sebab melalui pemahaman seseorang mampu menjelaskan kandungan makna suatu ilmu sekaligus memahami hukum-hukum yang terkandung di dalamnya.

Imam Mālik juga menegaskan pentingnya pemahaman dalam proses memperoleh ilmu. Menurutnya, seseorang belum dapat disebut benar-benar berilmu hanya karena memiliki banyak hafalan. Ilmu menuntut kemampuan untuk memahami, menghayati, dan menjelaskan apa yang telah dipelajari.

Dalam hadis tentang perumpamaan seorang Muslim dengan pohon kurma, para ulama menjelaskan bahwa persamaan keduanya terletak pada kebaikan yang melekat dan manfaat yang terus diberikan. Seorang Muslim yang kokoh imannya senantiasa menghadirkan kebaikan, sebagaimana pohon kurma yang hampir seluruh bagiannya dapat memberikan manfaat (Ibn Baṭṭāl, t.t., hlm. 157).

Dengan demikian, hadis tersebut mengajarkan bahwa nilai ilmu tidak ditentukan semata-mata oleh banyaknya sesuatu yang dihafal, tetapi terutama oleh kedalaman pemahaman dan kemampuan menghadirkan manfaat dari ilmu tersebut.

Ketika Ilmu Bertemu Adab di Pesantren

Dalam tradisi pendidikan Islam di Indonesia, terutama di lingkungan pesantren, pemahaman terhadap ilmu berjalan beriringan dengan pembentukan adab. Bahkan, dikenal ungkapan yang sangat populer bahwa adab harus didahulukan sebelum ilmu.

Baca Juga: Adab dalam Menuntut Ilmu, Harmoni Tradisi Pesantren dan Neurosains Modern

Pandangan ini menunjukkan bahwa proses belajar tidak hanya bertujuan menambah pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap, etika, dan penghormatan kepada guru sebagai orang yang menyampaikan ilmu.

Karena itu, pendidikan pesantren tidak berhenti pada kemampuan santri menghafal atau memahami kitab, tetapi juga membiasakan mereka menjalankan etika dalam hubungan antara murid dan guru.

Nilai tersebut tampak dalam berbagai kebiasaan yang hidup di lingkungan pesantren. Seorang santri, misalnya, tidak terbiasa berbicara mendahului guru ketika sedang berlangsung percakapan atau pengajaran. Ketika bertemu kiai atau guru di jalan, santri biasanya memberikan jalan dan mempersilakan gurunya berjalan lebih dahulu.

Mereka juga menjaga cara berbicara, sikap tubuh, serta pilihan kata ketika berkomunikasi dengan guru. Kebiasaan-kebiasaan tersebut bukan sekadar aturan formal, melainkan bagian dari pendidikan karakter yang diwariskan secara turun-temurun dalam tradisi pesantren.

Paham Ilmunya, Terlihat Adabnya

Hadis ini menegaskan bahwa hakikat ilmu tidak terletak pada banyaknya hafalan, melainkan pada kedalaman pemahaman dan kemampuan menghadirkan manfaat dari ilmu tersebut. Dalam tradisi pesantren Indonesia, prinsip ini berkembang bersama dengan penekanan yang kuat terhadap adab, khususnya penghormatan santri kepada guru dan kiai.

Karena itu, proses mencari ilmu tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga membentuk sikap, etika, dan karakter. Ilmu yang dipahami dengan baik dan disertai adab pada akhirnya diharapkan mampu melahirkan pribadi yang beriman, rendah hati, dan bermanfaat bagi kehidupan sosial.

 13 total views,  11 views today

Posted in Kajian.