Berdakwah dengan Kemudahan dan Harapan, Bukan Mempersulit
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو التَّيَّاحِ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id berkata, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, telah menceritakan kepadaku Abu At Tayyah dari Anas bin Malik dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, “Permudahlah dan jangan persulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.”
HR. Bukhari No. 67
Dakwah yang Memudahkan Menurut Para Ulama
Hadis ini menegaskan bahwa prinsip utama dakwah dan pendidikan Islam adalah memudahkan, bukan mempersulit. Dalam Fatḥ al-Bārī, Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī menjelaskan bahwa sabda Nabi ﷺ, wa lā tunaffirū (jangan membuat orang lari), bermakna larangan menggunakan cara yang menyebabkan seseorang menjauh dari agama.
Baca juga: Permudah, Jangan Dipersulit
Menurut beliau, orang yang baru belajar agama hendaknya dibimbing secara bertahap agar merasakan kemudahan, sehingga tumbuh kecintaan dan semangat untuk terus belajar. Demikian pula ketika mengajak seseorang meninggalkan kemaksiatan, pendekatan yang lembut dan penuh hikmah akan lebih mudah diterima daripada sikap yang keras dan menyalahkan (Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī, Fatḥ al-Bārī).
Para ulama juga menjelaskan bahwa perintah yassirū wa lā tu’assirū (permudahlah dan jangan mempersulit) merupakan kaidah penting dalam dakwah dan pendidikan. Seorang pendidik, dai, maupun pemimpin hendaknya memilih cara yang paling mudah diterima selama tidak bertentangan dengan syariat.
Al-Birmāwī menerangkan bahwa Nabi ﷺ memadukan antara memberikan kabar gembira (tabsyīr) dan peringatan (inzār), namun beliau lebih dahulu menumbuhkan harapan melalui penyebutan rahmat, ampunan, dan kemurahan Allah. Karena itu, seorang penyampai ilmu tidak sepatutnya hanya menonjolkan ancaman tanpa disertai motivasi yang membangkitkan optimisme dan kecintaan kepada agama (Al-Birmāwī).
Membangun Dakwah yang Menyejukkan di Indonesia
Nilai-nilai yang terkandung dalam hadis ini sangat relevan dengan kehidupan masyarakat Indonesia yang dikenal menjunjung tinggi budaya santun dan musyawarah. Dalam memberikan nasihat, teguran, maupun kritik, hendaknya digunakan bahasa yang lembut, menjaga kehormatan orang yang dinasihati, serta menghindari sikap yang mempermalukan di hadapan orang lain.
Deden Makbuloh menjelaskan bahwa adab menasihati antara lain dilakukan dengan penuh kasih sayang, sopan santun, serta sebisa mungkin secara pribadi apabila kondisi memungkinkan. Pendekatan seperti ini akan lebih efektif dalam membangun kesadaran daripada cara yang kasar dan menghakimi.
Baca juga: Menasehati tanpa Melukai
Hadis ini juga menjadi pengingat bagi para imam, dai, guru, dan pemimpin masyarakat agar memahami kondisi orang-orang yang dipimpinnya. Dalam praktik ibadah, misalnya, seorang imam dianjurkan memperhatikan keadaan makmum sehingga tidak memperpanjang bacaan salat secara berlebihan hingga menimbulkan kesulitan.
Demikian pula dalam kegiatan dakwah dan pembelajaran, materi hendaknya disampaikan secara proporsional, mudah dipahami, dan tidak membebani peserta. Prinsip memudahkan inilah yang akan membuat masyarakat semakin mencintai agama, bukan justru menjauh darinya.
Kemudahan adalah Jalan Menghadirkan Hidayah
Hadis ini mengajarkan bahwa keberhasilan dakwah tidak hanya ditentukan oleh kebenaran materi yang disampaikan, tetapi juga oleh cara penyampaiannya. Rasulullah ﷺ memberikan teladan agar setiap muslim menyampaikan ajaran Islam dengan penuh kemudahan, harapan, dan kasih sayang. Dengan pendekatan seperti ini, dakwah akan lebih mudah diterima, menumbuhkan kecintaan kepada agama, serta memperkuat persaudaraan di tengah kehidupan masyarakat.
9 total views, 9 views today

