Kunci Dakwah yang Efektif: Tidak Berlebihan dalam Menasihati
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَخَوَّلُنَا بِالْمَوْعِظَةِ فِي الْأَيَّامِ كَرَاهَةَ السَّآمَةِ عَلَيْنَا.
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf berkata, telah mengabarkan kepada kami Sufyan dari Al A’masy dari Abu Wa’il dari Ibnu Mas’ud berkata, bahwa Nabi ﷺ selalu memilah-milah hari yang tepat bagi kami untuk memberikan nasihat, karena khawatir rasa bosan akan menghinggapi kami.
HR. Bukhari No. 66
Mendidik dengan Memahami Kondisi Peserta Didik
Para ulama menjelaskan bahwa kata yatakhawwalunā (يَتَخَوَّلُنَا) berasal dari kata takhawwul, yang bermakna memelihara, memperhatikan, atau memperhatikan keadaan seseorang secara berkelanjutan (Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī, Fatḥ al-Bārī, jil. 1, hlm. 343).
Dalam Fayḍ al-Bārī, kata tersebut dijelaskan dengan ungkapan yata‘ahhadunā waqtan fa waqtan, yaitu Rasulullah ﷺ memberikan nasihat kepada para sahabat pada waktu-waktu tertentu secara berselang agar mereka tidak merasa jenuh (Al-Kasymīrī, 2005, hlm. 250). Adapun kata mau‘iẓah berarti nasihat atau peringatan, sedangkan al-sa’āmah bermakna rasa bosan dan berat dalam menjalankan sesuatu (Al-Birmāwī, 2012, hlm. 369).
Baca juga: Fiqh Tentang Waktu Memberikan Nasihat
Berdasarkan penjelasan tersebut, para ulama memahami bahwa Rasulullah ﷺ sangat memperhatikan kondisi psikologis para sahabat ketika menyampaikan ilmu. Beliau tidak memberikan nasihat setiap hari, melainkan memilih waktu yang tepat sesuai kesiapan mereka.
Tujuannya agar semangat belajar tetap terjaga, sehingga nasihat yang disampaikan lebih mudah diterima dan diamalkan. Dengan demikian, hadis ini menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya bergantung pada materi yang disampaikan, tetapi juga pada kemampuan pendidik membaca kondisi peserta didiknya (Al-Anṣārī, 2005, hlm. 278).
Ibn Ḥajar menambahkan bahwa hadis ini mengajarkan pentingnya keseimbangan dalam beramal dan belajar. Semangat beribadah memang dianjurkan, tetapi tidak boleh dilakukan dengan cara yang justru menimbulkan kejenuhan. Menurut beliau, setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda.
Ada yang mampu beramal secara rutin setiap hari tanpa merasa berat, sementara yang lain lebih sesuai melakukannya secara berkala dengan memberikan waktu untuk beristirahat agar semangat tetap terjaga. Yang terpenting adalah menjaga kesinambungan amal dan tidak meninggalkannya karena rasa bosan (Fatḥ al-Bārī, jil. 1, hlm. 345).
Belajar Bertahap, Hasilnya Lebih Bermakna
Pesan hadis ini sangat relevan dengan tradisi pendidikan Islam di Indonesia, khususnya di lingkungan pesantren yang mengenal metode wetonan atau bandongan. Istilah wetonan berasal dari bahasa Jawa wektu yang berarti “waktu”, karena kegiatan belajar dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu sesuai jadwal yang ditetapkan oleh kiai.
Baca juga: Metode Pembelajaran di Pesantren (1/2)
Tradisi ini sejalan dengan metode Rasulullah ﷺ yang memberikan nasihat secara berkala (waqtan fa waqtan), sehingga para penuntut ilmu tidak merasa jenuh dan tetap antusias mengikuti pembelajaran. Dalam praktiknya, metode wetonan dilakukan dengan cara kiai membaca dan menjelaskan kitab, sedangkan para santri menyimak sambil memberi harakat, menerjemahkan, dan menuliskan penjelasan guru pada kitab masing-masing.
Tradisi ini tidak hanya melatih ketelitian dalam memahami teks, tetapi juga membangun kedekatan antara guru dan murid. Proses belajar berlangsung secara bertahap sehingga materi dapat dipahami dengan lebih mendalam tanpa membebani peserta didik.
Di era pendidikan modern, prinsip yang terkandung dalam hadis ini tetap relevan. Guru, dosen, maupun dai dituntut mampu mengatur ritme pembelajaran agar tidak terlalu padat dan melelahkan. Variasi metode, pemberian jeda, diskusi, serta penyesuaian materi dengan kemampuan peserta didik merupakan bagian dari strategi pembelajaran yang telah dicontohkan Rasulullah ﷺ. Dengan cara demikian, proses belajar menjadi lebih menyenangkan, efektif, dan mampu menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu.
Konsistensi Lebih Baik daripada Semangat Sesaat
Hadis ini mengajarkan bahwa pendidikan yang berhasil tidak hanya bergantung pada banyaknya materi atau seringnya nasihat diberikan, tetapi pada kemampuan pendidik memahami kondisi peserta didik. Rasulullah ﷺ memberikan teladan bahwa nasihat yang disampaikan secara bertahap dan pada waktu yang tepat akan lebih mudah diterima, dipahami, dan diamalkan.
Dalam konteks masyarakat Indonesia, prinsip ini menjadi dasar penting dalam membangun proses pembelajaran yang humanis, tidak membebani, serta mampu menumbuhkan semangat belajar dan beramal secara berkelanjutan.
10 total views, 10 views today

