NGAJI HADIS SAHIH BUKHARI #16

Pesan Nabi ﷺ Tentang Anṣār: Menjaga Hati, Menjaga Harmoni

حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ، قَالَ: حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، قَالَ: أَخْبَرَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَبْرٍ، قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسًا، عَنِ النَّبِيِّ قَالَ: ” آيَةُ الْإِيمَانِ حُبُّ الْأَنْصَارِ، وَآيَةُ النِّفَاقِ بُغْضُ الْأَنْصَارِ “

Telah menceritakan kepada kami Abu al-Walid, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, ia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Abdullah bin Abdillah bin Jabr, ia berkata: Aku mendengar Anas, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Tanda keimanan yaitu mencintai (kaum) Anshar, sementara tanda kemunafikan yaitu membenci (kaum) Anshar.”

HR. Bukhari No. 16

Bagaimana Para Ulama Memaknai Hadis Ini?

Kaum Anṣār adalah kelompok yang menolong Rasulullah di Madinah, khususnya dari suku Aus dan Khazraj (Al-‘Asqalānī, 1993:105). Nabi Muhammad kemudian menyebut mereka dengan istilah Anṣār (penolong). Disebut demikian karena mereka dengan penuh keikhlasan membantu Nabi ﷺ dan kaum Muhājirīn, bahkan rela mengorbankan harta serta jiwa, mendahulukan kepentingan orang lain dibandingkan dengan diri mereka sendiri.

Ibnu Ḥajar menjelaskan bahwa sikap kaum Anṣār yang menolong Nabi ﷺ justru membuat mereka dibenci oleh sebagian kabilah lain, baik dari bangsa Arab maupun non-Arab. Karena itu, Nabi ﷺ memperingatkan agar kaum Muslimin tidak membenci mereka, melainkan mencintai mereka. Cinta kepada kaum Anṣār menjadi tanda keimanan, sedangkan membenci mereka merupakan tanda kemunafikan.

Namun, muncul pertanyaan: apakah tanda keimanan hanya terbatas pada mencintai kaum Anṣār? Sesungguhnya maksud hadis ini bukan demikian. Nabi ﷺ melalui hadis tersebut ingin menegaskan keutamaan kaum Anṣār. Membenci mereka memang bukan satu-satunya indikator kemunafikan, tetapi orang yang tidak senang melihat kaum Anṣār berbondong-bondong menolong Nabi ﷺ dapat dikategorikan sebagai munafik.

Bagaimana dengan orang kafir? Mereka bukan hanya membenci kaum Anṣār, tetapi juga melakukan tindakan yang lebih jauh. Lalu mengapa sekadar kebencian sudah dianggap sebagai tanda kemunafikan? Hal ini karena redaksi hadis seakan menekankan bahwa membenci kaum Anṣār adalah ciri orang munafik. Namun, maksud sebenarnya bukanlah sekadar literal teks, melainkan peringatan agar hati dijaga dari kebencian, terlebih kepada kaum Anṣār yang telah menolong Nabi ﷺ (Al-‘Asqalānī, 1993:105).

Belajar Harmoni dari Kisah Anṣār dan Muhājirīn

Peran kaum Anṣār sebagai penolong kaum Muhājirīn dapat dijadikan refleksi dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya dalam hubungan antara penduduk asli dan pendatang. Relasi keduanya seharusnya saling menguatkan. Dalam kenyataan, sering kali muncul resistensi dari penduduk pribumi terhadap pendatang sehingga menimbulkan ketegangan.

Hadis ini mengajarkan pentingnya membangun hubungan harmonis antara pendatang dan pribumi agar tidak terjadi konflik yang meresahkan masyarakat. Rasulullah ﷺ menegaskan hal ini sebagai bentuk penghargaan atas ketulusan kaum Anṣār yang menerima Nabi ﷺ dan kaum Muhājirīn di Madinah (Yatsrib) pada masa hijrah. Untuk mempererat persaudaraan, Rasulullah ﷺ kemudian mempersaudarakan kaum Anṣār dengan kaum Muhājirīn.

Baca juga: Terjalinnya Persaudaraan Muhajirin dengan Anshar

Hikmah Penting dari Kisah Ini

Hadis ini menekankan pentingnya hubungan baik antara dua kelompok: Anṣār dan Muhājirīn. Dalam konteks masyarakat kita, hal ini dapat dipahami sebagai hubungan antara penduduk asli dan pendatang. Hubungan yang harmonis akan menciptakan rasa saling percaya dan memperkuat ikatan sosial. Sebaliknya, hubungan yang tidak baik akan menimbulkan kecurigaan, ketidakpercayaan, bahkan sikap berpura-pura ramah ketika berinteraksi.

Dengan demikian, hadis ini menjadi pedoman agar masyarakat senantiasa menjaga keharmonisan, saling menolong, dan menghindari kebencian, terutama terhadap kelompok yang telah berjasa dalam perjuangan agama.

 50 total views,  8 views today

Posted in Kajian.