NGAJI HADIS SAHIH BUKHARI #11

Islam, Kepedulian Sosial, dan Persaudaraan

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ خَالِدٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ يَزِيدَ عَنْ أَبِي الْخَيْرِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْإِسْلَامِ خَيْرٌ قَالَ تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin Khalid, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami al-Laits, dari Yazid, dari Abu al-Khair, dari Abdullah bin ‘Amr radhiallahu’anhuma, bahwasanya pernah ada seseorang yang bertanya kepada Nabi ﷺ: “Bagaimanakah Islam yang paling baik itu?” Nabi ﷺ menjawab: “Engkau memberi makan, dan mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal.” 

HR. Bukhari No. 11

Bagaimana Para Ulama Memaknai Hadis Ini?

Setelah kita mempelajari adab menjaga lisan dan anggota tubuh lainnya, Nabi Muhammad saw. memberikan solusi agar tangan digunakan untuk hal bermanfaat, seperti memberi makan orang yang membutuhkan, sehingga tidak dipakai untuk mengganggu orang lain. Begitu pula lisan, diarahkan untuk menebarkan salam, bukan menyakiti sesama (Ibnu Hajar al-‘Asqalani, 2005). Imam al-Bukhari menekankan bahwa ucapan baik dan pemberian kepada yang membutuhkan merupakan cara untuk mengatasi masalah yang sering dihadapi seorang Muslim.

Hadis tersebut mencakup dua akhlak mulia: ‘ibādah badaniyyah, yaitu ibadah yang melibatkan anggota tubuh, seperti mengucapkan salam kepada orang yang dikenal maupun tidak dikenal; dan ‘ibādah māliyyah, yaitu ibadah yang berkaitan dengan harta, seperti memberi makan orang yang membutuhkan (Zakaria al-Anshari, 2005). Namun, yang lebih utama adalah menggabungkan keduanya: ‘ibādah badaniyyah dan ‘ibādah māliyyah.

Terkait salam kepada non-muslim, hukum Islam pada dasarnya tidak memperbolehkan, sebagaimana hadis riwayat Imam Muslim: “Janganlah kalian memulai salam kepada Yahudi dan Nasrani.” Namun, dalam kondisi tertentu—misalnya ketika Muslim dan non-muslim hidup berdampingan atau berkumpul dalam satu tempat—diperbolehkan mengucapkan salam (al-Rajihi, 2005). Hal ini sesuai dengan praktik Nabi yang juga diabadikan dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim.

Menebar Salam, Memberi Makan: Manifestasi Iman dalam Realitas

Ibadah seseorang seharusnya memberi dampak positif bagi diri, keluarga, dan masyarakat. Iman dan amal saleh menjadi inti keberagamaan. Salah satu contoh yang ditunjukkan hadis adalah memberi makan, sejalan dengan perintah Allah swt. dalam Q.S. al-Ma‘un (107): 3.

Ayat tersebut menegaskan bahwa orang yang enggan memberi makan anak yatim tidak layak disebut beragama. Maka, pemberian makan dalam hadis menjadi simbol kepedulian umat Islam terhadap sesama manusia.

Prinsip memberi makan adalah wujud kepedulian sosial Islam terhadap kaum lemah. Hal ini terkait pula dengan zakat, agar harta tidak menumpuk pada segelintir orang atau wilayah tertentu, melainkan berputar sehingga menggerakkan ekonomi. Semangat ini menguatkan kaum lemah agar bangkit menghadapi kehidupan dengan dukungan sesama.

Banyak kisah nyata menunjukkan keberkahan dari kebiasaan berbagi. Seorang pedagang kain asal Medan dengan delapan anak, empat di antaranya menjadi dokter, meyakini bahwa memberi makan adalah bagian dari sedekah. Ia pernah mengalami musibah kebakaran di pasar, namun kiosnya selamat meski kios di sekitarnya terbakar.

Demikian pula seorang pengusaha di Makassar yang rutin membantu anak yatim dengan makanan dan uang, lalu Allah memudahkan usaha dan bisnisnya. Kisah-kisah ini disampaikan di Masjid Nabawi, Madinah, pada musim Haji 2018.

Islam menekankan kepedulian sosial sebagai penentu kualitas seseorang di hadapan Allah. Salam, sebagai doa keselamatan, adalah manifestasi kebaikan. Namun, praktik salam tidak selalu mudah. Misalnya, dalam komunitas Salafi, terdapat perbedaan antara kelompok moderat dan kelompok murni. Salafi moderat di Jember menceritakan bahwa salam mereka kadang tidak dibalas oleh Salafi murni. Hal ini menunjukkan adanya sikap eksklusif dalam sebagian kelompok Islam.

Padahal, anjuran salam berlaku untuk semua, baik yang dikenal maupun tidak. Salam memperkuat persaudaraan, meningkatkan kerja sama, dan menjadi tanda toleransi. Dengan demikian, salam adalah simbol Islam yang baik dan terbuka.

Salam dan Sedekah sebagai Inti Keimanan

Dua amal utama yang menjadi bagian penting dari iman adalah: memberi makan kepada yang membutuhkan dan mengucapkan salam kepada sesama, baik yang dikenal maupun tidak. Inti ajaran Islam dalam al-Qur’an dan hadis menekankan kepedulian terhadap realitas kehidupan.

Hal itu diwujudkan dengan memberi makan dan menebar salam sebagai doa keselamatan, rahmat, dan keberkahan. Salam juga menjadi sarana memperkuat persaudaraan antar manusia, sehingga tercipta kedamaian dan persatuan.

 18 total views,  8 views today

Posted in Kajian.