Al-Qur’an dan Hadis Braille Digital pada Pendidikan Khusus

Faridah

UIN Sunan Kalijaga

19105030007 @student.uin-suka.ac.id

 

Sebagai seorang muslim, kita tidak boleh asing dengan al-Qur’an dan Hadis, karena keduanya merupakan pedoman dalam menjalankan kehidupan agar kita tidak tersesat dan mencapai keridloan Allah Swt.

 

Hadis merupakan penjelas, pelengkap ataupun perinci dari kitab suci utama yakni al-Qur’an. Bukankah al-Qur’an telah membahas segala hal yang terdapat pada alam semesta ini? Benar, al-Qur’an mencakup segala hal di alam semesta ini. Namun, isi al-Qur’an tersebut ringkas dan menggunakan sastra yang tinggi. Karena tidak mungkin al-Qur’an menjelaskan secara detail dan bertele-tele tentang suatu bidang misalnya, nantinya akan panjang dan tidak mudah dihafal sebagaimana salah satu mukjizat al-Qur’an. Maka dari itu, hadis hadir untuk menjadi pelengkap bagi al-Qur’an tetapi tetap tidak untuk menyingkirkannya.

 

Bagi kita, seorang muslim yang dianugerahkan anggota fisik secara lengkap, mempelajari hadis bukanlah suatu rintangan yang sukar, tetapi bagi mereka yang memiliki kebutuhan khusus yakni penyandang disabilitas terutama tunanetra, mempelajari hadis adalah hal yang sangat sukar atau bahkan tidak mungkin. Karena terbatasnya penglihatan mereka, minimnya tenaga pengajar serta belum terpenuhinya media pembelajaran yang sesuai dengan keadaan mereka.

 

Di sisi lain, alternatif yang banyak digunakan bagi para tunanetra yang ingin dapat membaca adalah dengan bantuan huruf braille. Melirik sejarah, kita tidak boleh melupakan jasa Louis Braille yang telah menciptakan huruf braille. Beliau memiliki kelemahan dalam penglihatan karena matanya tertusuk jarum. Berangkat dari hal tersebut, beliau mendapat ide untuk menciptakan huruf braille dari seorang tentara bernama Charles Barbier yang memperkenalkan huruf-huruf dengan kode 12 titik sebagai kode bagi para prajurit yang dinamakan night writing (tulisan malam). Mengadopsi dari hal tersebut Louis mencoba membuat huruf-huruf dengan 6 titik saja. Akhirnya buku pertama terbit pada tahun 1827 M. Sistem tersebut digunakan oleh mayoritas penyandang tunanetra hingga saat ini.

 

Seiring perkembangan zaman, huruf braille tidak hanya digunakan pada teks-teks di bidang pendidikan saja, tetapi mulai banyak timbulnya kesadaran akan teks-teks berbau agama yang disalin dengan huruf braille. Contohnya adalah kitab-kitab agama yang disalin dengan huruf braille dan teks-teks agama lainnya.

 

Kitab suci umat Islam yakni al-Qur’an, telah lama mendapat perhatian untuk kemudian disalin dengan huruf braille. Al-Qur’an braille pertama di Indonesia memiliki beberapa versi :

  1. Versi pertama adalah al-Qur’an braille diterbitkan oleh Yordania pada tahun 1962 M kemudian dikirimkan oleh Prof. Dr. Mahmud Syaltut dan dibubuhi tanda tangan beliau pada tahun 1965 M di sampul al-Qur’an tersebut.
  2. Versi kedua, al-Qur’an braille ada di Indonesia pada tahun 1954 M merupakan invetaris Departemen Sosial sebagai sumbangan dari pihak Yordania. Kemudian al-Qur’an ini dapat dibaca oleh Abdul Somad dan ditulis tangan oleh Yayasan Kesejahteraan Tunanetra Islam (Yaketunis) Yogyakarta.
  3. Versi ketiga, al-Qur’an braille diakui sejak lama berada di Perpustakaan Yayasan Penyantun Wyata Guna Bandung, Jawa Barat. Tetapi, tidak disebutkan tanggal atau tahun tepatnya dan tidak ada yang pernah membacanya karena belum ada yang bisa membacanya. Sampai suatu saat Abdullah yatim piatu dapat membacanya.
  4. Versi keempat, salah seorang pimpinan Yayasan Penyantun Wyata Guna, HR Rasikin menyebutkan di dalam makalahnya bahwa al-Qur’an braille pertama di Indonesia ada pada sekitar tahun 1954 M yang kemudian diterima oleh LPPBI (badan di bawah pimpinan departemen sosial). Tahun 1956 M barulah al-Qur’an tersebut dikirim ke Yogkarta karena dianggap disanalah banyak aktivitas yang berkaitan dengan tunanetra.

 

Teknologi semakin berkembang, segala bidang di kehidupan ini tidak dapat terlepas dari teknologi. Mungkin dapat dikatakan semakin canggih, semakin praktis. Salah satu contohnya adalah bahwa setiap orang tidak dapat terlepas dari handphone, terutama handphone layar sentuh yang sudah menjamur di tahun 2020 ini. Dengan penjamuan berbagai aplikasi yang tersedia, pengguna diharapkan puas dan lebih mudah mengakses segala sesuatu.

 

Mengenai aplikasi, ia bukan hanya sebagai ajang hiburan di dunia maya saja. Namun, orang-orang Islam telah banyak memperhatikan aplikasi di bidang keagamaan dan tentu telah banyak terealisasikan. Aplikasi al-Qur’an misalnya, dari mulai al-Qur’an pojok tanpa terjemah, al-Qur’an dengan terjemah, audio murottal al-Qur’an dan sebagainya.

Aplikasi hadis juga mulai menjadi pusat perhatian, karena ia merupakan salah satu sumber kajian umat Islam. Sehingga kita merasa praktis dengan adanya aplikasi tersebut dan diharapkan tentu semakin bersemangat dalam menekuni dunia keislaman. Contohnya adalah aplikasi Hadis Soft, ensiklopedia hadis 9 imam dan sebagainya.

 

Kita diharapkan tidak melupakan saudara kita yang memiliki keterbatasan fisik maupun mental, terutama yang menjadi fokus tulisan ini adalah tunenetra. Mereka juga berhak berkembang, mendapat perhatian, berpendidikan dan berprestasi. Untuk itu, salah satu hal yang bisa diupayakan adalah adanya software hadis braille yang mendukung untuk mereka di zaman yang serba canggih ini.

 

Teknologi apple, dengan ipad dan iphone sebagai keluarannya, telah banyak memberikan program yang mendukung mereka yang memiliki keterbatasan fisik maupun mental terutama pada tunanetra. Yakni dapat mengubah ukuran tulisan, mengubah warna latar belakang dan juga dapat mengeluarkan suara yang disuarakan sesuai dengan teks yang ada di layar.

 

Di bidang al-Qur’an dan Hadis, juga mulai diadakannya software al-Qur’an dan hadis braille yang diharapkan tentunya dapat membantu mereka yang berkebutuhan khusus agar lebih merasa semangat dalam belajar teks-teks Islam dan lebih memudahkan dalam memahaminya. Karena sekali lagi, keterbatasan mereka tidak boleh menyurutkan mereka untuk mengenal Islam lebih dalam.

 

Stan Fakultas Ushuluddin dalam acara Akreditasi Perguruan Tinggi (APT) Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati pada Jum’at, 01 Maret 2019 sempat mencuri perhatian tim asesor. Di stan tersebut disajikan buku hadis braille yang dapat dibaca dengan mesin pembaca otomatis. Yaitu dengan menempelkan ujung mesin audio yang mirip seperti lampu senter maka secara otomatis akan mengeluarkan suara yang dapat diset dengan salah satu dari 3 bahasa, yaitu bahasa Indonesia, Arab dan Inggris. Hal tersebut merupakan kerjasama fakultas dan Kementrian Sosial Republik Indonesia yang nantinya akan dikembangkan dan diperuntukkan bagi Yayasan atau lembaga yang fokus dalam menangani tunanetra.

 

Media pembelajaran al-Qur’an bagi tunanetra salah satunya adalah dengan al-Qur’an Braille Book. Media tersebut berisi tentang huruf latin braille dan arab braille sehingga mereka tidak buta huruf dan asing dengan kitab Islam yang menggunakan bahasa arab. adapun al-Qur’an Braille Digital yang terdiri dari buku petunjuk dan pen voice (pena suara). Ketika pen voice disentuhkan atau diletakkan pada suatu huruf atau ayat pada buku petunjuk, maka otomatis ia akan mengeluarkan suara sesuai yang ada di buku petunjuk tersebut. Suara tersebut adalah berasal dari suara para qori’ dan dapat dipilih sesuai selera kita. Hal ini dapat memudahkan bagi mereka para tunanetra untuk menghafalkan al-Qur’an.

 

Adapun aplikasi di playstore yang mengeluarkan suara al-Qur’an serta tulisan al-Qur’an tersebut. Mirip seperti al-Qur’an Braille Digital akan tetapi pada pilihan menu, tidak terdapat pilihan huruf braille latin dan arab, sehingga tidak adanya pengenalan akan huruf-huruf braille.

 

Penjabaran singkat di atas belumlah sempurna, namun penulis berharap dapat dipahami dengan mudah oleh pembaca. Serta penulis berharap akan adanya perkembangan teknologi terutama aplikasi yang memuat tentang al-Qur’an dan Hadis Braille sehingga mereka para tunanetra tidak merasa tersisihkan dan memudahkan mereka dalam berkegiatan, terutama berkegiatan yang berkaitan dengan pendidikan agama.

 3,369 total views,  6 views today

Posted in Opini.