KENALI AKHLAKKU KEPADAMU ANAKKU

Nur Hafidz

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

20204031015@student.uin-suka.ac.id

 

 

Bagi umat muslim tentunya berharap anak-anak tumbuh berakhlak mulia. Seperti anak-anak meniru mencontohkan etika Rasulullah saw dalam kegiatan keseharian aktivitasnya. Hal ini salah satu pengorbanan sebagai umatnya kecintaan dan penghormatan kepada Rasul. Dua perilaku sudah semestinya tertanam sejak usia dini. Anak usia dini membutuhkan stimulus dan ransangan yang positif dari lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat yang berorientasi tumbuh kembang anak.

 

Sebab, anak-anak supaya tidak terbawa perilaku, etika, dan moral yang di nilai kurang baik akan sampai usia remaja sampai tua. Seperti yang kita tahu, Rasulullah saw ketika bangun tidur sampai tidur lagi memiliki tata karma yang baik. Inilah yang dinamakn sifat akhlak terpuji beliau. Sehingga tugas orang tua sebagai pendidik adalah menerapkan dan mengarahkan sikap akhlak terpuji Rasulullah kepada anak didiknya.  Akhlak terpuji Rasulullah saw dibuktikan dengan QS. Al-Ahzab:21 berbunyi ‘‘Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah sebagai suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah’’.

 

 

Akhlak terpuji Rasul beragam, beragam setiap perilaku keseharian yang mempunyai suri tauladan yang seharusnya orangtua atau pendidik mencontoh. Hal ini tanda bahwa anak-anak menjadi rujukan adanya perilaku, perbuatan, dan perkataan Rasul yang sebagai sorotan nilai akhlak, moral dan karakter baik. Sifat akhlak terpuji Rasul ada empat yang wajib di implementasikan dalam ajaran umat Islam terutama sejak anak perlu ditanamkan.

 

Pertama, sidik atau jujur.  Perbuatan menjelaskan sesuatu data fakta yang ada disebut jujur. Kejujuran Rasulullah saw sudah komprehensif tidak hanya diakui oleh kerabat dan saudaranya bahkan diakui juga oleh musuhnya. Satu kesaksian lain yaitu kesaksian musuh beliau, Abu Jahal. Ali bin Abu Thalib meriwayatkan bahwa Abu Jahal berkata kepada Rasululullah saw “Kami tidak mengatakan engkau dusta. Namun, kami menganggap dusta ajaran yang engkau bawa”. Disinilah  Rasulullah saw diuji berbagai persoalan seperti dianggap bohong, fitnah, bahkan ajarannya menyesatkan. namun Rasulullah saw. selalu jujur, jujur dalam perkataannya dan perbuatannya.

 

 

Anak-anak demikian. Entah bagaimana pun dilingkungan yang berbeda, kondisi berbeda, sifat kejujuran harus dimiliki anak-anak sejak dini. Hal ini sebagai tanda anak hebat adalah jujur. Sikap inilah yang menjadi anak kita di ajarkan sifat jujur dimana anak melakukan beribadah, berteman, berkomunikasi, dan bermain. Maka pentingnya sikap kejujuran dapat kemanfaatan diri sendiri dan membawa nama baik keluarganya.

 

 

Kedua, Amanah tau dapat dipercaya. Amanahnya Rasulullah saw. selalu meyampaikan perintah dengan baik. Artinya ‘bertanggung jawab’. Rasul diberikan amanah untuk mengantarkan ajaran Islam kepada umatnya dengan sebaiknya meskipun nyawa, raga, dan jiwa adalah taruhannya. Menepati janji tak bisa melihat postur tubuh, usia, atau ilmu. Namun, bagaimana diri kita sendiri memposisikan seperti rasul. Sebab, kepercayaan seseorang akan dinilai oleh orang lain dalam sikap amanahnya. Maka sifa amanah dikenalkan anak supaya bertanggung jawab atas tugas yang di milikinya sehingga anak-anak akan memecahkan problem dengan baik.

 

Ketiga, tablig atau menyampaikan. Sikap menyampaikan ajaran Allah swt. berupa wahyu yang disampaikan kepada umatnya agar menjadi petunjuk kehidupan untuk manusia. Rasulullah selalu menyampaikan firman-Nya kepada manusia dan tidak satupun amanah atau titipan yang tidak sampai kepada alamatnya. Dengan demikian, anak-anak mempresentasi atau berkomunikasi menggunakan sebuah kata, suku kata dan kalimat secara langsung dengan arti memberi informasi melalui panca indra yang aktif. Maka sifat tabligh bagi usia dini perlu dikenali dalam interaksi sehari-hari anak.

 

 

Sikap anak dalam tablig sesuatu harus direspon, sebab tablig anak-anak ketika dijawab dengan baik anak-anak akan merasa percaya diri, dan sikap sosial akan bangun. Berbeda dengan orang dewasa yang seharusnya dijawab, namun tidak ada respon maka konsep ini akan berdampak emosional orang. Hal ini dapat kita petik bahwa anak-anak belajar tablig sesuatu kepada orangtua, teman yang ada disekelilingnya merupakan sikap tabligh.

Keempat, fatanah atau cerdas. Cerdas merupakan sikap yang pasti di miliki Rasulullah saw. Seperti halnya anak-anak yang dalam kehidupannya mendapat pengalaman baru dan anak-anak menyelesaikan masalah dengan mandiri sehingga kognitif anak, bahasanya dan mental anak menjadi kuat. Dengan demikian, tugas orang tua yaitu mengkondisikan anak rajin belajar, berpikir kreatif, pandai menciptakan sesuatu baru dari pengalaman yang dialaminya.

 

Fatanah anak dapat dilihat dari gerak-gerik sosial, sikap etika dalam interaksi dalam komunikasi keseharian anak. Dengan demikian, melatih fatanah anak dapat dikenalkan dari orang tua melalui permainan edukasi, diskusi, ataupun pembelajaran kreatif untuk membangun sikap fatanah melekat pada diri anak.

 

 

Demikian empat poin dalam etika, sikap, akhlak Rasulullah saw. yang dipaparkan di atas merupakan etika akhlak yang akan ditiru dan akan diserap kepada anak sejak dini. Melihat kondisi saat ini yang sudah banyak anak-anak bergaul tidak wajar, kerusakan moral, otomatis dari hal-hal yang lebih kecil dianggap remeh. Jika saja keempat ini ada pada diri anak, pergaulan diri anak akan lebur. Kemudian aspek perkembangan agama dan moral anak menjadi optimal. Optimal dengan desain penerapan sikap terpuji Rasulullah saw. kepada anak usia dini melalui prilaku imitasi. di sinilah anak-anak tahu bahwa akhlakku adalah anak-anaku yang serupa denganku.

 2,228 total views,  4 views today

Posted in Kajian.