Muhammad Saw. Insan Kamil yang Berakhlak al-Qur’an

Faqih Bramasta

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

19105030026@student.uin-suka.ac.id

 

Muhammad kecil dilahirkan di tengah sosio-kultur masyarakat jahiliyah, dimana kebobrokan moral dan keimanan menjadi salah satu bagian dari antropologi kehidupan. Bukan tidak ada maksud Allah Swt. menempatkan Muhammad kecil di tengah masyarakat yang diselimuti demikian kegelapan. Melainkan Allah Swt. kelak akan memberikan risalah kepadanya dengan visi dan misi mengentas kebodohan, khususnya untuk menyempurnakan moral kehidupan. Hal ini bisa dibuktikan dengan hadis yang sudah familiar di kalangan kita, yaitu buitstu li utammima makarimal al akhlaq.

 

Untuk merealisasikan visi dan misi tersebut, Muhammad kecil benar – benar dipersiapkan dengan matang oleh Allah Swt. dengan mendidik moralnya selama 40 tahun. Baru setelah itu Muhammad kecil diberikan legalitas untuk berdakwah dan sekaligus mengemban status kerasulan, Rasulullah Muhammad Saw. Bukti keberhasilan Allah dalam membentuk moral Muhammad kecil adalah dengan melekatnya gelar Al Amin yang diberikan masyarakat kepada diri Muhammad.

 

Sebetulnya, tanpa ada wahyu yang diturunkan Muhammad kecil sudah bisa menyebarkan ajarannya, apa yang ia katakan akan dipercayai masyarakat, dan ini berkat gelar yang disandang. Namun Allah Swt. berkehendak lain, Allah  justeru menurunkan wahyunya yang berupa Alquran dan Hadis qudsi sebagai panduan kehidupan. Padahal terkadang Alquran sulit untuk dirasionalkan, sehingga banyak masyarakat yang melakukan pengingkaran.

 

Namun bukan berarti Alquran patut kita salahkan, sebab semuanya memiliki kemanfaatan. Salah satu manfaat diturunkannya Alquran adalah sebagai penyempurna moral Muhammad kecil, sehingga kita kenal khuluquhu Alquran. Ketika Muhammad kecil mempunyai khuluquhu Alquran, maka harus dijadikan cerminan dalam bersosialisasi kehidupan sebab Ia telah menjadi utusan Tuhan. Dengan demikian, tidak ada cerminan moral yang patut dijadikan panutan kecuali Nabi Muhammad Saw. sang Khoirul Anam.

 

Sebagai cerminan akhlak insan kamilan, Alquran adalah kitab pedoman, terus relevan di setiap zaman dan makan. Menjawab setiap problem yang dibutuhkan demi ketentraman dan ketenangan umat insan. Sebab Alquran tidak hanya diturunkan bagi umat islam, melainkan  umat seluruh alam. Namun bukan berarti saudara kita yang berbeda keimanan ikut serta mempelajari Alquran. Walaupun ada sarjana barat yang mempelajari agama islam di Timur, namun bukan berarti dari para orientalis tersebut mereka belajar Alquran. Melainkan dari cerminan pada diri kita sebagai umat beriman, bagaimana perilaku yang kita lakukan.

 

Selayaknya Alquran, Khuluquhul khoirul anam tidak ada batas berlakunya sampai kapan dan tidak ada ketentuan tempat yang terpetakan. Khuluquhu menjadi barometer kesopanan agar terciptanya tatanan antropologi kehidupan yang menyejukkan. Membangun peradaban baru sesuai dengan hukum kepasangan. Tanpa adanya hukum kepasangan hidup ini tidak akan ada keseimbangan. Padahal keseimbangan adalah kunci utama dalam kehidupan, agar tidak terjerumus kedalam jurang kehancuran.

 

Tidak saja mencegah kita dari kehancuran, akhlak juga menjadi sebuah cerminan ke-Esa-an. Sebab dikatakan bahwa ke-Esa-an akan menumbuhkan Iman, dan Iman memunculkan aturan (syariah), adapun aturan menunjukkan moral kehidupan. Maka barangsiapa tidak bermoral maka tidak memiliki aturan. Ketika tidak memiliki aturan maka ia tidak memiliki iman, dan barangsiapa tidak memiliki iman maka tidak ada pada dirinya ke-Esa-an. Konteks Ke-Esa-an disini tidak lain dan tidak bukan adalah ke-Esa-an Allah atas semua tuhan. Dan tentunya konteks akhlak disini adalah khuluqul Quran, karena itu merupakan cerminan akhlak kamilan. Dengan demikian, kita mengetahui bagaimana urgensi Khuluquhul quran dalam kehidupan, baik berinteraksi dengan tuhan maupun sosial kemasyarakatan di setiap zaman dan makan.

 3,035 total views,  2 views today

Posted in Opini.