Bagas Maulana Ihza Al Akbar
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
19105030068@student.uin-suka.ac.id
Dalam Islam terdapat berbagai macam hari-hari besar yang diperingati karena keistimewaan dan kesakralannya. Setiap hari besar dilatarbelakangi oleh sisi historis yang berbeda-beda. Biasanya ditandai oleh peristiwa-peristiwa penting yang terjadi pada masa itu. Mulai dari peristiwa yang terjadi sebelum diutusnya Nabi Muhammad saw. seperti kewajiban berquran sebagai perintah Allah kepada Nabi Ibrahim a.s yang diimplementasikan dalam Hari Raya Idul Adha, hingga Maulid Nabi sebagai peringatan kelahiran Nabi Agung Muhammad saw.
Seperti saat ini kita telah memasuki bulan Rabi’ul Awwal atau biasa disebut Maulud. Pada bulan ini Rasulullah saw. dilahirkan, yang bertepatan pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal. Hari tersebut menjadi hal yang lumrah diperingati oleh umat muslim di seluruh penjuru dunia sebagai bentuk apresiasi dan kegembiraan atas kelahiran Rasul Akhir Zaman. Biasanya diaktualisasikan dengan berbagai bentuk acara keagamaan sesuai dengan budaya masing-masing negara, termasuk Indonesia.
Kehadiran Islam di Indonesia tentunya dalam situasi masyarakat yang kental dengan budaya atau adat istiadat. Dalam prakteknya, budaya tersebut malah diadopsi oleh Islam dan diakulturasikan dengan tradisi keislaman yang luwes. Memang inilah bentuk manifestasi salah satu misi Islam sebagai Rahmatal lil alamin yaitu dengan tetap mengakomodir budaya lokal masyarakat, dalam menyebarkan risalah keagamaan dan menyempurnakan akhlaq serta aqidah umat. Islam datang untuk membingkai budaya tersebut dengan nuansa dan warna baru, berupa nilai-nilai keislaman.
Hal ini pula yang diimplementasikan dalam Peringatan Maulid Nabi. Selain dilangsungkan dengan pembacaan maulid al-Barzanji ataupun al-Diba’i, Peringatan Maulid Nabi di Indonesia juga diadakan dengan beraneka ragam acara sesuai dengan latar belakang sosio-historis masyarakat daerah yang berbeda-beda. Beberapa kegiatan tersebut seperti Maulid Nabi di Yogyakarta yang diperingati dengan tradisi Grebek Mulud, yaitu semacam prosesi arak-arakan gunungan dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menuju alun-alun utara sampai berakhir di Masjid Agung Kauman.
Gunungan tersebut biasanya berisi hasil bumi ataupun makanan-makanan tradisional yang kemudian dibagikan kepada masyarakat yang ikut serta dalam puncak acara tersebut. Tradisi ini juga biasa disebut Sekaten yang merupakan asal kata syahadatain atau dua kalimat syahadat sebagai bentuk pengejawantahan dari Rukun Islam yang pertama, dan masih banyak filosofi yang lain.
Tak hanya itu, di Kalimantan Selatan tradisi Perayaan Maulid Nabi juga dilakukan dengan cara yang berbeda. Acaranya sering disebut Baayun Mulud. Kegiatannya adalah mengayun bayi atau anak yang berusia nol sampai lima tahun dengan sembari melantunkan syair-syair Maulid Nabi. Hal ini sebagai ungkapan rasa syukur atas kelahiran Sang Kekasih Allah.
Ada pula tradisi Maudu Lompoa di Cikoang Takalar, Sulawesi Selatan yang sarat dengan nilai tasawuf. Karena tradisi ini dilakukan diatas perahu yang dihiasi oleh telor dan aneka makanan. Kemudian ada juga tradisi Babaca Maulid Nabi yang dipadukan dengan iringan rebana di Ternate.
Sementara itu, di Sumatera Barat terdapat kegiatan dengan istilah Bajamba, Malamang, dan Badikia. Tradisi makan bersama di suatu masjid atau surau pada Perayaan Maulid Nabi disebut Bajamba, kemudian hidangan yang disediakan biasanya berupa makanan tradisional masyarakat setempat yang disebut lamang. Sedangkan Badikia sendiri adalah pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an dengan irama atau langgam yang khas secara bersama-sama. Berbagai bentuk adat istiadat tersebut adalah bukti autentik simbol-simbol keberagaman sosio-kultural masyarakat Indonesia yang melebur bersama khazanah keislamaan dalam wujud Maulid Nabi.
Integrasi agama dan budaya terbilang menjadi salah satu jurus jitu dalam menjaga eksistensi agama, sekaligus bangsa dan negara. Terlebih pada unsur budaya dan adat istiadat yang telah lebih dulu melekat dalam sanubari masyarakat setempat. Dengan demikian, hakikat ajaran Islam yang berguna sebagai misi kemanusiaan dan menyempurnakan peradaban hidup manusia yang selaras dengan Al-Qur’an dan Hadits dapat terwujud.
Dengan perpaduan nilai serta moral keagamaan dan kultur budaya yang ada, setidaknya membuat kita tidak hanya mampu menekankan sisi religiusitas yang bersifat absolut dan mutlak sebagai umat beragama, tetapi juga sanggup mempertahankan nilai-nilai kebudayaan yang bersifat esensial dan universal sebagai identitas masyarakat berbangsa dan bernegara yang perlu kita lestarikan. Sehingga esensi kaidah ushuliyah al-muhafadzah ala al-qadim al-shalih, wal al-ahdzu bi al-jadid al-ashlah dapat terealisasikan secara nyata dalam kehidupan.
3,450 total views, 4 views today

Sebagai sebuah ijthad dalam rangka mengembangkan kajian Studi Hadis di Indonesia dibentuklah sebuah perkumpulan yang dinamakan dengan Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA). Sebagai sebuah perkumpulan ASILHA menghimpun beragam pemerhati hadis di Indonesia. Himpunan ini terdiri atas akademisi dan praktisi hadis di Indonesia dengan memiliki tujuan yang sama.

