Rasulullah Sebagai Role Model Pembentuk Moral

Musyafa Ali

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

20204031013@student.uin-suka.ac.id

 

Selain krisis ekonomi Indonesia saat ini juga tengah menalami krisis yang mengancam keberlangasungan tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan benegara, yakni krisis moral. Hingga saat ini krisis moral menjadi salah satu permasalahan yang belum dapat teratasi oleh negara. Krisis moral menghampiri dan mengikis nilai-nilai kehidupan manusia dalam bermasyarakat, krisis ini menjadi ancaman besar bagi semua kalangan, dari anak-anak, remaja, hingga dewasa. Orang-orang sering menyebut krisis ini dengan degradasi moral atau terkikisnya nilai-nilai moral pada diri seseorang.

 

Akibat dari degradasi moral ini sudah sangat nampak jelas dalam kehidupan seharai-hari. Penggunaan obat-obat terlarang dikalangan remaja, penyimpangan seks, kekerasan, tawuran dan lain-lain, bukan menjadi hal asing bagi kita. Dan pelaku dari tindakan tersebut adalah penerus bangsa ini, yakni kalangan anak-anak, remaja hingga dewasa. Hal ini terjadi tidak lain tidak bukan karena merostnya,  terkikisnya nilai-nilai karakter moral pada diri seseorang. Tidak dapat dipungkiri usaha pemerintah dalam usaha meminimalisir krisis tersebut, mulai dari penanaman nilai-nilai karakter di lembaga pendidikan mulai dasar hingga pendidikan tinggi.

 

Karakter moral atau akhlak yakni perilaku baik buruk seseorang sesuai dengan standar penilaian masyarakat. Moralitas atau akhlak dalam masyarakat sering dikaitkan dengan perilaku seseorang, saat seseorang berperilaku baik, suka menolong, taat beribadah dan lain sebagainya maka seseorang tersebut memiliki moral yang baik. Hal ini dikarenakan orang itu tidak melakukan perilaku-perilaku yang menyimpang. Begitu pula sebaliknya saat seseorang berbuat keburukan, maka dianggap tidak memiliki moral.

Pendidikan moral telah diada sejak beributahun lalu, hal ini dapat dilihat dari sebab turunya al-quran yakni karena rusaknya tatanan sosial dan terjadinya degradasi moral di negara Arab. Sejak itulah Nabi Muhammad saw mulai mengajak dan mengajarkan nilai-nilai moral pada masyarakat Arab saat itu. Berbagai cara dan pendekatan dalam mendidik masyarakat saat itu demi menata kembali tatanan sosial dan memperbaiki moral masyarakat saat itu.

Nabi Muhammad saw sebagai suri tauladan atau ushaw dalam segala hal, mulai dari bermasyarakat, berpolitik, bergaul, bertetangga, berteman dan lain sebagainya sudah sepantasnya menjadi role model  bagi seluruh umatnya. Akhlak beliau patut di contoh dan diaplikasikan di masa sekarang sebagai bentuk role model dalam membentuk dan menanamkan moral pada masyarakat luas. Hal ini dapat dilakukan  sebagai usaha mengurangi angka kemerosotan moral atau degradasi moral di masyarakat.

Dalam beberapa hadits disebutkan  bahwa orang yang paling mulia adalah orang yang berakhlak mulia. “ Rasulullah saw bersabda, sesungguhnya yang terbaim diantara kalian adalah yang paling baik akhlaknya” HR Al-Bukhari dan Muslim. “Sesungguhnya orang yang paling baik keislamannya adalah yang paling baik akhlaknya” Musnad Ahmad. Dan masih banyak hadis lain yang menyebutkan tentang keutamaan akhlak. Dari dua hadis tersebut dapat dianalisis bahwa akhlak atau moralitas seseorang menjadi salah satu kunci penting dalam menjalani kehidupan baik dunia di dunia maupun di akhirat.

 

Dalam hadis lain disebutkan “kamu tidak bisa memperoleh simpati semua orang dengan hartamu tetapi dengan wajah yang menarik simpati dan dengan kahlak yang baik” HR Abu Ya’la dan Al-Baihaqi. “Diantara akhlak seseorang mukmin adalah berbicara dengan baik, bila mendengarkan pembicaraan tekun, bila berjumpa orang dia menyambut dengan wajah ceria” HR. Ad-Dailami. Dari kedua hadis ini juga dapat dianilisis bahwa sikap moral atau akhlak yang baik akan menarik simpati seseorang, dalam menerapkan akhlak atau moral anak dapat dilakukan dari hal sederhana seperti mendengarkan orang yang berbicara dengan baik, berbicara dengan sopan, dan menyambut seseorang dengan ceria.

 

Krisis moral terus berkembang sejalan dengan perkembangan zaman. Tidak dipungkiri bahwa dari generasi kegenerasi mengalami masa dan perkembangan yang berbeda, hal ini membuat situasi, kondisi dan keadaan sosial yang berbeda pula. Zaman boleh terus berkembang namun moral sebagai ajaran akhlak mulai tidak boleh dihilangkan. Akhlak atau sikap moral Rasulullah saw adalah role model bagi kita semua dalam usaha menjalani kehidupan bermasyarakat yang sesuai dengan nilai-nilai atau norma-norma moral yang  berlaku.

 5,954 total views,  6 views today

Posted in Kajian.