NGAJI HADIS SAHIH BUKHARI #115

Belajar dari Abu Hurairah: Ketekunan Mencari Ilmu di Tengah Kesibukan Dunia

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ الْأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: إِنَّ النَّاسَ يَقُولُونَ أَكْثَرَ أَبُو هُرَيْرَةَ، وَلَوْلَا آيَتَانِ فِي كِتَابِ اللَّهِ مَا حَدَّثْتُ حَدِيثًا، ثُمَّ يَتْلُوف إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ إِلَى قَوْلِهِ الرَّحِيمُق، إِنَّ إِخْوَانَنَا مِنَ الْمُهَاجِرِينَ كَانَ يَشْغَلُهُمْ والصَّفْقُ بِالْأَسْوَاقِ، وَإِنَّ إِخْوَانَنَا مِنَ الْأَنْصَارِ كَانَ يَشْغَلُهُمُ الْعَمَلُ فِي أَمْوَالِهِمْ، ” وَإِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ كَانَ يَلْزَمُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِشِبَعِ بَطْنِهِ، وَيَحْضُرُ مَا لَا يَحْضُرُونَ، وَيَحْفَظُ مَا لَا يَحْفَظُونَ “

Telah menceritakan kepada kami [‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah] berkata, telah menceritakan kepadaku [Malik] dari [Ibnu Syihab] dari [Al A’raj] dari [Abu Hurairah] berkata, “Sesungguhnya orang-orang mengatakan, “Abu Hurairah adalah yang paling banyak (menyampaikan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam), kalau bukan karena dua ayat dalam Kitabullah aku tidak akan menyampaikannya.” Lalu dia membaca ayat: ‘(Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa penjelasan dan petunjuk) ‘ ……hingga akhir ayat.. ‘(Allah Maha Penyayang) ‘ (Qs. Al Baqarah: 159-160). Sesungguhnya saudara-saudara kita dari kalangan Muhajirin, mereka disibukkan dengan perdagangan di pasar-pasar, dan saudara-saudara kita dari kalangan Anshar, mereka disibukkan dengan pekerjaan mereka dalam mengurus harta mereka. sementara Abu Hurairah selalu menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan lapar, ia selalu hadir saat orang-orang tidak bosa hadir, dan ia dapat menghafal saat orang-orang tidak bisa menghafalnya.”

HR. Bukhari No. 115

Syarah Hadis Menurut Ulama

Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī menjelaskan bahwa Abu Hurairah merupakan salah seorang sahabat yang paling banyak menghafal dan meriwayatkan hadis Nabi Saw. Imam al-Syāfi‘ī bahkan menyebutnya sebagai orang yang paling kuat hafalan hadis pada masanya. Ketekunannya mendampingi Rasulullah memberikan kesempatan untuk mendengar dan menghafal berbagai hadis yang tidak selalu disaksikan sahabat lainnya (Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī, 2005).

Baca juga: Mengenal Abu Hurairah, Sahabat yang Paling Banyak Meriwayatkan Hadis

Meskipun memiliki hafalan yang luas, Abu Hurairah tidak meriwayatkan seluruh hadis yang diketahuinya. Ia memahami bahwa menyampaikan ilmu merupakan tanggung jawab, sebagaimana ditegaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 159–160 tentang larangan menyembunyikan petunjuk Allah. Hadis ini menunjukkan bahwa ketekunan belajar harus disertai kesadaran untuk menyampaikan pengetahuan yang bermanfaat kepada orang lain (Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī, 2005).

Meneladani Semangat Belajar Abu Hurairah dalam Kehidupan Indonesia

Ketekunan Abu Hurairah memberikan pelajaran penting bagi masyarakat Indonesia, khususnya pelajar, mahasiswa, santri, dan para pencari ilmu. Kesibukan sehari-hari sering menjadi tantangan untuk belajar secara konsisten. Namun, pengalaman Abu Hurairah menunjukkan bahwa penguasaan ilmu membutuhkan kesungguhan, pengorbanan waktu, dan kedekatan dengan sumber pengetahuan.

Dalam kehidupan modern, mencari ilmu tidak harus dilakukan dengan meninggalkan pekerjaan atau tanggung jawab keluarga. Seseorang dapat mengatur waktu untuk membaca, mengikuti pengajian, berdiskusi, atau memanfaatkan teknologi sebagai sarana pembelajaran. Semangat yang perlu diteladani bukanlah meninggalkan urusan dunia, melainkan menjadikan ilmu sebagai bagian penting dari kehidupan.

Hadis ini juga mengingatkan bahwa ilmu tidak seharusnya berhenti pada kepentingan pribadi. Guru, pendakwah, mahasiswa, dan masyarakat yang memiliki pengetahuan perlu membagikannya secara benar dan bertanggung jawab. Dengan demikian, ilmu dapat menjadi sarana membangun masyarakat yang lebih berpengetahuan, kritis, dan berakhlak.

Ilmu yang Dicari, Ilmu yang Dibagikan

Kisah Abu Hurairah mengajarkan pentingnya ketekunan dalam mencari, menghafal, dan menyampaikan ilmu. Kesibukan bekerja maupun berdagang tidak bertentangan dengan semangat menuntut ilmu selama keduanya dijalankan secara seimbang. Melalui kesungguhan belajar dan tanggung jawab berbagi pengetahuan, setiap Muslim dapat meneladani Abu Hurairah dalam menjadikan ilmu sebagai bekal kehidupan dan manfaat bagi sesama.

 15 total views,  15 views today

Posted in Kajian.