Hidup Bersama al-Qur’an: Membaca, Memahami, Mengamalkan
حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ قَالَ حَدَّثَنَا خَالِدٌ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ ضَمَّنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ اللَّهُمَّ عَلِّمْهُ الْكِتَابَ
Dari Abu Ma‘mar, dari ‘Abd al-Warits, dari Khalid, dari ‘Ikrimah, dari Ibn ‘Abbas berkata: Rasulullah saw mendekapku, lalu bersabda: “Ya Allah, ajarkanlah dia Kitab.”
HR. Bukhari No. 73
Bagaimana Para Ulama Memaknai Hadis Ini?
Kata kitab yang dimaksud dalam hadis ini adalah al-Qur’an. Dalam riwayat lain menggunakan kata hikmah. Terjadi perbedaan pendapat mengenai makna kata hikmah tersebut. Beberapa ulama mengartikannya dengan al-Qur’an. Sementara ulama lainnya mengartikannya dengan sunnah (Al-‘Asqalānī, 2013, hlm. 359).
Riwayat lain menggunakan kata al-din, yakni doa Nabi saw untuk Ibn ‘Abbas yang berbunyi: “allahumma faqqihhu fi al-din”. Makna al-din di sini mengacu kepada al-Qur’an dan Hadis (Baththal, n.d., hlm. 161).
Pelajaran yang dapat dipetik dari hadis ini di antaranya adalah bolehnya memeluk anak-anak atau memeluk orang yang baru tiba dari perjalanan tetapi dengan catatan tidak melanggar ketentuan syariat. Selain itu, pelajaran lain dari hadis ini adalah menganjurkan untuk mempelajari al-Qur’an dan berdoa kepada Allah agar dimudahkan mempelajarinya (Al-Anṣārī, 2005, hlm. 289).
Kandungan lainnya adalah tentang keberkahan doa Rasulullah saw sehingga Ibn ‘Abbas benar-benar menjadi orang pilihan yang memahami al-Qur’an maupun sunnah (Baththal, n.d., hlm. 160).
Al-Qur’an yang Hidup di Tengah Masyarakat
Nabi Muhammad saw melalui hadis ini menganjurkan agar umat Islam senantiasa mengkaji al-Qur’an. Di Indonesia, salah satu upaya menumbuhkan minat masyarakat untuk mempelajari al-Qurán lebih mendalam adalah dengan mengadakan acara MTQ.
Terlepas dari pro-kontra mengenai hukum mengadakan MTQ, pada dasarnya acara ini memiliki tujuan yang sangat mulia yaitu untuk menumbuhkan semangat anak-anak Indonesia agar giat mempelajarai al-Qurán baik itu dari segi bacaannya maupun penafsirannya. Sebenarnya masyarakat muslim Indonesia dari dulu sampai sekarang kehidupannya sangatlah dekat dengan al-Qurán.
Baca Juga: Keutamaan Membaca Al-Qur’an dalam Hadits Rasulullah
Hampir di setiap lingkungan yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam tentu memiliki tradisi membaca al-Qur’an seperti ini. Kita bisa lihat setelah selesai shalat maghrib anak-anak berbondong-bondong menuju masjid, langgar, surau, atau rumah kiai dengan membawa al-Qurán.
Di kalangan orang dewasa pengajian-pengajian tentang tafsir al-Qurán tidak sulit ditemukan. Selain itu, tradisi tadarus al-Qurán yang biasa dilakukan setiap bulan Ramadhan di setiap masjid atau langgar di berbagai daerah di Indonesia merupakan indikasi betapa tingginya semangat masyarakat muslim Indonesia dalam mempelajari al-Qurán. Tradisi mempelajari al-Qurán ini patut dilestarikan hingga kapan pun.
Menjaga Tradisi, Menghidupkan al-Qur’an
Hadis ini menegaskan pentingnya mempelajari dan memahami al-Qur’an sebagai sumber utama petunjuk kehidupan umat Islam. Keberkahan doa Rasulullah saw. kepada Ibn ‘Abbās juga menunjukkan bahwa kemampuan memahami agama merupakan karunia yang perlu dimohonkan kepada Allah sekaligus diusahakan melalui proses belajar. Dalam tradisi Indonesia, semangat tersebut tercermin dalam berbagai tradisi seperti mengaji selepas Magrib, MTQ, pengajian tafsir, pemberantasan buta aksara al-Qur’an, dan tadarus pada bulan Ramadan. Tradisi-tradisi tersebut menjadi ruang penting untuk menjaga kedekatan masyarakat dengan al-Qur’an sekaligus mendorong agar kitab suci tidak hanya dibaca, tetapi juga dipahami dan diamalkan dalam kehidupan.
27 total views, 6 views today

