NGAJI HADIS SAHIH BUKHARI #64

Sikap Dalam Majelis Ilmu Menentukan Kedekatan kepada Allah

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ أَنَّ أَبَا مُرَّةَ مَوْلَى عَقِيلِ بْنِ أَبِي طَالِبٍ أَخْبَرَهُ عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَمَا هُوَ جَالِسٌ فِي الْمَسْجِدِ وَالنَّاسُ مَعَهُ إِذْ أَقْبَلَ ثَلَاثَةُ نَفَرٍ فَأَقْبَلَ اثْنَانِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذَهَبَ وَاحِدٌ قَالَ فَوَقَفَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَرَأَى فُرْجَةً فِي الْحَلْقَةِ فَجَلَسَ فِيهَا وَأَمَّا الْآخَرُ فَجَلَسَ خَلْفَهُمْ وَأَمَّا الثَّالِثُ فَأَدْبَرَ ذَاهِبًا فَلَمَّا فَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ عَنْ النَّفَرِ الثَّلَاثَةِ أَمَّا أَحَدُهُمْ فَأَوَى إِلَى اللَّهِ فَآوَاهُ اللَّهُ وَأَمَّا الْآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا اللَّهُ مِنْهُ وَأَمَّا الْآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللَّهُ عَنْهُ.

Telah menceritakan kepada kami Isma‘il, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Malik, dari Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah, dari Abu Murrah (mantan budak ‘Uqail bin Abu Thalib), mengabarkan kepadanya dari Abu Waqid al-Laitsi, bahwa Rasulullah saw ketika sedang duduk di Masjid bersama para sahabat datanglah tiga orang. Yang dua orang menghadap Nabi ﷺ, dan yang seorang lagi pergi. Yang dua orang berdiri sejenak di hadapan Nabi ﷺ, kemudian satu diantaranya melihat tempat kosong dalam majelis maka ia duduk di tempat itu, sedang yang kedua duduk di belakang majelis, sedang yang ketiga berbalik pergi. Setelah Rasulullah ﷺ selesai bermajelis, beliau bersabda, “Maukah kalian aku beritahu tentang ketiga orang tadi? Adapun seorang diantara mereka, dia mendekatkan diri kepada Allah, maka Allah mendekatkan ia kepada-Nya. Yang kedua, dia malu (tidak mengisi tempat yang kosong), maka Allah pun malu kepadanya. Sedangkan yang ketiga berpaling dari Allah maka Allah pun berpaling darinya.”

HR. Bukhari No. 64

Adab Menghadiri Majelis Ilmu Menurut Para Ulama

Hadis ini menjelaskan adab menghadiri majelis ilmu serta keutamaan orang yang bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Para ulama terlebih dahulu menjelaskan beberapa lafaz penting dalam hadis ini. Kata nafar (نَفَر) berarti sekelompok laki-laki yang jumlahnya antara tiga hingga sepuluh orang. Dalam hadis ini, frasa tsalātsatu nafar (ثَلَاثَةُ نَفَرٍ) dipahami sebagai “tiga orang laki-laki”, bukan tiga kelompok orang (Al-Suyūṭī, 1998, hlm. 244; Al-Birmāwī, 2012, hlm. 355).

Para ulama juga menerangkan bahwa ungkapan āwā Allāhu ilayh (آوَى اللَّهُ إِلَيْهِ), istaḥyā Allāhu minhu (اسْتَحْيَا اللَّهُ مِنْهُ), dan a’raḍa Allāhu ‘anhu (أَعْرَضَ اللَّهُ عَنْهُ) bukan dipahami secara harfiah. Menurut Al-Birmāwī, ungkapan tersebut merupakan majas yang menunjukkan balasan Allah kepada hamba-Nya.

Maksudnya, Allah memberikan rahmat dan pertolongan kepada orang yang mendekat kepada majelis ilmu, memberikan perlindungan kepada orang yang memiliki rasa malu karena adabnya, serta murka kepada orang yang sengaja berpaling dari majelis ilmu tanpa alasan yang dibenarkan (Al-Birmāwī, 2012, hlm. 356).

Baca juga: Duduk Merapat dalam Majelis Ilmu, Membudayakan Adab dan Mendekatkan Keberkahan

Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī menjelaskan bahwa orang pertama yang segera mengisi tempat kosong di dalam majelis memperoleh keutamaan karena menunjukkan semangat mencari ilmu. Adapun orang kedua tetap mendapatkan pahala karena memilih duduk di belakang sebagai bentuk rasa malu dan menjaga adab terhadap orang lain.

Sementara itu, orang ketiga yang meninggalkan majelis tanpa uzur kehilangan kesempatan memperoleh rahmat Allah. Hadis ini menunjukkan bahwa menghadiri majelis ilmu merupakan amal yang sangat dianjurkan, sedangkan berpaling darinya tanpa alasan yang dibenarkan merupakan perbuatan yang tercela (Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī, Fatḥ al-Bārī, jil. 1; Ibn Baṭṭāl).

Selain itu, Ibn Ḥajar menjelaskan bahwa hadis ini juga menjadi dasar bolehnya menyebutkan kesalahan seseorang apabila bertujuan untuk memberikan pelajaran dan mencegah orang lain melakukan kesalahan yang sama. Penjelasan semacam ini tidak termasuk ghibah karena bertujuan mendidik, bukan merendahkan kehormatan seseorang (Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī, Fatḥ al-Bārī, jil. 1).

Semangat Menghadiri Majelis Ilmu dalam Kehidupan Masyarakat Indonesia

Pesan hadis ini sangat relevan dengan kehidupan masyarakat Indonesia yang dikenal memiliki tradisi pengajian, majelis taklim, dan kajian keislaman yang berkembang di berbagai daerah. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki budaya belajar agama yang kuat.

Berbagai majelis ilmu, baik yang diselenggarakan di masjid, pesantren, kampus, maupun ruang digital, selalu dipenuhi oleh masyarakat yang ingin memperdalam pemahaman agama. Hadis ini memberikan motivasi agar setiap muslim memiliki semangat menghadiri majelis ilmu dan tidak mudah meninggalkannya tanpa alasan yang jelas.

Dalam praktiknya, majelis ilmu sering kali dipadati jamaah sehingga sebagian peserta harus duduk di bagian belakang atau bahkan mengikuti kajian dari luar ruangan. Kondisi tersebut tidak seharusnya mengurangi semangat untuk belajar.

Hadis ini mengajarkan bahwa setiap usaha untuk mendekat kepada majelis ilmu akan memperoleh balasan dari Allah sesuai dengan niat dan adab masing-masing. Karena itu, baik duduk di barisan depan maupun di bagian belakang, yang terpenting adalah kesungguhan dalam mencari ilmu serta menjaga adab selama mengikuti majelis.

Baca juga: Adab Majelis Ilmu

Hadis ini juga mengajarkan pentingnya menjaga etika dalam forum keilmuan. Mengisi tempat yang kosong dengan tertib, menghormati peserta lain, tidak mengganggu jalannya majelis, serta tidak meninggalkan kajian tanpa keperluan yang mendesak merupakan bagian dari adab yang perlu terus dibudayakan. Nilai-nilai tersebut sangat relevan diterapkan tidak hanya dalam pengajian keagamaan, tetapi juga dalam kegiatan pendidikan, seminar, pelatihan, maupun forum ilmiah di Indonesia.

Majelis Ilmu sebagai Jalan Meraih Rahmat Allah

Hadis ini menegaskan bahwa menghadiri majelis ilmu bukan sekadar aktivitas menambah pengetahuan, tetapi juga merupakan jalan untuk meraih rahmat Allah. Semangat mencari ilmu, menjaga adab selama berada di majelis, serta menghargai kesempatan belajar merupakan karakter yang harus dimiliki setiap muslim.

Dalam konteks kehidupan masyarakat Indonesia, nilai-nilai tersebut menjadi landasan penting untuk membangun budaya belajar yang santun, menghargai ilmu, serta melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan senantiasa mencintai majelis ilmu.

 13 total views,  13 views today

Posted in Kajian.