NGAJI HADIS SAHIH BUKHARI #47

Lailatulqadar: Rahasia yang Hilang karena Perselisihan

أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ حُمَيْدٍ حَدَّثَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ يُخْبِرُ بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ فَتَلَاحَى رَجُلَانِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ فَقَالَ: إِنِّي خَرَجْتُ لِأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ الْقَدْرِ، وَإِنَّهُ تَلَاحَى فُلَانٌ وَفُلَانٌ فَرُفِعَتْ، وَعَسَى أَنْ يَكُونَ خَيْرًا لَكُمْ، الْتَمِسُوهَا فِي السَّبْعِ وَالتِّسْعِ وَالْخَمْسِ

“Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah bin Sa‘īd, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ismā‘īl bin Ja‘far, dari Ḥumaid, ia berkata: Anas bin Mālik telah menceritakan kepadaku bahwa ‘Ubādah bin al-Ṣāmit mengabarkan kepadanya, Rasulullah ﷺ keluar untuk memberitahukan kepada para sahabat tentang Lailatulqadar. Namun, ketika itu dua orang muslim sedang berselisih. Lalu beliau bersabda, ‘Aku keluar untuk memberitahukan kepada kalian tentang Lailatulqadar, tetapi si fulan dan si fulan berselisih sehingga pengetahuan tentangnya diangkat. Mudah-mudahan hal itu lebih baik bagi kalian. Karena itu, carilah Lailatulqadar pada malam ketujuh, kesembilan, dan kelima (dari sepuluh malam terakhir Ramadan).

HR. Bukhari No. 47

Makna Lailatulqadar Menurut Para Ulama

Hadis ini mengisahkan bahwa Rasulullah ﷺ hendak memberitahukan waktu pasti terjadinya Lailatulqadar. Akan tetapi, sebelum informasi tersebut disampaikan, dua orang sahabat terlibat perselisihan sehingga Allah mengangkat pengetahuan tentang malam yang penuh kemuliaan itu. Peristiwa ini menunjukkan bahwa perselisihan bukan hanya merusak hubungan antarmanusia, tetapi juga dapat menyebabkan hilangnya keberkahan.

Baca juga: Ketika Rasulullah Tidak Jadi Membocorkan Waktu Pasti Lailatul Qadar

Dalam Fatḥ al-Bārī, Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī mengutip penjelasan al-Qāḍī ‘Iyāḍ yang menyatakan bahwa pertengkaran merupakan perbuatan tercela dan dapat mendatangkan hukuman maknawi, yaitu hilangnya berbagai kebaikan. Menurutnya, tempat yang dipenuhi perselisihan menjadi tempat yang dihadiri setan sehingga keberkahan dan rahmat Allah diangkat darinya (Fatḥ al-Bārī, hlm. 116).

Ibn Ḥajar juga menjelaskan sabda Nabi ﷺ, wa ‘asā an yakūna khayran lakum (semoga hal itu lebih baik bagi kalian). Menurut beliau, meskipun mengetahui waktu pasti Lailatulqadar merupakan kebaikan yang besar, dirahasiakannya malam tersebut justru mengandung hikmah yang diharapkan membawa kebaikan yang lebih luas.

Dengan tidak diketahuinya secara pasti kapan Lailatulqadar terjadi, kaum muslimin terdorong untuk memperbanyak ibadah sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadan, sehingga peluang memperoleh pahala menjadi semakin besar (Fatḥ al-Bārī, hlm. 117).

Baca juga: Mengapa Lailatul Qadar Dirahasiakan? Ini Hikmahnya

Penjelasan yang senada disampaikan oleh Badruddīn al-‘Ainī dalam ‘Umdat al-Qārī. Beliau mengutip al-Kirmānī yang menjelaskan bahwa ungkapan “semoga hal itu lebih baik bagi kalian” tidak berarti hilangnya pengetahuan tentang Lailatulqadar lebih utama daripada mengetahuinya.

Sebaliknya, mengetahui waktunya tetap merupakan kebaikan yang lebih pasti, sedangkan dirahasiakannya malam tersebut mengandung hikmah yang diharapkan, yaitu memotivasi umat Islam agar menghidupkan seluruh malam-malam utama di akhir Ramadan, bukan hanya beribadah pada satu malam tertentu (‘Umdat al-Qārī, hlm. 281).

Menjaga Ukhuwah di Tengah Kehidupan Masyarakat Indonesia

Hadis ini memberikan pelajaran bahwa perselisihan dapat menghilangkan keberkahan dalam kehidupan bersama. Dalam masyarakat Indonesia, perbedaan pendapat sering muncul dalam persoalan agama, politik, organisasi, maupun kehidupan sehari-hari. Apabila tidak disikapi dengan bijaksana, perbedaan tersebut dapat berkembang menjadi pertengkaran yang merusak persaudaraan dan memutus tali silaturahmi.

Pesan hadis ini juga sangat relevan di era digital. Media sosial sering menjadi ruang munculnya perdebatan yang berujung pada saling menghina, menyebarkan fitnah, atau ujaran kebencian. Padahal, Islam mengajarkan bahwa keberkahan ilmu, persaudaraan, dan kehidupan sosial dapat berkurang ketika permusuhan lebih dikedepankan daripada sikap saling menghormati dan berdialog secara santun.

Baca juga: Relevansi Nilai-Nilai Hadis dalam Resolusi Konflik Sosial di Era Digital

Di sisi lain, dirahasiakannya Lailatulqadar mengajarkan pentingnya istiqamah dalam beribadah. Seorang muslim tidak seharusnya hanya bersemangat melakukan kebaikan pada waktu-waktu tertentu, tetapi menjadikan amal saleh sebagai kebiasaan yang dilakukan secara berkesinambungan. Nilai ini sangat relevan dalam kehidupan masyarakat Indonesia, yaitu membangun budaya konsisten dalam beribadah, memperkuat ukhuwah, dan terus berbuat baik tanpa menunggu momentum tertentu.

Menjaga Persaudaraan, Meraih Keberkahan

Hadis ini mengajarkan bahwa perselisihan dapat menjadi sebab hilangnya keberkahan, sebagaimana diangkatnya pengetahuan tentang waktu pasti Lailatulqadar. Namun, para ulama menjelaskan bahwa di balik peristiwa tersebut terdapat hikmah besar, yaitu mendorong umat Islam untuk lebih bersungguh-sungguh menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir Ramadan.

Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, hadis ini menjadi pengingat agar setiap muslim menjaga ukhuwah, mengedepankan dialog dalam menyelesaikan perbedaan, serta membiasakan diri beribadah dan berbuat baik secara istiqamah demi meraih keberkahan dari Allah Swt.

 2 total views,  2 views today

Posted in Kajian.