NGAJI HADIS SAHIH BUKHARI #45

Mengantar Jenazah hingga Tuntas, Mengapa Begitu Istimewa?

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَلِيٍّ الْمَنْجُوفِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا رَوْحٌ قَالَ حَدَّثَنَا عَوْفٌ عَنْ الْحَسَنِ وَمُحَمَّدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ اتَّبَعَ جَنَازَةَ مُسْلِمٍ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا وَكَانَ مَعَهَا حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا وَيُفْرَغَ مِنْ دَفْنِهَا، فَإِنَّهُ يَرْجِعُ مِنَ الْأَجْرِ بِقِيرَاطَيْنِ، كُلُّ قِيرَاطٍ مِثْلُ أُحُدٍ، وَمَنْ صَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ رَجَعَ قَبْلَ أَنْ تُدْفَنَ، فَإِنَّهُ يَرْجِعُ بِقِيرَاطٍ

“Telah menceritakan kepada kami Aḥmad bin ‘Abd Allāh bin ‘Alī al-Manjūfī, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Rauḥ, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami ‘Auf, dari al-Ḥasan dan Muḥammad, dari Abū Hurairah ra., bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Barang siapa mengiringi jenazah seorang muslim dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, lalu tetap menyertainya hingga disalatkan dan selesai dimakamkan, maka ia memperoleh dua qīrāṭ pahala. Setiap satu qīrāṭ nilainya sebesar Gunung Uhud. Adapun orang yang hanya menyalatkan jenazah, kemudian pulang sebelum dimakamkan, maka ia memperoleh satu qīrāṭ.'”

HR. Bukhari No. 45

Makna Mengiringi Jenazah Menurut Para Ulama

Hadis ini menunjukkan besarnya keutamaan mengiringi jenazah seorang muslim hingga seluruh proses pemakamannya selesai. Rasulullah ﷺ menjanjikan dua qīrāṭ pahala bagi orang yang mengikuti seluruh rangkaian prosesi dengan penuh keimanan (īmānan) dan mengharap pahala dari Allah (iḥtisāban). Besarnya pahala tersebut digambarkan setara dengan Gunung Uhud, sebagai isyarat betapa agung balasan yang Allah siapkan bagi orang yang melaksanakan sunnah ini.

Baca juga: Keutamaan Menghadiri Jenazah Hingga Selesai Pemakaman

Dalam Fatḥ al-Bārī, Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī menjelaskan bahwa dua qīrāṭ hanya diperoleh apabila seseorang mengikuti seluruh rangkaian pengurusan jenazah, mulai dari mengiringinya, melaksanakan salat jenazah, hingga proses pemakaman benar-benar selesai.

Apabila seseorang hanya ikut salat jenazah lalu pulang sebelum pemakaman, maka ia hanya memperoleh satu qīrāṭ. Demikian pula orang yang baru hadir di pemakaman tanpa mengikuti salat jenazah, menurut pendapat yang lebih kuat tidak memperoleh dua qīrāṭ sebagaimana disebutkan dalam hadis (Fatḥ al-Bārī, hlm. 205).

Ibn Ḥajar juga menegaskan bahwa syarat īmānan wa iḥtisāban menjadi inti dari hadis ini. Keutamaan tersebut hanya diberikan kepada orang yang mengiringi jenazah karena dorongan iman dan semata-mata mengharap pahala dari Allah Swt., bukan karena balas budi, hubungan sosial, rasa sungkan, ataupun kepentingan duniawi.

Beliau juga menguatkan pendapat bahwa pahala sempurna baru diperoleh setelah seluruh proses pemakaman benar-benar selesai, sebagaimana dikuatkan oleh riwayat lain yang berbunyi ḥattā yufragha minhā (hingga seluruh proses pemakaman selesai) (Fatḥ al-Bārī, hlm. 206).

Baca juga: Hadis: Pahala Mengiringi Jenazah sampai Selesai Dimakamkan

Penjelasan serupa disampaikan oleh Badruddīn al-‘Ainī dalam ‘Umdat al-Qārī. Menurutnya, dua qīrāṭ pahala hanya diperoleh apabila terpenuhi tiga unsur sekaligus, yaitu mengikuti iring-iringan jenazah, melaksanakan salat jenazah, dan menghadiri pemakaman hingga selesai.

Imam al-Nawawī yang dikutip al-‘Ainī menjelaskan bahwa salat jenazah sendiri telah menghasilkan satu qīrāṭ, sedangkan qīrāṭ kedua diperoleh dengan tetap mendampingi jenazah hingga proses pemakaman selesai (‘Umdat al-Qārī, hlm. 273).

Mengiringi Jenazah dalam Kehidupan Masyarakat Indonesia

Tradisi mengiringi jenazah masih menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Indonesia. Ketika ada warga yang meninggal dunia, masyarakat biasanya datang melayat, menyalatkan jenazah, lalu mengantarkannya hingga ke pemakaman. Tradisi ini mencerminkan nilai gotong royong dan kepedulian sosial yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat.

Hadis ini memberikan dimensi spiritual terhadap tradisi tersebut. Mengantar jenazah bukan sekadar bentuk penghormatan terakhir kepada orang yang meninggal, melainkan juga ibadah yang dijanjikan pahala besar apabila dilakukan dengan penuh keimanan dan keikhlasan. Karena itu, kehadiran seseorang dalam prosesi pemakaman tidak hanya bernilai sosial, tetapi juga bernilai ibadah di sisi Allah Swt.

Baca juga: Pahala Besar di Balik Salat Jenazah

Di tengah kehidupan modern yang semakin sibuk dan individualistis, hadis ini mengingatkan pentingnya menghadirkan empati melalui tindakan nyata. Ucapan belasungkawa di media sosial tentu memiliki nilai kebaikan, tetapi tidak dapat menggantikan kehadiran langsung untuk membantu keluarga yang sedang berduka. Selain memperkuat ukhuwah Islamiah, kehadiran tersebut juga menjadi bentuk kepedulian yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.

Mengiringi Jenazah, Ibadah yang Menguatkan Ukhuwah

Hadis ini menegaskan bahwa mengiringi jenazah merupakan ibadah yang memiliki keutamaan besar apabila dilakukan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah Swt. Kesempurnaan pahala diperoleh oleh mereka yang mengikuti seluruh rangkaian prosesi, mulai dari salat jenazah hingga selesai pemakaman.

Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, hadis ini mengajarkan bahwa tradisi mengantar jenazah hendaknya tidak sekadar dipahami sebagai kebiasaan sosial, tetapi juga sebagai wujud kepedulian, keikhlasan, dan penguatan ukhuwah Islamiah yang bernilai ibadah di sisi Allah Swt.

 10 total views,  10 views today

Posted in Kajian.