NGAJI HADIS SAHIH BUKHARI #40

Rahmat Allah dalam Hitungan Amal Manusia

حَدَّثَنَاإِسْحَاقُ بْنُ مَنْصُورٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُالرَّزَّاقِ قَالَ أَجْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  إِذَاأَحْسَنَ أَحَدُكُمْ إِسْلَامَهُ فَكُلُّ حَسَنَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ لَهُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَاإِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ وَكُلُّ سَيِّئَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ لَهُ بِمِثْلِهَا

Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Manshur, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq, ia berkata, telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Hamam bin Munabbih dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Apabila salah seorang dari kalian memperbagus keislamannya, maka setiap kebaikan yang ia kerjakan akan ditulis baginya sepuluh (kebaikan) yang serupa hingga tujuh ratus kali lipat, dan setiap satu keburukan yang dikerjakan, akan ditulis satu keburukan saja yang serupa dengannya”.

HR. Bukhari No. 40

Bagaimana Ulama Memahami Pahala Kebaikan dalam Hadis Ini?

Hadis ini menjelaskan bahwa apabila seseorang memperbaiki kualitas keislamannya, maka setiap kebaikan yang ia lakukan akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah Swt., mulai dari sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat. Sementara itu, satu keburukan hanya dibalas dengan satu keburukan yang setara dengannya.

Para ulama menjelaskan bahwa ungkapan “idhā aḥsana aḥadukum islāmuhu” tidak hanya berlaku bagi laki-laki, tetapi juga perempuan. Maksud “memperbagus Islam” adalah menjalankan ajaran Islam dengan penuh keyakinan, keikhlasan, dan kesungguhan, baik secara lahir maupun batin. Selain itu, seseorang juga dituntut menghadirkan rasa dekat kepada Allah Swt. ketika beribadah, sebagaimana konsep iḥsān dalam hadis Jibril yang akan dijelaskan pada pembahasan berikutnya.

Al-Māzarī menjelaskan bahwa amal-amal baik yang dilakukan orang kafir pada masa kekafirannya tidak diterima sebagai pahala di akhirat. Menurutnya, salah satu syarat diterimanya amal adalah mengenal dan beriman kepada Allah Swt. sebagai tujuan dari ibadah dan pendekatan diri tersebut. Karena itu, orang yang masih berada dalam kemusyrikan dianggap belum memenuhi syarat tersebut.

Pendapat ini didukung oleh Qāḍī ‘Iyāḍ. Namun, Imam al-Nawawī menilai pandangan tersebut masih diperselisihkan. Menurut al-Nawawī, pendapat yang lebih kuat di kalangan ulama adalah bahwa seseorang yang pernah melakukan kebaikan seperti sedekah, silaturahmi, atau membantu sesama ketika belum masuk Islam, lalu ia masuk Islam dan meninggal dalam keadaan Muslim, maka ia tetap memperoleh pahala atas kebaikan tersebut.

Baca juga: Apakah Kebaikan Sebelum Masuk Islam Tetap Dicatat Oleh Allah?

Meski demikian, para ulama menegaskan bahwa pahala tersebut pada hakikatnya merupakan bentuk karunia dan kemurahan Allah Swt. kepada hamba-Nya yang kemudian memperoleh hidayah Islam. Dengan demikian, hadis ini memperlihatkan betapa luas rahmat Allah dalam menghargai setiap amal kebaikan manusia.

Islam Mengajarkan Optimisme dalam Beramal

Hadis ini memberikan pesan optimisme kepada umat Islam agar tidak pernah lelah melakukan kebaikan. Allah Swt. tidak hanya mencatat amal baik manusia, tetapi juga melipatgandakannya dengan jumlah yang sangat besar. Sebaliknya, dosa dan keburukan justru dibalas setara tanpa dilipatgandakan.

Dalam kehidupan masyarakat Indonesia saat ini, hadis ini dapat menjadi dorongan untuk membangun budaya saling membantu, bersedekah, menjaga hubungan sosial, dan memperbanyak amal kebajikan. Sekecil apa pun kebaikan yang dilakukan, semuanya memiliki nilai di sisi Allah Swt.

Selain itu, hadis ini juga mengajarkan bahwa kualitas amal tidak hanya ditentukan oleh banyaknya perbuatan, tetapi juga oleh ketulusan, keikhlasan, dan kesungguhan hati dalam menjalankannya. Amal yang sederhana dapat bernilai besar apabila dilakukan dengan iman dan niat yang baik.

Baca juga: Niat Ikhlas dalam Beramal: Kenapa Allah Lihat Hati, Bukan Hanya Aksi

Di tengah kehidupan modern yang sering dipenuhi persaingan dan individualisme, hadis ini mengingatkan bahwa Islam adalah agama yang sangat menghargai kebaikan sosial. Membantu sesama, menjaga hubungan keluarga, menghormati orang lain, dan memberikan manfaat kepada masyarakat merupakan bagian dari bentuk “memperbagus Islam” dalam kehidupan sehari-hari.

Allah Melipatgandakan Kebaikan Hamba-Nya

Hadis ini menunjukkan betapa besar kasih sayang Allah Swt. kepada manusia. Setiap kebaikan yang dilakukan dengan iman dan keikhlasan akan dilipatgandakan pahalanya, sedangkan keburukan hanya dibalas setara dengan perbuatannya.

Melalui hadis ini, Rasulullah saw. mengajarkan umat Islam untuk terus memperbaiki kualitas keislaman, memperbanyak amal baik, dan tidak mudah putus asa dalam mencari rahmat Allah Swt. Sebab, sekecil apa pun kebaikan yang dilakukan seorang hamba, semuanya akan mendapatkan perhatian dan balasan dari Allah Swt.

 19 total views,  19 views today

Posted in Kajian.