NGAJI HADIS SAHIH BUKHARI #8

Menjaga Malu, Menjaga Iman

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الْجُعْفِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad al-Ju’fi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Amir al-‘Aqadi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal, dari Abdullah bin Dinar, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Iman memiliki lebih dari enam puluh cabang, di antaranya malu adalah cabang dari keimanan.” 

HR. Bukhari No. 8

Bagaimana Para Ulama Memaknai Hadis Ini?

Iman secara bahasa berarti keyakinan di dalam hati. Sementarasecara istilah, iman mencakup tiga dimensi: meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota badan. Jadi, seorang muslim yang menjalankan salat, zakat, puasa, dan haji—yang semuanya merupakan amalan anggota badan—sejatinya sedang menunjukkan buah dan bukti nyata dari keimanannya. Demikian pula dengan amalan hati; rasa malu, misalnya, termasuk bagian dari keimanan itu sendiri.

Dalam hadis ini disebutkan bahwa iman memiliki enam puluh lebih cabang. Kata buḍ‘ (بضع) dalam bahasa Arab merujuk pada bilangan antara tiga hingga sepuluh (Ali al-Ṣābūnī, 2011), sehingga “enam puluh lebih” berarti antara 63 hingga 70 cabang. Meskipun dalam riwayat lain—sebagaimana yang dibawakan oleh Imam Muslim dan para penulis kitab al-Sunan selain Ibnu Mājah—disebutkan bahwa cabang iman berjumlah antara 73 hingga 80 cabang.

Angka-angka tersebut bukan dimaksudkan untuk membatasi jumlah cabang iman secara kaku, melainkan untuk menggambarkan betapa banyak dan luasnya cabang-cabang keimanan (Ḥamzah Muḥammad Qāsim, 1990). Menurut hitungan al-Rājihī, cabang iman berjumlah 69, yang terdiri atas 24 cabang dari amalan hati, 7 cabang dari amalan lisan, dan 38 cabang dari amalan anggota badan (al-Rājihī, 2013).

Setiap manusia yang sehat jiwanya pada dasarnya memiliki rasa malu. Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan rasa malu? Malu adalah akhlak mulia yang mendorong seseorang untuk meninggalkan segala perbuatan dan ucapan yang tercela (Ali al-Ṣābūnī, 2011).

Rasa malu ini menyertai seseorang dalam seluruh aspek kehidupannya: malu untuk mendekati perkara yang diharamkan Allah, dan malu apabila dirinya terlalu tersibukkan dengan urusan dunia semata (Muḥammad Anwar al-Kasymīrī, 2005).

Sebuah Refleksi: Menjaga Akhlak di Era yang Kian Terbuka

Iman merupakan pondasi terpenting dalam kehidupan umat Islam. Keimanan yang dimaksud bukan hanya beriman kepada enam rukun iman yang jumlahnya terbatas, melainkan juga mencakup keimanan yang tercermin dalam aktivitas hati, lisan, dan anggota badan secara bersamaan. Ketiga bentuk amalan tersebut merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan, sehingga iman benar-benar menjiwai seluruh kehidupan seorang mukmin.

Iman sejati selalu beriringan dengan perbuatan baik. Banyak ayat Al-Qur’an yang menegaskan hal ini, sehingga seseorang yang mengaku beriman mesti pula mengamalkan kebaikan. Logikanya sederhana: semakin kuat iman seseorang, semakin banyak pula kebaikan yang ia berikan, baik untuk diri dan keluarganya maupun untuk masyarakat luas.

Sayangnya, rasa malu kian menjadi barang langka dalam kehidupan sehari-hari. Ruang publik dan ruang privat kerap tercampuradukkan tanpa batas yang jelas. Hal ini memunculkan berbagai kasus yang memprihatinkan. Misalnya, seorang perempuan yang makan di pusat perbelanjaan pada siang hari bulan Ramadan—terlepas dari kemungkinan bahwa ia sedang berhalangan karena menstruasi—tetap perlu menjaga penampilannya agar citra Islam di mata publik tidak tercoreng.

Kasus lain yang lebih ekstrem adalah seorang laki-laki yang tanpa malu mempertontonkan auratnya di tempat umum atau melakukan tindakan asusila di bilik ATM. Perilaku-perilaku semacam ini mencerminkan betapa tipis rasa malu yang tersisa, padahal malu adalah fondasi akhlak manusia dalam berkehidupan bersama. Perbuatan yang menyalahi norma tersebut tidak hanya merusak tatanan sosial, tetapi juga menjadi pertanda melemahnya keimanan pelakunya.

Baca juga: Heboh Viral Video Pria

Iman tidak cukup hanya bersemayam di dalam hati; ia harus terwujud pula dalam perbuatan dan tutur kata. Ketiga dimensi ini—hati, lisan, dan tindakan—harus senantiasa terjaga dalam setiap langkah kehidupan seorang muslim. Dalam hal ini, umat Islam selalu merujuk kepada teladan Nabi Muhammad saw. sebagai sosok yang menjaga kepribadiannya dengan akhlak yang mulia.

Keluhuran budi pekerti beliau menjadikannya figur yang dapat diteladani oleh siapa saja, sehingga berbagai konflik yang terjadi di sekitarnya pun dapat diselesaikan dengan bijaksana. Penyebaran Islam ke penjuru dunia pun tidak lepas dari kekuatan akhlak Nabi ini. Kesantunan beliau dalam berdakwah dan memimpin di Madinah menjadi modal utama berkembangnya Islam hingga saat ini.

Oleh karena itu, akhlak harus menjadi landasan utama dalam setiap tindakan, agar Islam tampil sebagai agama yang santun dan penuh kasih di segala lini kehidupan, sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah saw.

Malu sebagai Cermin Iman

Iman dapat hadir dalam berbagai bentuk, dan yang paling sederhana sekaligus paling mudah dirasakan adalah rasa malu. Sebagai salah satu cabang iman, malu merupakan sifat dan perasaan batin yang menggerakkan seseorang untuk menghindari segala hal yang tidak baik. Orang yang memiliki rasa malu akan mampu mengendalikan dirinya agar tetap berada di jalur yang benar. Dengan sifat inilah, perilaku keseharian umat Islam yang beriman akan senantiasa terjaga.

Rasa malu kini telah menjadi sesuatu yang langka, padahal ia semestinya terus dipupuk sebagai bagian dari etika dan budaya masyarakat Timur. Apabila rasa malu ini kembali mengakar kuat, berbagai kasus yang secara terang-terangan mempertontonkan aurat dan perilaku tidak senonoh di hadapan publik niscaya tidak akan terjadi lagi.

 6 total views,  4 views today

Posted in Kajian.