Tradisi Perayaan Bulan Kelahiran Sang Pembawa Perubahan

Izatul Muhidah Maulidiyah

UIN SUNAN KALIJAGA

19105030038@student.uin-suka.ac.id

Bulan Rabiul Awwal menjadi bulan yang diagungkan bagi umat islam. Hal demikian dibuktikan dengan diadakannya acara perayaan hari besar islam, yakni maulidurrasul. Bukan hanya itu banyak instansi mengadakan lomba guna merayakan hari besar tersebut. Misalnya dikalangan pondok pesantren.

Bukan hanya instansi, namun berbagai daerah khususnya di negara Indonesia memiliki tradisi masing-masing guna merayakan hari besar tersebut.  Perayaan dilakukan secara unik diberbagai daerah, misalnya Meuripee (tradisi patungan warga Banda Aceh) Grebek Maulid ( tradisi Kesultanan Yogyakarta) Sebar Udika (tradisi masyarakat Madiun), Keresan ( Tradisi Msyarakat Mojokerto), Festival Endhog-endhogan (tradisi masyarakat Banyuwangi), Maulid Nabi di Karst Rammang-rammang, Maros, Sulawesi Selatan.

Saya mengambil contoh dari Daerah Istimewa Yogyakarta yang memiliki beraneka ragam tradisi, salahsatunya grebek maulud atau terkenal dengan grebek sekaten. Tradisi ini digelar secara rutin setiap tahunnya. Grebek maulud diadakan tepat pada tanggal 12 Rabiul Awwal, yakni tanggal dimana sang revolusiner akbar dilahirkan. Grebek  maulud dilaksanakan dengan cara membuat gunungan dengan hasil bumi sebagai bahannya.  Gunungan sebagai lambang kemakmuran. Dengan mengeluarkan kekayaan hasil bumi menunjukkan rasa syukur atas rizki yang telah Allah Swt. Limpahkan. Tradisi ini awalnya digagas oleh kanjeng Suna kalijaga  pada abad 15 M. guna syiar agama Islam terhadap masyarakat sekitar. Disamping itu tedapat pendapat lain bahwa tradisi ini mulanya digagas oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I. hingga sekarang masih dijaga dan dilaksanakan dengan rangkaian acara sebelumnya dan sesudahnya.

Arak-arakan grebek maulud dimulai dari Keraton Daerah Istimewa Yogyakarta menuju Masjid Gedhe Kauman. Barisan dimualai dari barisan prajurut lengkap dengan pakaian khas daerah, disusul pasukan berkuda baru kemudian gunungan yang te;ah disiapkan. Gunungan-gunungan yang ada pada nantinya akan menjadi bahan rebutan warga yang hadir dalam perayaan tersebut. Dipercayai orang yang mendapat hasil bumi yang ada digunungan mendapat suatu keberkahan.

Grebek maulud diadakan dengan serangkaian acara sekaten yang ada. Acara tersebut diawali dengan acara Miyos Gangsa dan ditutup dengan acara Kudhur Gangsa.   Sekaten diadakan mulai tanggal 6 Rabiul Awwal – 12 Rabiu Awwal menurut penanggalan jawa Sultan Agungan.

Kemudian di daerah  mojokerto, tepatnya di dusun Mengelo Kecamatan Sokoo, yakni tradisi Keresan. Tradisi ini sama halnya dengan grebek maulud guna merayakan hari kelahiran nabi Muhammad saw. Tradisi ini diikuti oleh warga setempat dengan diawali pawai keliling kampung. Kemudian dilanjutkan dengan pengajian umum yang diadakan di masjid dusun Mengelo Kecamatan Sokoo. Setelah do’a usai, warga berduyun-duyun menuju pohon kersen (pohon keres dalam istilah jawa) yang telah ditancapkan di tengah dusun, tepatnya di timur masjid setempat. Pohon yang ditancapkan adalah pohon yang sudah mengering daunnya. Warga berduyun-duyun guna berebut barang yang telah dipasang di pohon tersebut. Barang yang dipasang merupakan barang hasil industri rumahan masyarakat setempat. Tidak pandang anak-anak, orang dewasa, orang tua semua berebut untuk mendapatkan barang yang telah disiapkan. Hingga ada warga yang nekat untuk memanjat pohon tersebut. Namun karena pohon yang dipanjat dengan daun mulai mengering, maka pohonpun tidak kuat dengan desak-desakan  yang ada. Batang, ranting pohonpun rapuh. Tidak jarang warga yang bertekad untuk memanjatpun jatuh. Maka rasa sakitlah yang didapat.

Begitu meriah acara perayaan guna merayakan kelahiran nabi Muhammad saw. Hal demikian merupakan bukti sungguh mulianya nabi Muhammad saw. Serta menunjukkan begitu antisipasinya beberapa daerah yang ada di Indonesia terhadap perayaan hari kelahiran sang pembawa kebaikan.

 2,177 total views,  2 views today

Posted in Kajian.