NADIYA ULYA
UIN SUNAN KALIJAGA
20204031017@student.uin-suka.ac.id
Saya pertama kali mempelajari Hadits ketika berada di kelas 1 MTs dan terakhir kali ketika saya berkuliah disemester 3. Selama 6 tahun dibangku sekolah, pembelajaran hadits dilalui dengan proses menghafal dan membahas kaidah hadits.
Sedangkan dibangku kuliah, dilalui dengan membahas ilmu Hadits tanpa ada hafalan Hadits, hanya ada pembahasan tentang kaidah-kaidah hadits, untuk mengetahui kedudukan sanad dan matan apakah diterima atau ditolak.
Ketika saya berada di kelas 1 sekolah menengah atas dan berkumpul bersama teman-teman saya, pembahasannya tidak jauh dari kata cinta. Saya sering mendengar bagaimana cerita teman-teman yang sedang merasakan jatuh cinta kepada seseorang.
Mencintai dan dicintai merupakan fitrah alami manusia dan merupakan hal yang mendasar pada hidup ini. Jangan pernah berbangga diri dengan kondisi perasaan yang sedang kita miliki. Misalnya perasaan cinta, perasaan benci, perasaan apapun dalam diri kita. Karena kita tidak pernah tahu hati manusia, sesekali ia senang namun terkadang bisa berubah tidak senang.
Beberapa permasalahan yang timbul ketika kita mencintai orang lain tidak jauh dari kata patah hati. Cinta juga banyak memberikan rasa bahagia, sedih dan pengorbanan akan tetapi cinta juga terkadang membawa kesengsaraan bagi mereka yang merasakannya.
Islam tidak melarang atau mengekang manusia dari rasa cinta tapi mengarahkan cinta tersebut kepada cara menjaga kehormatan baik wanita maupun laki-laki. Kalau kita jatuh cinta harus hati-hati karena seringkali ekspresi cinta tersebut ditunjukkan dengan cara-cara yang salah dan bertentangan dengan ajaran islam. Misalnya fenomena pacaran sebelum nikah yang sudah menjadi budaya masyarakat saat ini.
Lantas bagaimana islam menyikapi emosi cinta yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita semua, ditinjau dari perspektif Hadits dalam hal mencintai yakni :
Rasullah SAW bersabda ”Cintamu kepada sesuatu menjadikan kamu buta dan tuli” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
Kadang kala seseorang mengalami perasaan cinta yang sangat hebat terhadap seseorang, sehingga tidak memiliki logika. Ia tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah, sampai-sampai melebihi batasan wajar dan melenceng dalam aturan agama.
Rasulullah SAW bersabda:“Cintailah kekasihmu sewajarnya saja karena bisa saja suatu saat nanti ia akan menjadi orang yang kamu benci. Bencilah sewajarnya karena bisa saja suatu saat nanti ia akan menjadi kekasihmu.”- Hadits riwayat At-Tirmidzi
Pada hadits lain juga disebutkan bahwa perasaan seseorang dapat berubah-ubah, karena itu ketika mencintai seseorang hendaknya kita berserah diri kepada allah SWT. Karena hanya Allah Dzat yang dapat membolak-balikkan perasaan seseorang.
Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb dan Ibnu Numair keduanya dari Al Muqri. Zuhair berkata; Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yazid Al Muqri dia berkata; Telah menceritakan kepada kami Haiwah; Telah mengabarkan kepadaku Abu Hani bahwa dia mendengar Abu ‘Abdur Rahman Al Hubuli dia mendengar ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash berkata; bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya hati semua manusia itu berada di antara dua jari dari sekian jari Allah Yang Maha Pemurah. Allah Subhanahhu wa Ta’ala akan memalingkan hati manusia menurut kehendak-Nya.” Setelah itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa; ‘Ya Allah, Dzat yang memalingkan hati, palingkanlah hati kami kepada ketaatan beribadah kepada-Mu!
Aturan agama yang membuat kata cinta itu suci yang mana mengarahkan cinta tersebut kepada jalan yang benar. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.” – Hadits riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi
Berdasarkan beberapa hadits di atas dapat disimpulkan bahwa dalam mencintai seseorang hendaknya bersikap sewajarnya, senantiasa menggunakan logika dan hati nurani. Karena cinta yang sebenarnya atau cinta yang hakiki adalah hanya milik Allah SWT karena hanya Allah lah yang Maha Sempurna dan Maha Pemilik cinta. Jatuh cinta dalam pergaulan islam tentu saja diperbolehkan asalkan tidak melanggar syariat islam. Ketika melanggar syariat islam tentu saja menjadi jatuh cinta yang dilarang.
3,858 total views, 4 views today

Sebagai sebuah ijthad dalam rangka mengembangkan kajian Studi Hadis di Indonesia dibentuklah sebuah perkumpulan yang dinamakan dengan Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA). Sebagai sebuah perkumpulan ASILHA menghimpun beragam pemerhati hadis di Indonesia. Himpunan ini terdiri atas akademisi dan praktisi hadis di Indonesia dengan memiliki tujuan yang sama.

