Ide Yaqut al-Hamawi (w. 626 H/1229 M) untuk Leksikologi Bahasa Arab

Duduk sambil melihat-lihat komputer, terbetik untuk menulis bahwa Yaqut bin Abdullah al-Hamawiy merupakan ulama yang terkenal di bidang bahasa. Salah satu karyanya adalah Mu’jam al-Buldan (5 Jilid) berisi nama-nama daerah, kota, tempat yang ditelah dimua’rrabkan (ditransliterasi ke dalam bahasa Arab) dan semuanya itu berada dalam wilayah Islam sejak abad pertama sampai di masa al-Hamawi. Penulis kitab tersebut berusaha melakukan alih bahasa dengan cara merubah dari bahasa daerah setempat seperti kota di Persia, Turki, Mesir dan sebagainya ke dalam bahasa Arab berikut cara membacanya. Pada masa setelahnya, semua ulama merujuk kitab al-Hamawi tersebut saat menulis dan membaca nama-nama kota, daerah dan tempat yang berada di wilayah Islam, sehingga dapat dinyatakan bahwa kitab Mu’jam al-Buldan menjadi rujukan paling utama bersifat permanen untuk kosa kata dan cara membaca bagi tempat yang berada di wilayah Islam.

Ide ini Nampak terhenti seiring kemunduran peradaban Islam. Mesti diakui berkembangnya suatu bahasa dari sebuah bangsa seiring dengan berkembangnya peradaban bangsa tersebut. Di era globalisasi ini, hampir semua penemuan berawal dari Eropa dan Amerika Serikat sehingga nama-nama tersebut dikenal dengan bahasa kedua benua itu; bahasa Inggris, seperti Facebook, computer dan sebagainya. Dalam konteks perkembangan bahasa Arab, cenderung lambat karena berusaha mengadaptasi bahasa asing tersebut menjadi bahasa Arab, baik dalam tulisan maupun ucapan sepertiكميوتر  atau bertansformasi menjadi الحاسوب untuk kata computer, begitu pula ucapan فيسبوك untuk kata Facebook.

Kembali pada ide al-Hamawi, nama kota, tempat, daerah di masa kini, khususnya di Indonesia nampaknya belum ada karya yang spesifik menulis dalam bahasa Arab, agar menjadi pegangan yang permanen di masa kini dan selanjutnya. Masih kita temukan misalnya penulisan kata Malang ditulis dengan مالاڠ untuk kota Malang, ini dapat dipahami karena terpengaruh dengan penulisan Arab pegon. Adapun kata سورابايا  atau سورباي  digunakan untuk kota Surabaya, sementara kataفلبين  kata untuk negara Philipina dan برتغال untuk negara Portugal. Kedua negara ini diawali dengan huruf P namun dalam penulisan dan penyebutan bahasa Arab keduanya berbeda.

Data empiris di atas berarti ada konteks leksikologi berdasar pendengaran (sima’i) baik dari pengucap bahasa asli (orang Philipina dan Portugal sendiri) maupun pendengar (orang timur tengah/Arab) yang mengucapkan dua kata tersebut. Hasil dari elaborasi tersebut mungkin akan mampu menghidupkan kembali ide al-Hamawi di atas agar kembali menulis nama-nama kota, desa, daerah, dan wilayah yang ada di Indonesia.

Dalam beberapa kesempatan perkuliahan, penulis menyemangati mahasiswa, khususnya mereka yang di pascasarjana untuk melanjutkan ide al-Hamawi itu, dengan begitu mereka telah berusaha membuat sesuatu yang permanen sekaligus membuat sejarah lanjutan yang akan menjadi bagian dari peradaban Islam Indonesia melalui ilmu leksikologi.

 

Kartasura, 06-01-2020

Ja’far Assagaf

(Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia bidang Riset dan pengembangan Ilmu & Dosen IAIN Surakarta)

1,641 total views, 6 views today

Posted in Opini.