LEBARAN 2019

Jumat kemarin, saya ditugasi menguji disertasi. Judulnya: “Metode Yusuf Al-Qardhawi dalam memahami hadis-hadis rukyatul hilal.” Ujian terbuka. Promosi Doktor.

Yang diuji mas Mufid, lulusan Al-azhar, Mesir. lulus S2 dari prodi Ilmu Falak UIN semarang. S3 nya ngambil di UIN Suka Jogja. Secara usia mas Mufid ini lebih tua dari saya. Dia kelahiran 78, saya baru lahir empat tahun setelahnya.

Tentu sebuah kehormatan bagi saya. Menguji seorang calon doktor. Yang bimbing oleh guru saya, Prof. Susiknan Azhari, pakar Falak Muhammadiyyah, dan Dr. Nurun Najwah, ahli hadis.

Ada pula penguji lain: Prof. Syamsul Anwar, ketua Majlis Tarjih Muhammadiyah. Juga ada, Prof. Zuhri (dari Ahli hadis IAIN salatiga). juga Dr. Ahmad Izzuddin, pakar Falak NU, ketua Asosiasi Dosen Falak Indonesia.

Grogi. Apalah saya. Masih bau kencur , duduk di dekat para suhu dan shifu. Namun demi amanat, tugas harus terlaksana.

Saya menyiapkan beberapa catatan. Pertama-tama, saya ingin promovendus (sebutan bagi calon doktor yg diuji dalam sidang terbuka) menunjukkan kemampuannya dalam membaca data-data astronomis posisi hilal. Sy sodorkan hasil perhitungan software accurate time.

“Saudara promovendus, silahkan cermati angka-angka dalam kertas ini. Berdasarkan angka-angka ini, saya ingin tanya: kapan konjungsi akhir Ramadhan 1440 H/2019 terjadi?”

“Baik. Konjungsi terjadi pd 3 Juni 2019, pukul 17.02 WIB.”

“Saat itu, matahari tenggelam di bawah horizon pukul berapa?”

“Matahari tenggelam pukul 17.45.”

“Baik. Berapa ketinggian hilal?”

“Hilal tingginya sudah di atas ufuk dengan nilai 0,823 drajat.”

“Kalau menggunakan kriteria Wujudul Hilal Muhammadiyah, keesokan harinya, 4 Juni, apakah sudah masuk 1 syawal?”

“Belum. Sekilas nilai hilal yang sudah lebih dari nol derajat, bisa mengecoh orang bahwa saat itu hilal sudah wujud. Bisa dikira besoknya sudah masuk bulan baru, syawal. Tetapi perlu diperhatikan juga waktu tenggelamnya hilal. Data di sini tertulis hilal tenggelam pukul 17.41. Artinya, hilal tenggelam 4 menit sebelum matahari tenggelam. Jadi sebenarnya tidak memenuhi kriteria wujudul hilal Muhammadiyah.

“Jadi menurut kriteria Muhammadiyah, lebarannya kapan?”

“Insyaallah 4 Juni masih 30 ramadhan. Jadi 1 syawalnya 5 Juni.” Jawab ms mufid.

“Baik. Jawaban Anda benar. Sekarang kita pakai kriteria pemerintah atau kemenag RI. Kalau berdasarkan kriteria imkanur rukyat yg diikuti kemenag RI, angka-angka di atas apa sudah memenuhi kriteria?” kata saya.

“Belum. Kriteria Imkanur Rukyat yg diikuti kemenang, minimal ketinggian hilal 2 drajat. Hilal tgl 3 juni besok baru 0,8. Jadi masih kurang. juga umur hilal dari muncul sampai tenggelam, tampak dari data ini, hanya 43 menit. Padahal kriteria Imkanur Rukyat kemenag minimal umurnya 8 jam. Jadi data hilal 3 Juni belum memenuhi kriteria ini.”

“jadi nanti kira-kira menurut kemenag, lebarannya tanggal berapa?”

“Karena hilal tanggal 3 Juni belum memenuhi kriteria, maka 4 Juni masih dihitung 30 Ramadhan. Lebaran 1 syawalnya 5 Juni.” Jawab ms mufid.

“Betul,” kata saya. “Lalu bagaimana dengan NU?”

“Kriteria imkanur rukyat yg diikuti NU sama persis dg kriteria imkanur pemerintah. Jadi bila menurut kriteria pemerintah belum memenuhi, maka menurut NU pun sama.”

“Jadi kira-kira nanti lebarannya sama, atau Muhammadiyah lebaran lebih dulu?”

“Insyaallah sama. 5 Juni 2019.”

“Betul. Tidak rugi Anda dibimbing prof. Susiknan, ahli falak Muhammadiyah, dan saat S2 dulu berguru pd Dr. A. Izuddin, pakar falak NU.”

Saya lalu menutup sesi saya. Sebenarnya saya masih ada 1 catatan lagi, yakni tentang riwayat Bukhari dari jalur Yahya dan Syu’bah. Namun, karena ketua sidang penguji, Prof. Yudian Wahyudi Asmin, memberitahu waktu habis, maka saya pun menutup dengan mengucapkan: terima kasih dan wassalamyalaikum.

Dr. Ali Imron, M.S.I. Dosen Ilmu Hadis, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Gambar mungkin berisi: 2 orang, orang tersenyum, topi

271 total views, 6 views today

Posted in Kolom Ketua ASILHA.