Berjuang karena Allah atau Sekadar Emosi? Memahami Makna Jihad yang Sesungguhnya
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ، قَالَ: أَخْبَرَنَا جَرِيرٌ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ أَبِي وَائِلٍ، عَنْ أَبِي مُوسَى، قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا الْقِتَالُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ فَإِنَّ أَحَدَنَا يُقَاتِلُ غَضَبًا وَيُقَاتِلُ حَمِيَّةً، فَرَفَعَ إِلَيْهِ رَأْسَهُ، قَالَ: وَمَا رَفَعَ إِلَيْهِ رَأْسَهُ إِلَّا أَنَّهُ كَانَ قَائِمًا، فَقَالَ: ” مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عز وجل “
Telah menceritakan kepada kami [‘Utsman] berkata, telah menceritakan kepada kami [Jarir] dari [Manshur] dari [Abu Wa’il] dari [Abu Musa] berkata, “Seorang laki-laki datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang disebut dengan perang fi sabilillah (di jalan Allah)? Sebab di antara kami ada yang berperang karena marah dan ada yang karena semangat?” Beliau lalu mengangkat kepalanya ke arah orang yang bertanya, dan tidaklah beliau angkat kepalanya kecuali karena orang yang bertanya itu berdiri. Beliau lalu menjawab: “Barangsiapa berperang untuk meninggikan kalimat Allah, maka dia perperang di jalan Allah ‘azza wajalla.”
HR. Bukhari No. 120
Syarah Hadis Menurut Ulama
Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī menjelaskan bahwa jawaban Nabi ﷺ dalam hadis ini menunjukkan keistimewaan jawāmi‘ al-kalim, yaitu kemampuan menyampaikan pesan yang luas melalui ungkapan singkat. Ketika ditanya tentang peperangan yang dilakukan karena kemarahan atau semangat membela kelompok, Nabi tidak merinci setiap motif tersebut, tetapi memberikan ukuran utama berupa tujuan meninggikan kalimat Allah. Hadis ini sekaligus memperkuat prinsip bahwa nilai suatu perbuatan sangat berkaitan dengan niat pelakunya (Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī, 2005).
Al-Anṣārī menjelaskan bahwa ungkapan fahuwa fī sabīlillāh menunjukkan keutamaan perjuangan yang dilakukan untuk memperoleh keridaan Allah dan pahala akhirat. Dengan demikian, peperangan yang dilandasi kemarahan pribadi, kesombongan, atau fanatisme kelompok tidak otomatis termasuk perjuangan di jalan Allah. Niat yang benar harus menjadi landasan dalam menjalankan suatu perjuangan (al-Anṣārī, 2005).
Selain menjelaskan persoalan niat, hadis ini juga memuat pelajaran tentang adab berkomunikasi. Nabi ﷺ mengangkat kepala untuk memperhatikan orang yang bertanya dalam posisi berdiri. Menurut Ibn Ḥajar, bertanya sambil berdiri kepada orang berilmu yang sedang duduk diperbolehkan selama tidak disertai kesombongan. Sikap tersebut memperlihatkan pentingnya perhatian dan penghormatan dalam proses penyampaian ilmu (Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī, 2005).
Baca juga: Adab Dalam Bertanya
Memahami Semangat Jihad dalam Kehidupan Masyarakat Indonesia
Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, hadis ini memberikan pelajaran bahwa setiap perjuangan harus dilandasi niat yang benar dan tujuan yang membawa kebaikan. Perjuangan membela agama tidak seharusnya didorong oleh kemarahan, kebencian, atau fanatisme kelompok. Semangat keagamaan perlu diwujudkan melalui tindakan yang mencerminkan keadilan, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap kehidupan manusia.
Dalam konteks masa kini, nilai kesungguhan berjuang di jalan Allah dapat menjadi inspirasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan, memperbaiki kesejahteraan masyarakat, dan membantu kelompok yang membutuhkan. Guru yang mendidik dengan ikhlas, tenaga kesehatan yang melayani masyarakat, serta individu yang berupaya mengatasi kemiskinan dapat meneladani semangat pengabdian tersebut. Namun, pengabdian sosial ini perlu dibedakan dari pengertian khusus qitāl atau peperangan yang menjadi pokok pembicaraan hadis.
Hadis ini juga relevan dalam menghadapi perbedaan pandangan keagamaan di Indonesia. Perselisihan antarkelompok tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan permusuhan atau kekerasan atas nama agama. Mengedepankan dialog, menyampaikan argumentasi secara santun, dan menghormati hak orang lain merupakan bentuk tanggung jawab sosial yang sejalan dengan nilai-nilai Islam. Semangat membela kebenaran harus tetap berada dalam batas-batas hukum dan etika.
Selain itu, perkembangan media digital menuntut masyarakat untuk lebih bijaksana dalam menyampaikan pesan agama. Ajakan yang mengatasnamakan jihad perlu dipahami secara cermat agar tidak disalahgunakan untuk membangkitkan kebencian atau membenarkan tindakan yang merugikan orang lain. Dakwah yang berlandaskan ilmu, keteladanan, dan kepedulian sosial dapat menjadi sarana membangun kehidupan masyarakat yang damai dan berkeadaban.
Niat yang Lurus, Perjuangan yang Bermakna
Hadis ini menegaskan bahwa keutamaan berperang di jalan Allah tidak ditentukan oleh kemarahan, keberanian, atau fanatisme kelompok, melainkan oleh tujuan yang benar sebagaimana dijelaskan Nabi ﷺ. Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, pesan tersebut dapat menjadi pengingat agar setiap bentuk pengabdian dilandasi keikhlasan, tanggung jawab, dan kemaslahatan. Semangat keagamaan yang benar hendaknya mendorong manusia untuk menegakkan kebaikan, menjaga perdamaian, dan menjauhi tindakan yang merugikan sesama.
13 total views, 13 views today

