Membedah karya Abdullāh bin al-Ṣiddīq al-Ghumārī yang berjudul Tawjīh al-‘Ināyah li-Ta‘rīf ‘Ilm al-Ḥadīth Riwāyatan wa Dirāyatan
Yogyakarta, 14 Oktober 2026 — Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA) menyelenggarakan Forum Diskusi bertajuk “Dimensi Riwayah dan Dirayah dalam Kajian Ilmu Hadis” pada Rabu (14/10/2026), melalui Zoom Meeting. Diskusi ini mengangkat karya Abdullah bin al-Ṣiddīq al-Ghumārī, Tawjīh al-‘Ināyah li-Ta‘rīf ‘Ilm al-Ḥadīth Riwāyatan wa Dirāyatan, dengan menghadirkan Dr. Ja’far Assegaf, M.A., sebagai pembanding dan Afdhalul Akhyar, Lc, sebagai pemantik diskusi.
Dalam pemaparannya, Dr. Ja’far Assegaf membahas pemikiran al-Ghumārī mengenai definisi ilmu hadis riwayah dan dirayah. Pembahasan ini mengantarkan peserta untuk memahami bagaimana kedua dimensi tersebut dirumuskan dalam tradisi keilmuan hadis.
Salah satu aspek yang disoroti ialah kritik al-Ghumārī terhadap rumusan ilmu hadis dalam literatur klasik, termasuk definisi yang diikuti oleh al-Suyūṭī dalam Tadrīb al-Rāwī. Hal ini menunjukkan bahwa pemikiran ulama terdahulu dapat dikaji kembali melalui telaah kritis dan argumentasi ilmiah.
Dimensi riwayah berkaitan dengan periwayatan hadis, sedangkan dirayah mencakup kaidah dan perangkat keilmuan untuk mengkaji hadis. Keduanya memiliki keterkaitan penting dalam memahami hadis, baik dari aspek transmisi maupun analisis keilmuannya.
Melalui forum ini, ASILHA menyediakan ruang dialog akademik untuk memperdalam pemahaman terhadap karya-karya ulama hadis. Diskusi ini diharapkan dapat mendorong pengembangan pemikiran kritis dan metodologi studi hadis di kalangan akademisi, peneliti, dan mahasiswa.
24 total views, 8 views today

