Ketua ASILHA Prof. Saifuddin Zuhri: Ilmu Hadis Tidak Harus Selalu Melihat ke Belakang

JOMBANG — Ilmu hadis tidak hanya berbicara tentang masa lalu. Di tengah perubahan situasi yang terus berlangsung, studi hadis juga perlu melihat ke depan dan menghadirkan nilai-nilai kenabian dalam konteks kehidupan hari ini. Hal tersebut disampaikan Ketua Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA), Prof. Saifuddin Zuhri Qudsy, dalam pembukaan Muktamar Turats Nabawi (MUTUN) dan Annual Meeting ASILHA 2026 di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Senin (5/10/2026).

Prof. Saifuddin menyampaikan apresiasi atas kerja sama antara ASILHA dan Ma’had Aly Hasyim Asy’ari. Menurutnya, ajakan kerja sama tersebut mendapat respons yang luar biasa dari Ma’had Aly Hasyim Asy’ari.

Dalam sambutannya, ia juga menjelaskan sejumlah milestone yang akan menjadi bagian dari Annual Meeting ASILHA 2026. Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk membicarakan sejumlah agenda besar asosiasi, terutama terkait pengembangan yang telah dilakukan sekaligus perubahan situasi yang perlu direspons dalam perkembangan ilmu hadis.

“Kita akan membicarakan tentang agenda-agenda besar dari asosiasi terutama terkait masalah pengembangan-pengembangan yang telah ada dan perubahan perubahan situasi yang juga sudah ada,” ujarnya.

Menurut Prof. Saifuddin, perubahan situasi tersebut juga perlu mendapat respons dari ilmu hadis. Studi hadis, menurutnya, tidak seharusnya hanya berorientasi pada masa lalu, tetapi juga perlu memiliki visi ke depan.

“Bagi kami, ilmu hadis tidak harus selalu melihat ke belakang. Dia harus memiliki visi ke depan,” tegasnya.

Visi ke depan tersebut, lanjutnya, perlu dibangun melalui pendekatan yang lebih kontekstual, termasuk dengan mengontekstualisasikan nilai-nilai kenabian yang telah diajarkan Nabi Muhammad saw sejak 15 abad lalu.

“Visi yang lebih kontekstual, mencoba mengkontekstualisasikan nilai-nilai kenabian yang telah diajarkan 15 abad yang lalu oleh Nabi Muhammad Saw.,” lanjutnya.

Gagasan tersebut disampaikan dalam forum MUTUN 2026 yang tahun ini mengangkat tema “Developing Hadith Studies in Pesantren: From the Tradition of Transmission toward the Production of Contemporary Knowledge.” Tema tersebut secara khusus mengajak peserta melihat perkembangan keilmuan hadis berbasis pesantren, termasuk kemungkinan pesantren bergerak dari tradisi transmisi menuju produksi pengetahuan.

MUTUN dan Annual Meeting ASILHA 2026 berlangsung selama tiga hari, 5–7 Oktober 2026 di Pondok Pesantren Tebuireng. Kegiatan ini menghadirkan tokoh keagamaan dan akademisi ilmu hadis dari Indonesia dan sejumlah negara lainnya, dengan berbagai agenda seperti sambung sanad dan ijazah kitab Sahih al-Bukhari dan al-Muwatta’, bahtsul masa’il haditsiyah maudlu’iyyah, serta bedah kitab Tadrij al-Masa’id fi Takhrij al-Maqashid. (Asilha)

 50 total views,  50 views today

Posted in Berita.