Jangan Berhenti Bertanya: Ketelitian ‘Aisyah Memahami Ilmu
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ، قَالَ: أَخْبَرَنَا نَافِعُ بْنُ عُمَرَ، قَالَ: حَدَّثَنِي ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ، أَنَّ عَائِشَةَ، زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَانَتْ لاَ تَسْمَعُ شَيْئًا لاَ تَعْرِفُهُ، إِلَّا رَاجَعَتْ فِيهِ حَتَّى تَعْرِفَهُ، وَأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ حُوسِبَ عُذِّبَ» قَالَتْ عَائِشَةُ: فَقُلْتُ أَوَلَيْسَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: {فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا} [الانشقاق: 8] قَالَتْ: فَقَالَ: ” إِنَّمَا ذَلِكِ العَرْضُ، وَلَكِنْ: مَنْ نُوقِشَ الحِسَابَ يَهْلِكْ “
Telah menceritakan kepada kami Sa‘īd bin Abī Maryam, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Nāfi‘ bin ‘Umar, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Ibn Abī Mulaikah, bahwa ‘Āisyah, istri Nabi ﷺ, apabila mendengar sesuatu yang belum dipahaminya, ia akan menanyakannya kembali hingga benar-benar memahaminya. Nabi ﷺ pernah bersabda, “Barang siapa yang diperiksa dalam hisab, ia akan diazab.” ‘Āisyah kemudian bertanya, “Bukankah Allah Ta‘ala berfirman, ‘Maka dia akan diperhitungkan dengan perhitungan yang mudah’ (QS. al-Insyiqāq: 8)?” ‘Āisyah berkata bahwa Nabi ﷺ kemudian menjawab, “Sesungguhnya yang dimaksud adalah sekadar diperlihatkan (amal-amalnya). Akan tetapi, barang siapa yang diperiksa secara mendalam dalam perhitungan amal, ia akan binasa.”
HR. Bukhari No. 100
Bagaimana Para Ulama Memaknai Hadis ini?
Menurut Ḥamzah Muḥammad Qāsim, sabda Nabi ﷺ, “man ḥūsiba ‘udzdziba” (barang siapa yang dihisab, ia akan diazab), menunjukkan bahwa hisab dalam pengertian tertentu bukan sekadar proses penghitungan amal, tetapi pemeriksaan secara mendalam terhadap kesalahan dan dosa seseorang. Dalam proses tersebut, seseorang akan dihadapkan pada berbagai perbuatan buruk yang pernah dilakukannya.
Baca juga: Ahlus Sunnah Meyakini Adanya Hisab
Karena itu, istilah “diazab” dalam hadis memiliki dua kemungkinan makna, yaitu proses pemeriksaan dan pertanggungjawaban itu sendiri yang terasa berat bagi seseorang, atau akibat yang ditimbulkannya berupa masuk ke dalam neraka (Ḥamzah Muḥammad Qāsim, Manār al-Qārī Syarḥ Mukhtaṣar Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, juz 1, hlm. 200).
Pertanyaan ‘Āisyah menunjukkan ketelitiannya dalam memahami sabda Nabi ﷺ. Ia menghubungkan hadis tersebut dengan firman Allah dalam QS. al-Insyiqāq [84]: 8 tentang orang yang mendapatkan ḥisāban yasīran atau perhitungan yang mudah. Nabi ﷺ kemudian menjelaskan bahwa perhitungan yang mudah tersebut bukanlah pemeriksaan secara mendalam, melainkan al-‘arḍ, yaitu diperlihatkannya amal seseorang.
Menurut Qāsim, seorang mukmin dapat diperlihatkan kesalahan-kesalahannya secara pribadi, sementara Allah tetap menutup aibnya dan memberikan ketenangan dengan ampunan-Nya (Ḥamzah Muḥammad Qāsim, Manār al-Qārī, juz 1, hlm. 200).
Baca juga: Besarnya Kasih Sayang Allah (Bag. 5): Allah Selalu Menutupi Aib Kita
Ibn al-Mulaqqin menjelaskan bahwa pemeriksaan amal secara mendalam dapat mengantarkan seseorang kepada azab karena tidak ada seorang pun yang benar-benar memiliki kebaikan yang semata-mata berasal dari dirinya sendiri. Setiap kebaikan terjadi dengan pertolongan, kemampuan, dan petunjuk dari Allah, sedangkan amal yang benar-benar murni dari berbagai kekurangan jumlahnya sedikit.
Karena itu, redaksi “man nūqisya al-ḥisāb yahlīk” yang berarti “barang siapa diperiksa secara mendalam dalam hisab, ia akan binasa” menggambarkan beratnya pertanggungjawaban tersebut (Ibn al-Mulaqqin, al-Tawḍīḥ li Syarḥ al-Jāmi‘ al-Ṣaḥīḥ, juz 3, hlm. 505).
Ibn al-Mulaqqin juga mengutip kemungkinan penjelasan al-Qāḍī bahwa pemeriksaan terhadap dosa dan kesalahan di hadapan Allah pada hari kiamat itu sendiri sudah merupakan bentuk teguran dan hukuman bagi seseorang. Dengan demikian, hadis ini tidak bertentangan dengan ayat tentang ḥisāban yasīran.
Keduanya berbicara tentang dua bentuk pertanggungjawaban yang berbeda: al-‘arḍ berupa diperlihatkannya amal tanpa pemeriksaan yang memberatkan, sedangkan munāqasyah al-ḥisāb merupakan pemeriksaan secara terperinci terhadap dosa dan kesalahan. Penjelasan ini sekaligus menunjukkan ketelitian para ulama dalam memahami hubungan antara hadis dan ayat Al-Qur’an (Ibn al-Mulaqqin, al-Tawḍīḥ, juz 3, hlm. 505).
Belajar Bertanya, Belajar Memahami
Dalam konteks sosial-budaya Indonesia, hadis ini memberikan teladan tentang pentingnya budaya bertanya dalam proses belajar agama. Sikap ‘Aisyah yang tidak langsung menerima sesuatu yang belum dipahaminya menunjukkan bahwa bertanya bukan tanda kurangnya pengetahuan, melainkan bagian dari kesungguhan mencari pemahaman.
Dalam lingkungan keluarga, sekolah, pesantren, maupun majelis taklim, budaya bertanya perlu dibangun agar masyarakat tidak mudah menerima informasi keagamaan tanpa memahami maksud dan konteksnya. Sikap kritis seperti ini menjadi semakin penting ketika berbagai informasi agama dapat diperoleh dengan mudah melalui media sosial.
Hadis ini juga mengajarkan pentingnya membedakan antara sekadar mengetahui suatu informasi dan memahami maknanya secara utuh. Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, perbedaan pemahaman keagamaan terkadang muncul karena seseorang hanya membaca atau mendengar satu pernyataan tanpa mencari penjelasan lebih lanjut.
Keteladanan ‘Aisyah menunjukkan bahwa ketika terdapat sesuatu yang tampak berbeda atau membingungkan, langkah yang tepat adalah melakukan klarifikasi kepada orang yang memiliki pengetahuan. Dengan demikian, dialog antara guru dan murid, orang tua dan anak, maupun sesama anggota masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman keagamaan yang lebih matang.
Di sisi lain, hadis ini mengingatkan masyarakat agar tidak mudah merasa aman dengan amal yang telah dilakukan. Gambaran tentang hisab yang berat dapat mendorong seseorang untuk melakukan evaluasi terhadap perilakunya, memperbaiki kesalahan, dan tidak meremehkan dosa.
Namun, kesadaran tersebut perlu berjalan bersama harapan terhadap rahmat dan ampunan Allah. Dalam kehidupan sosial, sikap ini dapat melahirkan pribadi yang lebih rendah hati, tidak mudah menghakimi orang lain, dan lebih sibuk memperbaiki diri daripada mencari kesalahan sesamanya.
Dari Pertanyaan Menuju Pemahaman
Hadis ini pada akhirnya mengajarkan dua sikap penting: keberanian untuk bertanya dan kesediaan untuk memperbaiki diri. Keteladanan ‘Aisyah menunjukkan bahwa pemahaman agama dapat tumbuh melalui dialog dan klarifikasi, sedangkan penjelasan Nabi ﷺ tentang hisab mengingatkan manusia agar menjalani kehidupan dengan penuh tanggung jawab.
Dalam konteks masyarakat Indonesia, kedua nilai tersebut dapat diterapkan dengan membangun budaya belajar yang terbuka, kritis, dan santun sekaligus membiasakan diri melakukan introspeksi. Dengan demikian, ilmu tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi menjadi jalan untuk membentuk kehidupan yang lebih baik.
19 total views, 19 views today

