NGAJI HADIS SAHIH BUKHARI #75

Belajar Menyayangi Dari Cara Nabi

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو مُسْهِرٍ قَالَ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنِي الزُّبَيْدِيُّ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ مَحْمُودِ بْنِ الرَّبِيعِ قَالَ عَقَلْتُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَجَّةً مَجَّهَا فِي وَجْهِي وَأَنَا ابْنُ خَمْسِ سِنِينَ مِنْ دَلْوٍ

Dari Muhammad bin Yusuf, dari Abu Mushir, dari Muhammad bin Harb, dari al-Zubaidi, dari al-Zuhri, dari Mahmud bin al-Rabbi‘ berkata: aku mengingat dari Nabi saw saat beliau menyemburkan air yang berasal dari timba ke wajahku, saat itu aku baru berumur lima tahun.

HR. Bukhari No. 75

Bagaimana Para Ulama Memaknai Hadis Ini?

Kata majja berkaitan dengan tindakan menyemburkan air dari mulut. Ibn Ḥajar menjelaskan istilah tersebut dalam konteks tindakan Nabi saw. terhadap seorang anak bernama Maḥmūd (Al-‘Asqalānī, 2013, hlm. 364). Dalam Minḥat al-Bārī dijelaskan bahwa air tersebut disemburkan ke wajah, bukan ke mulut (Al-Anṣārī, 2005, hlm. 292).

Tindakan Nabi saw. kepada Maḥmūd dapat dipahami sebagai bentuk gurauan dan kedekatan beliau dengan anak-anak. Selain itu, tindakan tersebut juga dapat dimaknai sebagai bentuk pemberian keberkahan, sebagaimana Nabi saw. melakukan hal serupa kepada anak-anak para sahabat lainnya (Al-‘Asqalānī, 2013, hlm. 364).

Al-Birmāwī kemudian menjelaskan beberapa kandungan yang dapat dipahami dari hadis ini. Di antaranya, kebolehan menyemburkan air ke wajah seseorang apabila dilakukan dengan tujuan yang baik, kesucian air yang digunakan dalam peristiwa tersebut, serta kebolehan bercanda dan bergurau dengan anak-anak kecil (Al-Birmāwī, 2012, hlm. 393).

Bermain Bersama, Membangun Kedekatan Emosional

Hadis ini menceritakan Maḥmūd ibn al-Rabī‘ yang ketika masih kecil pernah disembur wajahnya oleh Nabi saw. dengan air dari sebuah bejana. Secara umum, hadis ini memiliki hubungan dengan hadis sebelumnya yang membicarakan pengalaman seorang anak pada usia dini.

Namun, jika hadis sebelumnya lebih menekankan kemampuan anak dalam memahami dan menerima pengetahuan, hadis ini lebih memperlihatkan pola interaksi Nabi saw. dengan anak-anak.

Dari peristiwa tersebut dapat diambil pelajaran tentang pentingnya membangun kedekatan emosional dengan anak. Nabi saw. tidak selalu berinteraksi dengan anak-anak dalam suasana formal. Beliau juga bercanda dan bergurau dengan mereka.

Dalam kehidupan keluarga di Indonesia, persoalan kedekatan emosional antara orang tua dan anak menjadi semakin penting, terutama ketika kesibukan pekerjaan menyita banyak waktu. Sebagian orang tua yang bekerja di instansi pemerintahan, perusahaan, atau bidang profesi lainnya terkadang memiliki waktu yang terbatas untuk berinteraksi dengan anak.

Kurangnya interaksi yang hangat dan intens antara orang tua dan anak dapat berpengaruh terhadap perkembangan emosional dan karakter anak. Sebaliknya, hubungan yang positif dapat membantu anak merasa aman, dihargai, dan mendapatkan dukungan dalam proses pertumbuhannya.

Baca Juga: Cara Membangun Kedekatan Emosional Anak Sejak Dini

Salah satu cara yang dapat digunakan untuk membangun kedekatan tersebut adalah melalui permainan. Bermain bersama tidak hanya menghadirkan kegembiraan, tetapi juga menjadi sarana komunikasi antara orang tua dan anak.

Anak Butuh Kehadiran, Bukan Sekadar Pengasuhan

Hadis ini memperlihatkan sisi kelembutan Nabi saw. dalam berinteraksi dengan anak-anak melalui gurauan yang sederhana dan penuh keakraban. Dari peristiwa tersebut dapat dipahami bahwa pendidikan anak tidak hanya berlangsung melalui nasihat dan aturan, tetapi juga melalui kedekatan emosional, kasih sayang, dan interaksi yang menyenangkan.

Bermain, bercanda, berbicara, dan hadir dalam kehidupan anak merupakan bagian penting dari proses pengasuhan yang dapat membantu membentuk rasa aman, kepercayaan diri, dan perkembangan karakter anak.

 15 total views,  15 views today

Posted in Kajian.