NGAJI HADIS SAHIH BUKHARI #59-60

Pohon Kurma: Simbol Keteguhan dan Keberkahan Seorang Muslim

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ فَحَدِّثُونِي مَا هِيَ فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي قَالَ عَبْدُ اللَّهِ وَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ فَاسْتَحْيَيْتُ ثُمَّ قَالُوا حَدِّثْنَا مَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ هِيَ النَّخْلَةُ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ja’far dari Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya diantara pohon ada suatu pohon yang tidak jatuh daunnya. Dan itu adalah perumpamaan bagi seorang muslim”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Katakanlah kepadaku, pohon apakah itu?” Maka para sahabat beranggapan bahwa yang dimaksud adalah pohon yang berada di lembah. Abdullah berkata: “Aku berpikir dalam hati pohon itu adalah pohon kurma, tapi aku malu mengungkapkannya. Kemudian para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, pohon apakah itu?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Pohon kurma”.

HR. Bukhari No. 59

حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ مِنْ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ حَدِّثُونِي مَا هِيَ قَالَ فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي قَالَ عَبْدُ اللَّهِ فَوَقَعَ فِي نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ فَاسْتَحْيَيْتُ ثُمَّ قَالُوا حَدِّثْنَا مَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ هِيَ النَّخْلَةُ

Telah menceritakan kepada kami Khalid bin Makhlad Telah menceritakan kepada kami Sulaiman Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya diantara pohon ada satu pohon yang tidak jatuh daunnya. Dan itu adalah perumpamaan bagi seorang muslim”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Katakanlah padaku, pohon apakah itu?” Maka para sahabat beranggapan bahwa yang dimaksud adalah pohon yang berada di lembah. Abdullah berkata: Aku berpikir dalam hati pohon itu adalah pohon kurma, tapi aku malu mengungkapkannya. Kemudian orang-orang berkata: “Wahai Rasulullah, pohon apakah itu?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Pohon kurma”.

HR. Bukhari No. 60

Pohon Kurma sebagai Teladan Seorang Muslim Menurut Para Ulama

Dalam Fatḥ al-Bārī, Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ menggunakan perumpamaan (amtsāl) sebagai metode untuk memudahkan para sahabat memahami suatu pelajaran. Beliau tidak langsung menyebutkan jawaban, tetapi mengajak para sahabat berpikir terlebih dahulu melalui sebuah pertanyaan. Menurut Ibn Ḥajar, cara ini menunjukkan bahwa proses menemukan jawaban sendiri akan membuat ilmu lebih mudah dipahami dan diingat.

Mengenai perumpamaan pohon kurma, Ibn Ḥajar menjelaskan bahwa pohon tersebut dipilih karena seluruh bagiannya membawa manfaat. Buahnya dapat dimakan, batangnya dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, pelepah dan daunnya dapat digunakan untuk berbagai keperluan, bahkan bijinya pun memiliki kegunaan (Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī, 1960).

Baca juga: Mukmin dan Pohon Kurma

Demikian pula seorang muslim, keberadaannya seharusnya senantiasa memberi manfaat bagi orang lain melalui ilmu, amal saleh, akhlak yang baik, dan berbagai bentuk kebaikan yang terus mengalir sepanjang hidupnya.

Ibn Ḥajar juga menjelaskan bahwa kesamaan antara pohon kurma dan seorang muslim bukan terletak pada bentuk fisiknya, tetapi pada sifatnya yang tetap kokoh, penuh keberkahan, dan terus memberikan manfaat. Seorang muslim yang memiliki keimanan yang kuat akan tetap istiqamah menghadapi berbagai ujian sebagaimana pohon kurma yang tetap tegak dan produktif dalam berbagai keadaan.

Selain itu, Ibn Ḥajar menyoroti sikap Abdullah bin Umar yang mengetahui jawaban tetapi memilih diam karena menghormati Abu Bakar dan Umar yang lebih tua. Menurut beliau, sikap tersebut menunjukkan pentingnya adab dalam majelis ilmu.

Namun, Umar kemudian menjelaskan bahwa seandainya Abdullah menyampaikan jawabannya, beliau justru akan merasa senang. Dari peristiwa ini dipahami bahwa menghormati orang yang lebih tua merupakan akhlak yang mulia, tetapi hal itu tidak boleh menghalangi seseorang menyampaikan ilmu atau pendapat yang benar ketika diperlukan.

Menjadi Muslim yang Bermanfaat dalam Kehidupan Masyarakat Indonesia

Hadis ini sangat relevan dengan kehidupan masyarakat Indonesia yang menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan gotong royong. Rasulullah ﷺ menggambarkan seorang muslim seperti pohon kurma yang selalu memberi manfaat.

Artinya, keberadaan seorang muslim hendaknya menghadirkan kebaikan bagi lingkungan keluarga, masyarakat, tempat kerja, maupun kehidupan berbangsa. Ukuran kemuliaan seorang muslim bukan hanya banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi juga sejauh mana ia mampu memberikan manfaat kepada orang lain.

Hadis ini juga memberikan pelajaran penting dalam dunia pendidikan. Metode Rasulullah ﷺ yang mengajukan pertanyaan sebelum memberikan jawaban menunjukkan bahwa pembelajaran yang baik tidak hanya berpusat pada ceramah, tetapi juga mendorong peserta didik untuk berpikir, berdiskusi, dan menemukan jawaban melalui proses analisis.

Pendekatan seperti ini sangat relevan dengan sistem pendidikan modern di Indonesia yang menekankan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah. Selain itu, hadis ini mengajarkan keseimbangan antara adab dan keberanian dalam menyampaikan ilmu. Budaya menghormati guru, orang tua, dan tokoh masyarakat merupakan nilai yang harus tetap dijaga.

penghormatan tersebut tidak boleh membuat seseorang takut menyampaikan pendapat yang benar atau enggan memberikan gagasan yang bermanfaat. Dengan demikian, masyarakat dapat membangun budaya diskusi yang santun, terbuka, dan saling menghargai tanpa kehilangan etika.

Muslim Terbaik adalah yang Paling Bermanfaat

Hadis ini mengajarkan bahwa seorang muslim hendaknya menjadi pribadi yang kokoh dalam keimanan sekaligus bermanfaat bagi sesama, sebagaimana pohon kurma yang seluruh bagiannya membawa keberkahan. Para ulama menjelaskan bahwa perumpamaan tersebut tidak hanya menggambarkan keteguhan iman, tetapi juga pentingnya menjadi sumber manfaat melalui ilmu, akhlak, dan amal saleh.

Baca juga: Kata Nabi Seorang Muslim itu Ibarat Pohon Kurma, Inilah Maksudnya

Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, hadis ini mendorong setiap muslim untuk membangun karakter yang produktif, menjaga adab dalam menuntut ilmu, serta terus memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya. Dengan demikian, kualitas seorang muslim tidak hanya diukur dari hubungan dengan Allah Swt., tetapi juga dari manfaat yang dapat dirasakan oleh sesama manusia.

 19 total views,  19 views today

Posted in Kajian.