Cara Nabi ﷺ Menghapus Diskriminasi Sosial
حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ وَاصِلٍ الْأَحْدَبِ عَنْ الْمَعْرُورِ بْنِ سُوَيْدٍ قَالَ لَقِيتُ أَبَا ذَرٍّ بِالرَّبَذَةِ وَعَلَيْهِ حُلَّةٌ وَعَلَى غُلَامِهِ حُلَّةٌ فَسَأَلْتُهُ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ إِنِّي سَابَبْتُ رَجُلًا فَعَيَّرْتُهُ بِأُمِّهِ فَقَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا ذَرٍّ أَعَيَّرْتَهُ بِأُمِّهِ إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ إِخْوَانُكُمْ خَوَلُكُمْ جَعَلَهُمْ اللَّهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ فَمَنْ كَانَ أَخُوهُ تَحْتَ يَدِهِ فَلْيُطْعِمْهُ مِمَّا يَأْكُلُ وَلْيُلْبِسْهُ مِمَّا يَلْبَسُ وَلَا تُكَلِّفُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ فَإِنْ كَلَّفْتُمُوهُمْ فَأَعِينُوهُمْ
Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Washil al-Ahdab, dari al-Ma’rur bin Suwaid, ia berkata: Aku pernah bertemu Abu Dzar di Rabadzah yang saat itu ia mengenakan sepasang pakaian yang bagus, begitu juga budaknya, lantas kutanyakan kepadanya tentang hal tersebut, lalu jawabnya: “Aku pernah menghina seseorang dengan cara menghina ibunya, lantas Nabi ﷺ menegurku dengan sabdanya, ‘Wahai Abu Dzar, apakah engkau telah menghina ibunya? Sesungguhnya engkau masih memiliki (sifat) Jahiliah. Saudara-saudara kalian adalah tanggungan kalian. Allah telah menjadikan mereka di bawah kekuasaan kalian. Oleh karena itu, barang siapa yang saudaranya berada di bawah tanggungannya, maka seharusnya ia memberi makanan seperti apa yang ia makan, memberi pakaian seperti apa yang ia kenakan. Janganlah kalian membebani mereka dengan sesuatu di luar batas kemampuan mereka. Jika kalian membebani mereka, maka bantulah mereka.'”
HR. Bukhari No. 29
Mengapa Nabi ﷺ Menyebut Hinaan sebagai Sikap Jahiliah?
Hadis ini menceritakan teguran Rasulullah saw. kepada Abū Dzarr al-Ghifārī yang pernah menghina seseorang dengan menyebut ibunya. Nabi saw. kemudian menegaskan bahwa tindakan tersebut termasuk perilaku jahiliah. Yang dimaksud jahiliah dalam hadis ini bukanlah kekafiran, melainkan perilaku tercela dan berdosa yang masih menyerupai kebiasaan masyarakat Arab pra-Islam.
Baca juga: Kisah Teguran Nabi kepada Sahabat yang Bersikap Rasis
Menurut Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī, bentuk penghinaan yang umum dilakukan masyarakat Arab saat itu adalah merendahkan seseorang melalui ibunya, misalnya dengan menyebut ibunya berkulit hitam atau tidak fasih berbahasa Arab. Bentuk hinaan seperti itu dianggap sangat menyakitkan karena menyerang martabat dan kehormatan seseorang. Oleh sebab itu, Nabi saw. menyebut tindakan tersebut sebagai perilaku jahiliah (Fatḥ al-Bārī, 1993: 153–154).
Sementara itu, Badruddin al-‘Ainī menjelaskan bahwa setiap perilaku jahiliah selain syirik termasuk kategori maksiat, meskipun tidak sampai menyebabkan kekafiran. Dalam hadis ini, Nabi saw. tidak hanya melarang penghinaan terhadap budak, tetapi juga memerintahkan agar mereka diperlakukan secara manusiawi.
Seorang tuan diperintahkan memberi makanan dan pakaian kepada budaknya sebagaimana yang ia konsumsi dan gunakan sendiri. Dengan demikian, hadis ini mengandung pesan kuat tentang kesetaraan dan penghormatan terhadap martabat manusia (‘Umdah al-Qārī, 329).
Bagian akhir hadis juga sangat menarik untuk diperhatikan. Nabi saw. memerintahkan Abū Dzarr agar memberi pakaian dan makanan yang sama kepada budaknya. Dalam konteks sosial masyarakat Arab saat itu, perintah tersebut merupakan sesuatu yang tidak lazim. Pakaian bukan hanya kebutuhan, tetapi juga simbol status sosial dan kehormatan. Karena itu, hampir tidak mungkin seorang budak mengenakan pakaian yang setara dengan tuannya.
Melalui hadis ini, Nabi saw. ingin membangun hubungan yang lebih egaliter antara tuan dan budak. Dengan kata lain, Islam hadir untuk mengikis praktik diskriminasi sosial dan mengangkat martabat kelompok yang selama ini dipandang rendah.
Ketika Penghinaan Menjadi Budaya Sosial
Pesan hadis ini masih sangat relevan dalam kehidupan masyarakat Indonesia saat ini. Praktik menghina seseorang dengan membawa nama ibu atau keluarga masih sering ditemukan di berbagai daerah dan budaya. Dalam beberapa bahasa daerah, terdapat bentuk-bentuk hinaan yang menyerang kehormatan ibu dan keluarga, yang biasanya memicu kemarahan besar bagi orang yang dihina.
Baca juga: Mencela dan Mencaci Orang Tua
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa budaya penghinaan semacam ini ternyata telah ada sejak masa jahiliah dan masih terus bertahan hingga sekarang. Bedanya, pada masa Abū Dzarr, orang yang dihina adalah seorang budak sehingga tidak memiliki keberanian untuk melawan majikannya. Namun, Rasulullah saw. tetap memberikan teguran keras terhadap tindakan tersebut.
Menariknya, bentuk hukuman yang diberikan Nabi saw. bukan berupa kekerasan fisik, melainkan pendidikan moral dan sosial. Abū Dzarr diperintahkan memperlakukan budaknya secara setara, memberi makan dengan makanan yang sama, dan memberi pakaian sebagaimana yang ia kenakan sendiri. Pada masa itu, tindakan seperti ini merupakan sesuatu yang sangat tidak biasa dan menjadi bentuk pendidikan sosial yang revolusioner.
Hadis ini sekaligus menunjukkan bahwa Islam sangat menentang penghinaan, diskriminasi, dan perlakuan tidak manusiawi terhadap kelompok yang lemah. Semua manusia memiliki martabat yang harus dihormati, apa pun latar belakang sosialnya.
Islam Datang untuk Memuliakan Manusia
Hadis ini mengajarkan larangan menghina orang lain, terlebih dengan membawa nama ibu dan keluarga. Dalam banyak budaya, ibu merupakan sosok yang sangat dihormati sehingga penghinaan terhadap ibu sering kali menimbulkan luka emosional dan kemarahan yang besar.
Selain itu, hadis ini juga menunjukkan bahwa kesalahan sosial tidak cukup ditebus hanya dengan permintaan maaf, tetapi juga perlu diiringi perubahan sikap dan perlakuan yang lebih baik terhadap orang lain. Rasulullah saw. mendidik Abū Dzarr agar memperlakukan budaknya secara manusiawi dan setara.
Dengan demikian, hadis ini mengandung pesan penting tentang penghormatan terhadap martabat manusia, penolakan terhadap diskriminasi sosial, serta pentingnya membangun hubungan yang lebih adil dan egaliter dalam kehidupan bermasyarakat.
19 total views, 19 views today

