NGAJI HADIS SAHIH BUKHARI #27

Ciri Muslim Terbaik: Memberi Makan dan Menyapa dengan Salam

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ أَبِي الْخَيْرِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْإِسْلَامِ خَيْرٌ قَالَ تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami al-Laits, dari Yazid bin Abi Habib, dari Abu al-Khair, dari Abdullah bin ‘Amr, bahwasanya pernah ada seseorang bertanya kepada Rasulullah ﷺ: “Bagaimanakah Islam yang paling baik?” Nabi ﷺ menjawab: “Engkau memberi makan dan tebar salam kepada orang yang engkau kenal maupun yang tak engkau kenal.”

HR. Bukhari No. 27

Bagaimana Ulama Memahami Islam yang Paling Baik?

Hadis ini menjelaskan tentang seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullah saw. mengenai Islam yang paling baik. Nabi saw. kemudian menjawab bahwa Islam terbaik adalah memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang dikenal maupun yang tidak dikenal.

Mengenai anjuran memberi makan, redaksi hadis menggunakan ungkapan yang bersifat umum dan tidak membatasi kepada golongan tertentu saja. Karena itu, memberi makan dapat dilakukan kepada siapa pun, baik keluarga, tamu, tetangga, maupun orang lain, dalam kondisi kaya ataupun miskin. Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī menjelaskan bahwa cakupan hadis ini bersifat luas dan menunjukkan pentingnya kepedulian sosial dalam Islam (Fatḥ al-Bārī, 1993: 147).

Baca juga: Keutamaan Memberi Makan Berdasarkan Hadits-Hadits Shahih

Demikian pula dalam persoalan mengucapkan salam. Hadis ini tidak membatasi salam hanya kepada orang-orang tertentu, melainkan kepada siapa saja, baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal. Dengan demikian, hadis ini mengajarkan sikap ramah, santun, dan terbuka kepada seluruh manusia tanpa membedakan latar belakang sosial tertentu (Fatḥ al-Bārī, 1993: 147).

Islam yang Ramah dalam Kehidupan Sosial Indonesia

Nilai-nilai dalam hadis ini dapat ditemukan dalam berbagai praktik sosial masyarakat Indonesia saat ini. Pertama, anjuran memberi makan sering diwujudkan dalam bentuk sedekah makanan di masjid-masjid, terutama pada momentum salat Jumat. Di berbagai kota besar, banyak masyarakat yang membagikan nasi bungkus, roti, buah, minuman, ataupun makanan ringan kepada jamaah salat Jumat.

Fenomena tersebut semakin berkembang dalam beberapa tahun terakhir dan mulai banyak dijumpai tidak hanya di perkotaan, tetapi juga di masjid-masjid pedesaan. Sebagian masyarakat maupun pengurus masjid melakukan hal tersebut sebagai bentuk sedekah sekaligus upaya memakmurkan masjid agar jamaah merasa nyaman dan betah berada di lingkungan masjid.

Kedua, anjuran mengucapkan salam kepada orang yang dikenal maupun tidak dikenal juga tampak dalam berbagai tradisi sosial masyarakat Indonesia. Misalnya, budaya berjabat tangan ketika bertemu, baik dengan orang yang sudah dikenal maupun belum dikenal. Tradisi berjabat tangan setelah salat berjamaah juga menjadi salah satu bentuk ekspresi dari semangat hadis ini.

Baca juga: Mengucapkan Salam Kepada Muslim yang Dikenal Maupun Tidak Dikenal

Meskipun terdapat sebagian kelompok yang mempersoalkan praktik berjabat tangan setelah salat karena dianggap tidak dicontohkan secara langsung oleh Rasulullah saw., para ulama seperti Imam al-Nawawī dalam al-Adzkār menjelaskan bahwa berjabat tangan merupakan amalan yang dibolehkan dan bahkan dianjurkan dalam berbagai situasi sebagai bentuk mempererat hubungan sosial.

Dalam konteks masyarakat Muslim di berbagai negara, termasuk di Barat, praktik mengucapkan salam kepada sesama Muslim yang dikenal ataupun tidak dikenal juga menjadi bagian penting dari identitas sosial dan persaudaraan Islam. Dengan demikian, hadis ini menunjukkan bahwa Islam sangat menekankan nilai keramahan, kepedulian sosial, dan penghormatan terhadap sesama manusia.

Menebarkan Salam dan Kepedulian Sosial

Hadis ini menunjukkan bahwa sedekah, terutama dalam bentuk memberi makan kepada orang lain, merupakan salah satu amalan penting untuk mewujudkan Islam yang terbaik. Selain itu, mengucapkan salam kepada orang yang dikenal maupun tidak dikenal juga menjadi bentuk akhlak sosial yang sangat dianjurkan dalam Islam.

Melalui hadis ini, Rasulullah saw. mengajarkan bahwa kualitas keberislaman seseorang tidak hanya diukur dari ibadah ritual semata, tetapi juga dari kepedulian sosial, keramahan, dan kemampuan membangun hubungan baik dengan sesama manusia dalam kehidupan sehari-hari.

 25 total views,  6 views today

Posted in Kajian.