NGAJI HADIS SAHIH BUKHARI #22

Mimpi Nabi: Simbol Iman dari Ulama hingga Budaya Jawa

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ صَالِحٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ بْنِ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ رَأَيْتُ النَّاسَ يُعْرَضُونَ عَلَيَّ وَعَلَيْهِمْ قُمُصٌ مِنْهَا مَا يَبْلُغُ الثُّدِيَّ وَمِنْهَا مَا دُونَ ذَلِكَ وَعُرِضَ عَلَيَّ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ وَعَلَيْهِ قَمِيصٌ يَجُرُّهُ قَالُوا فَمَا أَوَّلْتَ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الدِّينَ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ubaidillah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’d, dari Shalih, dari Ibnu Syihab, dari Abu Umamah bin Sahal bin Hunaif, bahwasanya ia mendengar Abu Sa’id al-Khudri berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Ketika aku tidur, aku bermimpi melihat orang-orang dihadapkan kepadaku. Mereka semua mengenakan pakaian. Di antara mereka, ada yang mengenakan pakaian hanya sampai pada pertengahan dadanya dan ada pula yang selain daripada itu. Sementara itu, dihadapkan pula kepadaku Umar bin Khaththab, hanya saja ia mengenakan pakaian yang terseret-seret.” Para sahabat bertanya: “Apa yang engkau takwilkan wahai Rasulullah?” Beliau ﷺ menjawab: “(Teguh) dalam beragama.”

HR. Bukhari No. 22

Bagaimana Para Ulama Memaknai Hadis Ini?

Hadis ini menjelaskan bahwa Nabi pernah bermimpi melihat seseorang mengenakan pakaian yang hanya menutupi bagian dada, sementara umat lain mengenakan pakaian panjang. Tafsir mimpi Nabi tersebut adalah tentang agama. Maksudnya, orang yang imannya lemah digambarkan seperti mengenakan baju yang hanya sampai dada; sedangkan orang yang imannya kuat, seperti Umar, digambarkan mengenakan baju panjang.

Ibn Ḥajar tidak memberikan komentar mengenai substansi hadis ini. Ia hanya menyoroti aspek kebahasaan, khususnya terkait kata baina dan ṣudayy. Tentang baina, dalam hadis ini dibaca panjang, bukan pendek. Jika dibaca panjang, mayoritas ahli bahasa Arab menambahkan kata idh atau idhā, kecuali al-Asmu‘ī. Menurut al-Asmu‘ī, tidak perlu ditambahkan idh atau idhā. Karena itu, hadis ini seakan menjadi legitimasi bagi pendapat al-Asmu‘ī (al-‘Asqalānī, 1993: 128).

Lebih jauh, mengenai ṣudayy, ia merupakan bentuk jamak dari kata ṣadiyy. Mayoritas ahli bahasa berpendapat bahwa kata ṣadiyy hanya digunakan untuk menyebut puting wanita, bukan puting laki-laki. Namun, terkait hadis ini, ada yang berpendapat bahwa kata ṣadiyy juga berlaku untuk puting laki-laki. Sebagian ulama menilai penggunaannya di sini bersifat isti‘ārah (metaforis), bukan makna leksikal (Fatḥ al-Bārī, 1993: 128).

Menurut Badr al-Dīn al-‘Aynī, hadis ini menganalogikan pakaian dengan agama: pakaian menutupi aurat manusia dari pandangan, sedangkan agama melindungi manusia dari neraka. Hadis tersebut menegaskan bahwa iman Umar lebih sempurna dibandingkan iman orang yang hanya digambarkan mengenakan baju sampai dada (ʿUmdah al-Qārī, 174).

Pandangan Modern tentang Tafsir Mimpi: Freud dan Primbon Jawa

Hadis ini berbicara tentang tafsir mimpi. Nabi menafsirkan mimpinya ketika melihat Umar mengenakan gamis panjang, sementara orang lain mengenakan baju pendek yang hanya menutupi dada. Pakaian dalam mimpi itu ditafsirkan sebagai simbol keimanan. Maka, Umar digambarkan sebagai sosok dengan keimanan yang luar biasa.

Pertanyaannya, apakah hadis ini dapat dijadikan dalil untuk melegitimasi tafsir mimpi? Dalam tradisi Islam, tafsir mimpi memiliki kedudukan penting. Sebagian sarjana bahkan berpendapat bahwa siapa pun yang tidak percaya pada mimpi berarti tidak beriman kepada Nabi Muhammad, sebab wahyu pertama turun melalui mimpi.

Mimpi sendiri dapat berasal dari Tuhan, dari setan, atau dari kondisi psikologis. Salah satu tokoh yang menaruh perhatian besar pada tafsir mimpi adalah ‘Abd al-Ghanī al-Nābulusī, yang menyusun ensiklopedia tafsir mimpi dalam kitab Ta‘ṭīr al-Anām fī Tafsīr al-Manām (1963).

Selain tradisi Islam, dalam tradisi keilmuan modern, Sigmund Freud juga mengembangkan teori tafsir mimpi. Menurutnya, mimpi adalah gambaran nyata dari alam bawah sadar manusia.

Memahami mimpi berarti berusaha memahami alam bawah sadar, yang terbentuk dari kebiasaan berulang. Karena kebiasaan setiap orang berbeda, maka alam bawah sadar pun berbeda. Dengan demikian, memahami mimpi sama dengan memahami manusia secara utuh (Freud, 2009).

Dalam tradisi Jawa, tafsir mimpi dikenal melalui primbon. Banyak kalangan Muslim maupun modern menolak primbon, dengan alasan ia dianggap bisikan setan atau tidak ilmiah.

Namun, ada pula yang berpendapat bahwa primbon bukanlah bisikan jin, tidak syirik, dan tidak bertentangan dengan Islam. Bahkan, primbon dianggap sebagai pengetahuan lokal yang melampaui zamannya.

Terlepas dari perbedaan pandangan tersebut, tafsir mimpi tetap membutuhkan kajian dari berbagai perspektif: Islam, ilmu modern, maupun tradisi lokal.

Tafsir Mimpi Nabi: Simbol Keimanan dari Pakaian

Hadis ini menceritakan Nabi yang menafsirkan mimpi. Dalam mimpi itu, Umar digambarkan mengenakan gamis panjang sebagai simbol keimanan yang sempurna, sementara orang lain mengenakan baju hanya sampai dada sebagai simbol iman yang kurang sempurna. Tafsir mimpi memiliki ragam tradisi. Setiap budaya dan ilmu pengetahuan memiliki cara pandang masing-masing dalam menafsirkan mimpi.

Kendati hadis ini menyinggung tafsir mimpi, tidak semua sarjana sepakat menjadikannya legitimasi bagi praktik tafsir mimpi. Ada yang sangat meyakini mimpi sebagai bagian dari iman, bahkan menilai orang yang tidak percaya mimpi berarti tidak beriman kepada kenabian Muhammad.

 10 total views,  4 views today

Posted in Kajian.