Iman sebagai Sumber Cinta, Persatuan, dan Syukur
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Mutsanna, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab ats-Tsaqafi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Abu Qilabah, dari Anas bin Malik, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Ada tiga hal yang jika dimiliki seseorang, niscaya akan memperoleh manisnya iman: mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari siapapun; mencintai seseorang hanya karena Allah; dan membenci kekufuran sebagaimana membenci dilemparkan ke dalam api Neraka.”
HR. Bukhari No. 15
Bagaimana Para Ulama Memaknai Hadis Ini?
Iman sebagai wujud keyakinan terhadap ajaran agama merupakan sumber kenikmatan dan kelezatan batin. Iman dapat dirasakan oleh hati sebagaimana rasa manis makanan dan minuman dirasakan oleh lidah.
Pada hakikatnya, iman adalah santapan bagi hati, sebagaimana makanan dan minuman menjadi santapan bagi tubuh. Lidah tidak mampu merasakan manisnya makanan ketika sakit, tetapi dapat menikmatinya saat sehat. Demikian pula hati: hati yang sehat akan merasakan manisnya iman, sedangkan hati yang sakit sulit untuk merasakannya (Ibnu Rajab, 1992).
Cinta kepada Nabi bukan hanya sekadar keutamaan, melainkan juga harus diiringi dengan cinta kepada Allah Swt., Dzat yang menciptakan Nabi. Buah dari mencintai Nabi adalah tidak mendurhakai Allah. Ibnu Qudamah berkata, “Barang siapa mencintai Allah, maka ia tidak akan mendurhakai-Nya” (Hamzah Muhammad Qasim, 1990).
Meski potensi untuk mendurhakai-Nya selalu ada selama manusia hidup, seorang muslim tetap memiliki peluang untuk menaati-Nya, tergantung bagaimana ia mengelola diri dan imannya agar menjauhi larangan serta melaksanakan perintah-Nya.
Mencintai seseorang karena Allah adalah bentuk ibadah, bukan karena mencari manfaat atau keuntungan, melainkan demi mengharap rida-Nya. Dengan demikian, cinta itu menjadi ikhlas karena mengharap wajah-Nya (Ali al-Sabuni, 2011).
Hubungan antar manusia sebaiknya dibangun atas dasar tauhid, sehingga jika muncul kekecewaan, hati dapat segera disembuhkan melalui nilai keimanan. Rasa benci terhadap kekufuran, sebagaimana benci dilemparkan ke dalam neraka, adalah buah dari hati yang telah diselimuti iman setelah Allah menganugerahkan hidayah Islam (Hamzah Muhammad Qasim, 1990).
Enggan bermaksiat kepada Allah merupakan ibadah hati yang tidak tampak secara fisik, tetapi buahnya nyata. Misalnya, seseorang enggan kembali kepada agama nenek moyangnya dan lebih memilih Islam. Rasa cinta dan benci yang ditempatkan sesuai tuntunan agama adalah bagian dari iman dan dihitung sebagai ibadah.
Buah Keimanan dalam Kehidupan: Cinta kepada Allah dan Rasul
Indonesia adalah bangsa multikultural yang terdiri atas beragam suku, agama, bahasa, dan ras. Keragaman ini patut dijaga dan dipersatukan dalam bingkai NKRI dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Tanpa persatuan, bangsa Indonesia tidak akan mampu mengalahkan penjajah.
Persatuan pemuda, wanita, dan seluruh komponen bangsa menjadi kunci tercapainya kemerdekaan dan kedaulatan. Semangat persatuan ini harus terus dijaga agar cita-cita para pendiri bangsa, yaitu persatuan Indonesia, tetap terwujud.
Manisnya iman tercermin dalam kemampuan seorang Muslim mengamalkan ajaran Nabi Muhammad Saw., yakni al-Qur’an dan hadis, dalam kehidupan sehari-hari. Keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya harus berdampak positif dalam interaksi sosial. Misalnya, prinsip kedamaian dalam shalat seharusnya tercermin dalam hubungan dengan sesama Muslim, bukan malah rajin ke masjid tetapi enggan menyapa tetangga hanya karena perbedaan mazhab.
Apalagi jika sikap tersebut ditunjukkan kepada pemeluk agama lain, hal itu dapat menimbulkan citra negatif terhadap Islam. Oleh karena itu, keberagaman dalam beribadah dan berkeyakinan harus ditanamkan dalam kehidupan sehari-hari.
Syukur atas nikmat Allah juga diwujudkan dalam tradisi lokal, seperti sedekah bumi atau ruwatan, sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen. Demikian pula ketika membangun rumah, masyarakat mengadakan kenduri untuk mempererat hubungan dengan tetangga. Tradisi ini menunjukkan bahwa keimanan kepada Allah berdampak pada kehidupan sosial.
Kecintaan kepada Nabi Muhammad Saw. diwujudkan dalam berbagai bentuk shalawat. Shalawat tidak hanya menjadi ekspresi cinta, tetapi juga doa untuk kesembuhan atau hajat tertentu. Perkembangannya bahkan berkolaborasi dengan seni dan musik, baik tradisional maupun modern. Dari Nasyida Ria hingga Habib Syekh, Maher Zain, Opick, Haddad Alwi, Sulis, hingga Nissa Sabyan, semua menunjukkan keragaman ekspresi cinta kepada Nabi.
Hadis juga menekankan pentingnya mencintai sesama karena Allah. Persaudaraan atau pernikahan yang tidak dilandasi iman mudah rapuh. Hubungan yang hanya didasari kecantikan atau harta akan sirna seiring waktu. Sebaliknya, hubungan yang berlandaskan iman kepada Allah akan langgeng dan mampu bertahan menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Kekufuran berarti mengingkari nikmat Allah dan Rasul-Nya. Wujudnya adalah ketidakmampuan menjaga iman dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya harus menjadi bagian mutlak dari kehidupan umat Islam sebagai tanda keimanan.
Keindahan dan Kelezatan Iman
Seorang mukmin seharusnya merasakan keindahan iman. Kelezatan iman itu terwujud melalui ketaatan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Dengan demikian, seorang mukmin akan menjauh dari kekufuran yang berarti mengingkari Allah dan Rasul-Nya.
18 total views, 18 views today

