NGAJI HADIS SAHIH BUKHARI #13-14

Cinta Nabi Muhammad, Fondasi Keimanan & Kehidupan

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ

Telah menceritakan kepada kami Abu al-Yaman, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Syu’aib, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu az-Zinad, dari al-A’raj, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, tidaklah beriman salah seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya dan anaknya.”

HR. Bukhari No. 13

حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ صُهَيْبٍ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ح و حَدَّثَنَا آدَمُ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Telah menceritakan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Ulayyah, dari Abdul Aziz bin Shuhaib, dari Anas, dari Nabi ﷺ. -Diriwayatkan dari jalur lain- Dan telah menceritakan kepada kami Adam, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Qatadah, dari Anas, ia berkata: Nabi ﷺ bersabda: “Tidaklah (sempurna) keimanan salah seorang di antara kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.”

HR. Bukhari No. 14

Bagaimana Para Ulama Memaknai Hadis Ini?

Setelah Imam al-Bukhari menjelaskan tentang cinta seorang Muslim kepada sesama Muslim dengan kadar yang seimbang, beliau kemudian menyampaikan sebuah hadis mengenai cinta kepada penghulu para nabi dan rasul, Nabi Muhammad saw. Beliau digelari sirajan munīrā (pelita yang menerangi), yang menunjukkan jalan kebenaran dan menjauhkan daripada keburukan.

Kadar cinta kepada Nabi Muhammad saw. tidak dapat disamakan dengan cinta kepada manusia lain, bahkan harus melebihi fitrah cinta kepada orang tua, anak, maupun seluruh makhluk di bumi. Hal ini karena mencintai Nabi Muhammad saw. merupakan pokok dari keimanan (Ibnu Rajab, 1992).

Pada hari kiamat, manusia hanya memikirkan dirinya sendiri, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. ‘Abasa ayat 34–36: “Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya.” Bahkan sahabat dekat bisa berubah menjadi musuh, sebagaimana disebutkan dalam Q.S. al-Zukhruf (43):67: “Teman-teman akrab pada hari itu sebagian menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.”

Dalam suasana mencekam itu, satu-satunya yang memikirkan umatnya adalah Nabi Muhammad saw. Beliau diberi izin oleh Allah untuk memberikan syafaat, yakni mengeluarkan umat Islam dari neraka dan memohon agar mereka tidak dimasukkan ke dalamnya. Inilah salah satu alasan mengapa seorang Muslim harus mencintai Nabi Muhammad saw. melebihi cinta kepada makhluk lain.

Suatu ketika, Umar bin Khattab berkata kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu kecuali diriku sendiri.” Nabi menjawab: “Tidak begitu. Demi Zat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, engkau harus lebih mencintaiku daripada dirimu sendiri.” Lalu Umar berkata: “Sekarang engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” (Muhammad Anwar al-Kasymiri, 2005).

Inilah bentuk tarbiyah Nabi kepada sahabatnya. Bahkan ada sahabat yang rela menjadi tameng hidup demi melindungi Nabi dalam Perang Uhud, salah satunya adalah Abu Talhah (Ali al-Shobuni, 2011).

Mengikuti Jejak Nabi saw. dengan Cinta

Keimanan seseorang tercermin dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam kecintaan kepada Rasulullah saw. Hadis di atas menegaskan bahwa cinta kepada Nabi harus melebihi cinta kepada orang tua dan anak. Meski demikian, hubungan orang tua dan anak tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan.

Sayangnya, berbagai kasus menunjukkan adanya anak yang membunuh orang tua atau sebaliknya, yang mencerminkan kurangnya pemahaman agama dan teladan akhlak Nabi Muhammad saw. Padahal, anak adalah aset berharga yang dapat mendoakan orang tuanya setelah wafat. Relasi kasih sayang ini merupakan fondasi kemanusiaan sejak Nabi Adam a.s.

Bukti cinta kepada Rasulullah saw. melebihi cinta kepada orang tua dan anak tampak dalam pengamalan ajaran beliau melalui al-Qur’an dan hadis. Ketaatan kepada Rasulullah saw. menjadi kunci agar orang tua mampu mendidik anak-anaknya dengan baik.

Banyak hadis Nabi yang dijadikan pedoman, seperti memilih pasangan hidup, mendidik anak, hingga menjalani fase kehidupan dari pernikahan, kelahiran, masa remaja, dewasa, hingga kematian. Semua itu tidak terlepas dari spirit kecintaan kepada Rasulullah saw. Salah satu wujud cinta adalah memperbanyak shalawat, yang menghadirkan semangat ajaran beliau dalam kehidupan.

Kecintaan berikutnya adalah cinta kepada sesama manusia. Hal ini terwujud dalam kebersamaan membangun bangsa, seperti dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang terdiri dari beragam suku, bahasa, agama, dan ras.

Cinta kepada sesama harus berlandaskan cinta kepada Rasulullah saw., sehingga Islam benar-benar menjadi rahmatan lil-‘ālamīn. Bukti cinta ini adalah mencintai seluruh manusia tanpa memandang asal-usul atau agamanya. Relasi kemanusiaan ini sejalan dengan misi diplomasi Rasulullah saw. kepada Kaisar Romawi dan kerajaan-kerajaan lainnya.

Baca juga: Bahasa Diplomasi Nabi Muhammad saw. dalam Media Surat

Cinta Nabi saw. sebagai Rahmat Kehidupan

Hadis tentang tanda keimanan menegaskan bahwa seorang Muslim harus lebih mencintai Rasulullah saw. daripada orang tua, anak, dan manusia lainnya. Implementasi cinta ini tampak dalam pengamalan ajaran beliau dalam kehidupan sehari-hari.

Orang tua mencintai anaknya dengan sepenuh hati; anak mencintai orang tuanya; dan sesama manusia saling mengasihi. Dengan komunikasi dan pemahaman yang sama, tujuan persatuan dan kedamaian dapat terwujud. Inilah bentuk penyebaran Islam yang damai, sejuk, dan menjadi rahmatan lil-‘ālamīn.

 21 total views,  6 views today

Posted in Kajian.