NGAJI HADIS SAHIH BUKHARI #12

Jalan Menuju Iman dan Perdamaian

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ شُعْبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَنْ حُسَيْنٍ الْمُعَلِّمِ قَالَ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Telah menceritakan kepada kami Musaddad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya, dari Syu’bah, dari Qatadah, dari Anas, dari Nabi ﷺ. -Diriwayatkan dari jalur lain- Dan dari Husain al-Mu’alim, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Qatadah, dari Anas, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Tidaklah (sempurna) keimanan seseorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya sebagaimana ia mencintai untuk dirinya sendiri.”

HR. Bukhari No. 12

Bagaimana Para Ulama Memaknai Hadis Ini?

Manusia dan kemanusiaan adalah dua hal yang berbeda, meskipun pada hakikatnya saling berkaitan. Seorang manusia baru layak disebut manusia apabila ia memiliki sifat kemanusiaan. Jika sifat itu hilang, maka sebutan “manusia” tidak lagi pantas disandang.

Salah satu ciri manusia yang berjiwa kemanusiaan adalah mencintai sesama sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Inilah makna dari sabda Nabi Muhammad ﷺ: “Kalian tidak akan masuk surga hingga beriman, dan tidaklah kalian beriman hingga saling mencintai” (HR. Muslim; Ibnu Rajab, 1992).

Lalu, apa makna cinta menurut para ulama? Imam Nawawi, seorang ulama besar dalam bidang fikih dan hadis dari mazhab Syafi’i, menjelaskan bahwa cinta adalah kecenderungan terhadap sesuatu yang diinginkan (Ibnu Hajar al-‘Asqalani, 2005).

Kecenderungan itu bisa muncul dari perbuatan, dari hal-hal yang ditangkap pancaindra, maupun dari logika dan nalar, sehingga menumbuhkan keinginan. Bagi seorang mukmin, cinta terbesar kepada sesama mukmin adalah harapan agar mereka memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat serta dijauhkan dari api neraka.

Bagaimana dengan cinta seorang Muslim kepada saudaranya yang non-Muslim? Jawabannya sederhana: mengharapkan agar ia mendapat hidayah dan masuk Islam. Seorang muslim dianjurkan mendoakan kebaikan bagi mereka, sebagaimana doa Nabi Muhammad ﷺ kepada kaum Quraisy: “Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kaumku, sesungguhnya mereka kaum yang tidak memahami.”

Namun, jika mereka menolak hidayah, kita tetap menunjukkan cinta dalam bentuk kebaikan, sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam Musnad Ahmad: “Keutamaan iman adalah engkau mencintai manusia sebagaimana engkau mencintai dirimu, dan engkau membenci sesuatu sebagaimana mereka juga membenci perkara tersebut” (Hamzah Muhammad Qasim, 1990).

Islam, Kemanusiaan, dan Tantangan Intoleransi

Tanda-tanda keimanan sangat banyak. Salah satunya, sebagaimana hadis di atas, adalah mencintai sesama Muslim seperti mencintai diri sendiri. Namun, penerapan hadis ini dalam kehidupan sehari-hari tidaklah mudah.

Di masyarakat, meskipun sama-sama beragama Islam, masih sering terjadi gesekan akibat intoleransi. Hal ini diperparah oleh beragam tradisi dan organisasi yang diikuti umat Islam di Indonesia, sehingga kepedulian terhadap sesama sering kali kurang.

Kasus intoleransi bahkan muncul di daerah yang dikenal toleran, seperti Yogyakarta. Contohnya adalah perusakan rumah ibadah, penghentian prosesi sedekah laut di Pantai Srandakan, larangan bagi non-Muslim untuk tinggal di kos tertentu, serta edaran wajib jilbab bagi siswa SMA.

Baca juga: Di Bawah Ancaman Intoleransi

Semua bentuk intoleransi ini merusak kebersamaan dalam kehidupan. Padahal, Tuhan menciptakan manusia dengan beragam identitas agar saling menghormati. Gesekan sosial tidak akan muncul jika semangat kemanusiaan dikedepankan, bukan sekadar perbedaan keyakinan.

Hadis di atas tidak secara eksplisit membatasi cinta hanya kepada sesama Muslim. Hal ini menunjukkan bahwa dimensi kemanusiaan yang dibangun Rasulullah ﷺ sangat penting untuk menciptakan kebersamaan dan perdamaian. Islam adalah agama damai, bukan agama yang penuh amarah.

Bahkan dalam dakwah sekalipun, Islam menekankan kelembutan dan hikmah. Karena itu, kasus intoleransi seharusnya tidak relevan lagi jika semangat hadis ini dijadikan pedoman dalam berhubungan dengan sesama manusia, baik seagama maupun berbeda agama.

Islam sebagai Spirit Kemanusiaan dan Perdamaian

Islam yang baik ditunjukkan melalui kebaikan kepada sesama manusia, baik sesama Muslim maupun sesama anak Adam. Hal ini menegaskan bahwa seorang Muslim harus mampu hidup berdampingan dengan beragam karakter dan identitas. Keberagaman adalah fitrah manusia, dan Islam mengajarkan persaudaraan untuk menjaga perdamaian serta kenyamanan hidup bersama.

Islam tidak pernah mengajarkan kerusakan. Karena itu, seorang Muslim sejati adalah yang berbuat baik kepada sesama, baik saudara kandung maupun sesama umat manusia, demi terciptanya kedamaian sejati dan kehidupan yang bermartabat.

 15 total views,  13 views today

Posted in Kajian.